| dc.description.abstract | Kualitas bibit merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya kelapa sawit, sedangkan proses pembibitan yang relatif panjang memerlukan inovasi teknologi untuk mempercepat pertumbuhan bibit tanpa menurunkan kualitas morfologi dan fisiologinya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons morfofisiologi bibit kelapa sawit terhadap modifikasi lingkungan tumbuh melalui suplementasi cahaya LED dan pengaturan tinggi muka air, serta manipulasi sistem perakaran melalui pemangkasan akar dan aplikasi Indole-3-Butyric Acid (IBA). Penelitian terdiri atas dua percobaan, yaitu percobaan pertama pada fase pre-nursery menggunakan rancangan acak kelompok petak terbagi dengan faktor utama durasi suplementasi cahaya LED merah–biru (0, 3, 6, dan 9 jam) dan anak petak tinggi muka air (0 dan 10 cm), serta percobaan kedua pada fase main nursery menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan faktor pemangkasan akar (0 dan 2 cm) dan aplikasi IBA (0 dan 100 ppm). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, karakteristik sistem perakaran, biomassa tanaman, rasio akar, kandungan hara daun, dan beberapa parameter fisiologi tanaman, sedangkan data dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi cahaya LED dan pengaturan tinggi muka air memengaruhi respons pertumbuhan dan morfofisiologi bibit kelapa sawit, dengan kombinasi LED 3 jam dan tinggi muka air 10 cm memberikan respons terbaik terhadap pertumbuhan vegetatif dan perkembangan sistem perakaran. Pemangkasan akar meningkatkan regenerasi sistem perakaran dan mendukung pertumbuhan bibit kelapa sawit melalui peningkatan pembentukan akar sekunder, panjang akar, biomassa akar, rasio akar, dan kandungan fosfor daun, sedangkan aplikasi IBA 100 ppm tidak meningkatkan regenerasi akar dan cenderung menurunkan pertumbuhan vegetatif serta perkembangan sistem perakaran. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa percepatan pertumbuhan bibit kelapa sawit dapat dicapai melalui pengelolaan terpadu antara modifikasi lingkungan tumbuh dan manipulasi sistem perakaran, sehingga memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan teknologi pembibitan yang lebih efisien untuk menghasilkan bibit berkualitas tinggi dan siap tanam dalam waktu yang lebih singkat. | |