| dc.contributor.advisor | Boer, Rizaldi | |
| dc.contributor.advisor | Dasanto, Bambang Dwi | |
| dc.contributor.advisor | Nuryanto, Danang Eko | |
| dc.contributor.advisor | Santikayasa, I Putu | |
| dc.contributor.author | Wardhana, Ali | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-15T04:20:52Z | |
| dc.date.available | 2026-08-15T04:20:52Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179351 | |
| dc.description.abstract | Precise Quantitative Precipitation Estimation (QPE) is crucial for mitigating
hydrometeorological disasters, particularly urban flooding in metropolitan areas
such as Surabaya. Rainfall in this region exhibits significant spatial and temporal
variability due to complex tropical convective systems. While C-band dual-
polarization weather radar provides high-resolution observations, its operational
performance is often compromised by severe signal attenuation, ground clutter
contamination, and the inadequacy of conventional empirical radar rainfall
relationships in capturing the nonlinear microphysical characteristics of tropical
precipitation. To overcome these challenges, this study developed an integrated
validation framework for rainfall estimation utilizing C-band dual-polarization
weather radar and Automated Weather Station (AWS) observations. This
framework was further enhanced through Machine Learning (ML) and Deep
Learning (DL) techniques to support operational extreme rainfall early warning in
the Surabaya metropolitan region.
The research methodology was conducted in several stages. Initially, a
systematic literature review was conducted to evaluate the current state of ML and
DL-based rainfall estimation methods. Subsequently, robust physical quality-
control procedures were developed. A novel Bayesian Dual-Polarization Dual-Scan
(DPDS) framework was proposed to mitigate ground clutter contamination by
integrating polarimetric descriptors with temporal coherence information. Signal
attenuation was addressed by comparing phase-based correction techniques,
namely Linear PhiDP and ZPHI methods. Following radar preprocessing, a multi-
sensor data fusion framework was established by synchronizing radar-derived
polarimetric variables with surface meteorological observations from the Advanced
Weather Stations (AWS), including air temperature, relative humidity, atmospheric
pressure, and wind speed. Finally, Random Forest (RF), Extreme Gradient Boosting
(XGBoost), and a one-dimensional Convolutional Neural Network–Long Short-
Term Memory (1D-CNN-LSTM) model were developed and independently
validated during an extreme flood event in East Java from March 14–23, 2026.
The findings reveal that physical quality control serves as an indispensable
prerequisite for radar-based rainfall estimation. Yet, it falls short of achieving
precise quantitative precipitation estimation (QPE) on its own. The proposed DPDS
framework effectively differentiated meteorological echoes from non-
meteorological echoes, thereby significantly mitigating urban clutter contamination
and enhancing radar data reliability. While attenuation correction successfully
recovered reflectivity structures behind intense convective cores, statistical
analyses indicated that selecting phase-based attenuation correction methods had
only a limited impact on final rainfall estimation accuracy. Instead, rainfall
estimation performance was primarily governed by the selection of radar rainfall
relationships. Even the most proficient locally calibrated empirical relationships
consistently underestimated extreme convective rainfall, underscoring the
limitations of fixed parametric formulations in tropical maritime environments.
The transition from empirical approaches to data-driven algorithms
significantly improved rainfall estimation performance. Feature importance
analyses revealed that attenuation-corrected near-surface horizontal reflectivity was
the primary predictor of rainfall intensity. The incorporation of surface
meteorological variables, particularly wind speed, significantly improved
estimation accuracy by resolving below-cloud atmospheric processes such as
evaporation and wind shear. Among the evaluated models, the Random Forest
model integrating radar and meteorological variables exhibited the most robust,
operationally reliable performance during independent validation. This model
achieved the lowest estimation errors (RMSE = 1.20 mm/6-min; MAE = 0.41
mm/6-min), the highest correlation coefficient (CC = 0.58), and the highest
coefficient of determination (R² = 0.32) during the March 2026 flood event.
Furthermore, it consistently produced the highest Critical Success Index (CSI)
across multiple rainfall thresholds, from light to extreme. In contrast, the 1D-CNN-
LSTM architecture demonstrated limited capability in representing the full dynamic
range of extreme tropical rainfall, primarily because its one-dimensional temporal
representation was unable to adequately characterize the spatial morphology and
structural complexity of convective storm systems.
In summary, this study elucidates that reliable tropical rainfall estimation
cannot be achieved solely through empirical radar equations or single-sensor
observations. The integration of dual-polarization weather radar observations with
surface meteorological measurements, employing optimized ML frameworks such
as Random Forest, provides a scalable, accurate, and operationally viable solution
for quantitative precipitation estimation in tropical environments. These findings
advocate a paradigm shift from conventional radar rainfall estimation to integrated,
artificial intelligence-based frameworks for operational hydrometeorological
applications. Consequently, it is recommended that operational meteorological
agencies adopt combined radar-meteorological ML frameworks in conjunction with
standardized 6-minute rainfall intensity thresholds to enhance real-time flash flood
early warning systems. Future research should focus on multidimensional DL
architectures that leverage spatial tensor representations better to capture the
intricate spatial structures of tropical convective precipitation. | |
| dc.description.abstract | Estimasi Curah Hujan Kuantitatif (Quantitative Precipitation
Estimation/QPE) yang Akurat sangat penting untuk mitigasi bencana
hidrometeorologi, khususnya banjir perkotaan di wilayah metropolitan seperti
Surabaya. Curah hujan di wilayah ini menunjukkan variabilitas spasial dan
temporal yang signifikan karena sistem konvektif tropis yang kompleks. Meskipun
radar cuaca dual-polarisasi pita C memberikan pengamatan resolusi tinggi, kinerja
operasionalnya seringkali terganggu oleh pelemahan sinyal, kontaminasi ground
clutter dan ketidakcukupan hubungan curah hujan radar empiris konvensional
dalam menangkap karakteristik mikrofisika nonlinier dari curah hujan tropis. Untuk
mengatasi tantangan ini, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja validasi
terintegrasi untuk estimasi curah hujan menggunakan radar cuaca dual-polarisasi
pita C dan pengamatan Stasiun Cuaca Otomatis (Automated Weather Station/AWS).
Kerangka kerja ini selanjutnya ditingkatkan melalui teknik pembelajaran mesin dan
pembelajaran mendalam untuk mendukung peringatan dini operasional cuaca
ekstrim di wilayah metropolitan Surabaya.
Metodologi penelitian dilakukan dalam beberapa tahap. Awalnya, tinjauan
literatur sistematis dilakukan untuk mengevaluasi kondisi terkini metode estimasi
curah hujan berbasis pembelajaran mesin dan pembelajaran mendalam. Selanjutnya,
prosedur kontrol kualitas fisik yang kuat dikembangkan. Kerangka kerja Bayesian
Dual-Polarization Dual-Scan (DPDS) yang baru diusulkan untuk mengurangi
kontaminasi ground clutter dengan mengintegrasikan deskriptor polarimetrik
dengan informasi koherensi temporal. Atenuasi sinyal diatasi dengan
membandingkan teknik koreksi berbasis fase, yaitu metode Linear PhiDP dan ZPHI.
Setelah pra-pemrosesan radar, kerangka kerja fusi data multi-sensor dibentuk
dengan menyinkronkan variabel polarimetrik yang berasal dari radar dengan
pengamatan meteorologi permukaan dari Stasiun AWS, termasuk suhu udara,
kelembaban relatif, tekanan atmosfer, dan kecepatan angin. Akhirnya, model
Random Forest (RF), Extreme Gradient Boosting (XGBoost), dan 1D-
Convolutional Neural Network–Long digunakan. dikembangkan dan divalidasi
secara independen selama peristiwa banjir ekstrem di Jawa Timur dari tanggal 14–
23 Maret 2026.
Temuan menunjukkan bahwa kontrol kualitas fisik berfungsi sebagai
prasyarat yang sangat diperlukan untuk estimasi curah hujan berbasis radar. Namun,
hal itu sendiri masih kurang untuk mencapai estimasi curah hujan kuantitatif yang
tepat. Kerangka kerja DPDS yang diusulkan secara efektif membedakan gema
meteorologi dari gema non-meteorologi, sehingga secara signifikan mengurangi
kontaminasi kekacauan perkotaan dan meningkatkan keandalan data radar.
Meskipun koreksi atenuasi berhasil memulihkan struktur reflektivitas di belakang
inti konvektif yang intens, analisis statistik menunjukkan bahwa pemilihan metode
koreksi atenuasi berbasis fase hanya memiliki dampak terbatas pada akurasi
estimasi curah hujan akhir. Sebaliknya, kinerja estimasi curah hujan terutama diatur
oleh pemilihan hubungan curah hujan radar Z-R. Bahkan hubungan empiris yang
dikalibrasi secara lokal yang paling mahir secara konsisten meremehkan curah
hujan konvektif ekstrem, menggarisbawahi keterbatasan formulasi parametrik tetap
di lingkungan maritim tropis.
Transisi dari pendekatan empiris ke pendekatan berbasis data Algoritma
secara signifikan meningkatkan kinerja estimasi curah hujan. Analisis feature
importance mengungkapkan bahwa reflektivitas horizontal dekat permukaan yang
dikoreksi adalah prediktor utama intensitas curah hujan. Penggabungan variabel
meteorologi permukaan, khususnya kecepatan angin, secara signifikan
meningkatkan akurasi estimasi dengan menyelesaikan proses atmosfer di bawah
awan seperti penguapan dan wind shear. Di antara model yang dievaluasi, model
RF yang mengintegrasikan radar dan variabel meteorologi menunjukkan kinerja
yang paling kuat dan andal secara operasional selama validasi independen. Model
ini mencapai kesalahan estimasi terendah (RMSE = 1,20 mm/6-menit; MAE = 0,41
mm/6-menit), koefisien korelasi tertinggi (CC = 0,58), dan koefisien determinasi
tertinggi (R² = 0,32) selama peristiwa banjir Maret 2026. Lebih lanjut, model ini
secara konsisten menghasilkan Indeks CSI tertinggi di berbagai ambang batas curah
hujan, dari ringan hingga ekstrem. Sebaliknya, arsitektur 1D-CNN-LSTM
menunjukkan kemampuan terbatas dalam merepresentasikan rentang dinamis
penuh curah hujan tropis ekstrem, terutama karena representasi temporal satu
dimensi tidak mampu menggambarkan morfologi spasial dan kompleksitas
struktural sistem badai konvektif secara memadai.
Penelitian ini menjelaskan bahwa estimasi curah hujan tropis yang andal tidak
dapat dicapai hanya melalui persamaan radar empiris atau pengamatan sensor
tunggal. Integrasi pengamatan radar cuaca polarisasi ganda dengan pengukuran
meteorologi permukaan, menggunakan kerangka kerja pembelajaran mesin yang
dioptimalkan seperti RF memberikan solusi yang terukur, akurat, dan layak secara
operasional untuk estimasi curah hujan kuantitatif di lingkungan tropis. Temuan ini
mendukung pergeseran paradigma dari estimasi curah hujan radar konvensional ke
kerangka kerja berbasis kecerdasan buatan terintegrasi untuk aplikasi
hidrometeorologi operasional. Akibatnya, disarankan agar lembaga meteorologi
operasional mengadopsi kerangka kerja pembelajaran mesin radar-meteorologi
gabungan bersamaan dengan ambang batas intensitas curah hujan 6 menit yang
distandarisasi untuk meningkatkan sistem peringatan dini secara real-time.
Penelitian masa depan harus fokus pada arsitektur pembelajaran mendalam
multidimensi yang memanfaatkan representasi tensor spasial dengan lebih baik
untuk menangkap struktur spasial rumit dari curah hujan konvektif tropis. | |
| dc.description.sponsorship | Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | DEVELOPMENT OF EARLY WARNING FOR EXTREME RAINFALL IN SURABAYA AND ITS SURROUNDINGS USING DUAL-POLARIZATION WEATHER RADAR ENHANCED BY ARTIFICIAL INTELLIGENCE | id |
| dc.title.alternative | Pengembangan Peringatan Dini Curah Hujan Ekstrem di Surabaya dan Sekitarnya melalui Radar Cuaca Dual Polar diperkuat Kecerdasan Buatan | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | Attenuation Correction | id |
| dc.subject.keyword | Dual-polarization | id |
| dc.subject.keyword | Machine Learning | id |
| dc.subject.keyword | Quantitative precipitation estimation | id |
| dc.subject.keyword | Weather radar | id |
| dc.subtype | Dissertations | |