| dc.description.abstract | Geowisata di Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi besar untuk berkembang secara optimal. Dengan dimilikinya wilayah pegunungan dan juga pantai, Kabupaten Kulon Progo memiliki beragam destinasi wisata dengan pesona alam yang indah, khususnya Geowisata. Di sisi lain pengelolaan yang dilakukan belum sepenuhnya berjalan optimal. Hal tersebut menjadi tantangan besar bagi semua lembaga terkait untuk bekerjasama mengelola Geowisata secara berkelanjutan. Obyek wisata di Kabupaten Kulon Progo, dikelola oleh kelompok masyarakat, setempat, yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis merupakan wadah masyarakat bekerjasama untuk mengelola potensi wisata dan meningkatkan perekonomian masyarakat, sehingga potensi wisata daerah menjadi sumber pendapatan, dengan tetap memperhatikan berkelanjutan
Keberhasilan dalam pengelolaan Geowisata dilatarbelakangi oleh peningkatan kompetensi Pokdarwis. Tingkat kompetensi Pokdarwis dalam pengelolaan destinasi wisata dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti karakteristik individu, dukungan kelembagaan, adanya proses pengambilan keputusan adopsi difusi inovasi, dan dukungan modal Geowisata. Adanya keterlibatan Pokdarwis dalam upaya mengelola obyek wisata alam, menjadi pondasi penting yang harus terus dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, penelitian terkait peningkatan kompetensi kemampuan Pokdarwis, penting untuk dilakukan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah (1). Menganalisis Kompetensi Pokdarwis dalam mengelolaan Geowisata di Kabupaten Kulon Progo; (2). Menganalisis faktor- faktor apa saja yang berpengaruh dalam pengelolaan Geowisata berkelanjutan, dan (3). Merumuskan model peningkatan kompetensi Pokdarwis dalam pengelolaan Geowisata berkelanjutan.
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan metode survei, menggunakan kuesioner disertai wawancara dengan responden terpilih dari Pokdarwis yang ditentukan. Terdapat empat variabel independent penelitian (karakteristik individu, dukungan kelembagaan, proses pengambilan Keputusan adopsi difusi, dan modal geowisata), serta dua variabel dependen (Tingkat partisipasi anggota dan keberlanjutan pariwisata). Data primer penelitian dikumpulkan sejak bulan Januari sampai April 2024 di 9 desa pada 7 kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 132 orang, dengan status sebagai pengurus dan anggota Pokdarwis. Sampel diambil dengan cara sensus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui survei menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan penelusuran pustaka. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif yang hasilnya disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan statistik inferensial untuk menganalisis pengaruh antar variabel menggunakan metode PLS dengan aplikasi SmartPLS 3.2.9.
Usia responden untuk penelitian ini, berada pada usia remaja, pertengahan dan masih termasuk dalam kategori usia produktif. Tingkat pendidikan mayoritas responden relatif sedang (menengah), yakni berpendidikan SMA. Intensitas responden mengikuti pelatihan dan seminar, cukup tinggi. Kawasan Geowisata yang menjadi lahan yang dikelola responden, dapat dikatakan sangat luas. Mayoritas responden sudah terlibat dalam kegiatan Pokdarwis, sudah cukup lama, dan rata-rata sebagian besar responden, merupakan masyarakat lokalit. Responden menilai peran tingkat dukungan kelembagaan sebagai bentuk keterlibatan para pemangku kepentingan, sangat tinggi. Sementara itu, responden juga menilai tinggi proses pengambilan keputusan adopsi inovasi yang diterapkan dalam pengelolaan destinasi wisata. Pokdarwis melakukan pembaharuan melalui berbagai program kegiatan wisata, termasuk dalam kategori cukup tinggi.
Partisipasi Pokdarwis berpengaruh secara nyata terhadap pengelolaan Geowisata. Dalam hal ini, semakin tinggi kompetensi yang dimiliki pengurus dan anggota Pokdarwis, semakin tinggi pula tingkat pengelolaan Geowisata yang berkelanjutan. Bentuk partisipasi Pokdarwis berpengaruh nyata terhadap keberlanjutan usaha. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat Pokdarwis, tingkat keberlanjutan usaha melalui keberadaan modal Geowisata dan proses pengambilan keputusan adopsi inovasi semakin tepat. Strategi peningkatkan partisipasi Pokdarwis dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan obyek wisata secara berkelanjutan. Pelatihan pengembangan kemampuan anggota Pokdarwis melalui bimbingan dan kursus keterampilan, penguatan karakteristik individu dengan peningkatan motivasi dalam pengelolaan Geowisata, peningkatan kualifikasi pendidikan formal melalui penyediaan beasiswa, dan optimalisasi dalam membangun jejaring kemitraan dengan Pokdarwis lainnya, dapat menjadi cara yang diterapkan untuk meningkatkan partisipasi anggota Pokdarwis.Tingkat partisipasi responden yang menilai tingginya nilai kerja sama dengan para pemangku kepentingan. Hal tersebut dapat terlihat dengan tingginya persentase yang diberikan pada penilaian kolaborasi terhadap pemerintah di angka 72,73 persen. Sementara pada pihak swasta berada di angka 72,18 persen, media pada nilai 66,67 persen, komunitas di angka 49,24 dan perguruan tinggi di angka 40,15 persen. Penilaian ini dapat mendukung keberlanjutan pengelolaan pariwisata, yang secara tidak langsung berdampak pada terpenuhinya kebutuhan ekonomi, sosial dan lingkungan.
Kombinasi dukungan kelembagaan dan pengambilan keputusan adopsi inovasi menjadi landasan utama terbentuknya partisipasi dalam pengelolaan Geowista. Partisipasi yang dihadirkan oleh Pokdarwis juga berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan Geowisata berkelanjutan. Dengan berbagai hal yang telah diuraikan sebelumnya, langkah lebih lanjut yang dapat dilakukan yakni menghadirkan berbagai peran kelembagaan yang kuat melalui hadirnya dukungan pemasaran digital terhadap manajemen pariwisata, yang nantinya dapat menjadi langkah strategis untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kolaboratif. Hal ini mengindikasikan bahwa partisipasi Pokdarwis merupakan bentuk kemandirian yang dihadirkan dalam upaya membangun kolaborasi dan interaksi sosial. Di samping itu juga, melalui kerja sama yang hadir, Pokdarwis mampu menjaga keseimbangan ekosistem melalui bentuk-bentuk pengelolaan Geowisata, melestarikan warisan budaya lokal dan turut membangun jaringan antar Pokdarwis untuk bersama-sama terlibat dalam pengembangan Geowisata berkelanjutan | |