| dc.description.abstract | Kabupaten Wakatobi merupakan wilayah kepulauan kecil yang distribusi pangannya sangat bergantung pada transportasi laut. Keterpisahan antarpulau, jarak dari pusat pasokan, keterbatasan layanan transportasi, dan tahapan penanganan meningkatkan keterpaparan rantai pasok terhadap keterlambatan, kerusakan produk, ketidakstabilan suhu, serta gangguan aliran komoditas. Penelitian ini bertujuan memetakan simpul dan rute rantai pasok, mengestimasi kebutuhan pangan dan potensi nilai ekonomi terdampak, memprioritaskan risiko, serta menentukan tindakan mitigasi.
Pendekatan studi kasus diterapkan pada beras, gula pasir putih, telur ayam ras, daging ayam ras, dan ikan segar. Data diperoleh melalui wawancara, kuesioner, observasi lapangan, serta dokumen resmi. Simpul dan rute dianalisis secara deskriptif. Kebutuhan pangan dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan konsumsi per kapita. Analisis risiko menggunakan Failure Mode and Effects Analysis dan House of Risk, sedangkan nilai ekonomi terdampak dihitung untuk skenario gangguan satu, tiga, dan tujuh hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wangi-Wangi berfungsi sebagai simpul utama penerimaan, konsolidasi, dan distribusi lanjutan. Beras, gula pasir putih, telur ayam ras, dan daging ayam ras sebagian besar dipasok dari luar Wakatobi, sedangkan ikan segar terutama berasal dari produksi lokal. Kebutuhan tahun 2025 mencapai 11.471,59 ton beras, 1.001,60 ton gula, 9.483.430 butir telur, 62,05 ton daging ayam, dan 8.163,96 ton ikan.
Risiko beras dan gula terutama berkaitan dengan layanan kapal, sarana angkut, perencanaan pasokan, serta perlindungan dari air dan kelembapan. Risiko telur didominasi kerusakan fisik selama penumpukan dan bongkar muat. Risiko daging ayam berkaitan dengan ketidakstabilan suhu, sedangkan risiko ikan mencakup verifikasi cuaca, ketersediaan es, pemantauan suhu, dan dokumentasi mutu.
Potensi nilai ekonomi terdampak mencapai Rp972,55 juta pada gangguan satu hari, Rp2,92 miliar pada gangguan tiga hari, dan Rp6,81 miliar pada gangguan tujuh hari. Beras memiliki nilai terdampak terbesar, diikuti ikan segar. Nilai tersebut merupakan eksposur ekonomi bruto, bukan kerugian aktual, karena persediaan, kerusakan produk, kehilangan penjualan, pengalihan rute, dan biaya tambahan tidak diperhitungkan.
Tindakan mitigasi prioritas meliputi penguatan komitmen pemasok, koordinasi jadwal kapal, standardisasi penanganan, penggunaan wadah berinsulasi dan media pendingin, verifikasi cuaca, kepastian pasokan es, serta perbaikan dokumentasi mutu. | |