| dc.description.abstract | Peningkatan produksi padi belum tentu diikuti oleh peningkatan kesejahteraan petani karena manfaat ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan petani dalam mengelola dan memasarkan hasil panennya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat komersialisasi gabah petani pada usahatani padi aromatik dan padi non-aromatik serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya.
Penelitian dilakukan pada petani padi aromatik di Kabupaten Cianjur dan petani padi non-aromatik di Kabupaten Karawang menggunakan pendekatan kuantitatif. Analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif, Household Commercialization Index (HCI) untuk mengukur tingkat komersialisasi gabah petani berdasarkan proporsi nilai produksi gabah yang dipasarkan terhadap total nilai produksi gabah yang dihasilkan rumah tangga petani, serta regresi linear berganda untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat komersialisasi gabah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani padi aromatik memiliki tingkat komersialisasi gabah yang lebih tinggi dibandingkan petani padi non-aromatik. Rata-rata nilai HCI petani padi aromatik sebesar 83,11%, sedangkan petani padi non-aromatik sebesar 78,93%, yang menunjukkan bahwa kedua kelompok petani memiliki orientasi pasar yang sangat tinggi. Tingkat komersialisasi gabah yang lebih tinggi pada petani padi aromatik dipengaruhi oleh karakteristik komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sehingga sebagian besar hasil panennya dipasarkan. Sebaliknya, petani padi non-aromatik masih mengalokasikan sebagian hasil panennya untuk konsumsi rumah tangga, benih, pembayaran tenaga kerja melalui sistem bawon, dan kebutuhan sosial.
Hasil regresi menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat komersialisasi gabah pada petani padi aromatik. Pada petani padi non-aromatik, luas lahan berpengaruh negatif dan signifikan, sedangkan produktivitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat komersialisasi gabah. Sebaliknya, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, dan status kepemilikan lahan tidak berpengaruh signifikan pada kedua kelompok petani.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat komersialisasi gabah dipengaruhi oleh karakteristik komoditas, pola pengelolaan hasil panen, dan karakteristik usahatani. Oleh karena itu, peningkatan tingkat komersialisasi gabah perlu didukung melalui peningkatan produktivitas, penguatan pengelolaan pascapanen, pengembangan akses pasar, penyediaan informasi harga, dan penguatan kelembagaan pemasaran untuk meningkatkan daya saing serta kesejahteraan petani. | |