Rancangan Model Bisnis Hibrid Microgrid dan Solar Home System (SHS) Off-grid dengan Panel Photovoltaic (PV) (Studi Kasus Delta Mahakam)
Date
2026Jenis/Type
DisertasiSubtype
DissertationsAuthor
Santosa, Erwin
Karlinasari, Lina
Hartulistiyoso, Edy
Pertiwi, Setyo
Metadata
Show full item recordAbstract
Delta Mahakam terletak di Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Secara geografis, wilayah ini berada di pesisir timur Pulau Kalimantan namun terpisah dari daratan utama. Kondisi tersebut menyebabkan tidak adanya jaringan listrik (off grid), sehingga masyarakat di wilayah ini tidak memiliki akses terhadap pasokan listrik. Di area studi, upaya pemanfaatan energi surya telah dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupa pemasangan unit Solar Home System (SHS) dengan panel photovoltaic (PV) oleh PT Pertamina Hulu Mahakam sejak tahun 2010. Selain itu, kelompok rumah penduduk yang membentuk kampung juga telah dilayani dengan sistem microgrid berbasis teknologi PV yang didanai oleh pemerintah. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan rancangan model bisnis hibrid antara microgrid dan SHS dengan panel PV yang mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakat Delta Mahakam, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.
Penelitian ini disusun secara bertahap dengan mengintegrasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tahap awal dilakukan melalui survei lapangan untuk mengevaluasi kondisi SHS dan indikator kunci dengan metode ReliefF, dilanjutkan dengan analisis Life Cycle Assessment (LCA) guna mengidentifikasi hotspot dampak lingkungan sepanjang daur hidup sistem. Selanjutnya, pemetaan faktor dan aktor kunci dilakukan dengan metode MICMAC dan MACTOR, serta analisis hierarki tujuan menggunakan metode ISM. Hasil dari rangkaian analisis tersebut kemudian disintesiskan ke dalam rancangan model bisnis dengan menggunakan metode Business Model Canvas (BMC) dan SWOT.
Analisis klasifikasi menggunakan metode ReliefF terhadap data primer hasil survei lapangan pada 286 unit SHS dilakukan guna mengidentifikasi tiga atribut utama yang menentukan kondisi SHS, yaitu jenis pendanaan, pemasok, dan jenis baterai, dengan tingkat akurasi antara 0,932 hingga 0,951. Evaluasi dampak lingkungan melalui Life Cycle Assessment (LCA) untuk kategori Global Warming Potential (GWP) dan Natural Resource Depletion (NRD) menunjukkan bahwa titik kritis (hotspot) pada kedua kategori tersebut berada pada fase operasi SHS, yang terutama dipengaruhi oleh jumlah baterai yang digunakan selama masa pakai sistem dan frekuensi penggantian baterai.
Analisis MICMAC mengungkapkan bahwa keahlian teknis dan dampak lingkungan berperan sebagai variabel penentu, sementara reliabilitas sistem, ketepatan perencanaan, dan visi jangka panjang menjadi variabel kunci yang menjadi faktor kunci (key variables) dalam keberlanjutan program SHS. Analisis MACTOR memetakan hubungan antaraktor dan menunjukkan adanya ketidakseimbangan struktural, di mana Perusahaan CSR dan Kepala Desa mendominasi aktor lainnya, sementara BUMDes dan masyarakat tetap berada sebagai aktor dependen tanpa adanya aktor penghubung di antara mereka. Analisis ISM selanjutnya mengidentifikasi keterkaitan hierarki tujuan, dengan akses listrik sebagai tujuan dasar, tata kelola kelembagaan sebagai tujuan penghubung, serta pengelolaan lingkungan dan limbah sebagai tujuan yang bergantung pada capaian tujuan lainnya. Hasil ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil hanya muncul sebagai tujuan akhir, bergantung pada kinerja tujuan di tingkat lebih bawah.
Akhirnya, tinjauan terhadap model bisnis yang ada menunjukkan bahwa model bisnis program SHS dengan pendanaan perusahaan melalui program CSR memang memberikan akses cepat, tetapi menghadapi masalah keberlanjutan jangka panjang akibat tantangan pemeliharaan mandiri oleh masyarakat. Sementara itu, model microgrid pemerintah menawarkan reliabilitas lebih tinggi, namun sangat bergantung pada subsidi dan investasi awal yang besar. Rancangan model hibrid SHS–microgrid yang diusulkan menekankan aktivitas utama berupa pengoperasian dan pemeliharaan unit SHS serta microgrid pada tingkat pemerintah daerah yang lebih luas dibandingkan dengan tingkat desa. Model ini mengintegrasikan sirkularitas komponen baterai dan ekosistem data baterai, sehingga mampu mengatasi kelemahan dari kedua model bisnis yang ada. Model ini memiliki aliran pendapatan yang beragam (melalui aktivitas daur ulang baterai dan langganan data), memperpanjang umur sistem, serta meningkatkan pengelolaan limbah.

