| dc.description.abstract | Jeruk purut (Citrus hystrix) merupakan tanaman aromatik yang banyak dimanfaatkan di Indonesia, terutama bagian daun sebagai bumbu penyegar dan kulit buah sebagai sumber minyak asiri. Jus jeruk purut sendiri jarang dikonsumsi langsung karena rasanya yang sangat asam dan pahit, namun menyimpan senyawa bioaktif yang termasuk ke dalam golongan senyawa terpenoid yang memiliki potensi aktivitas antibakteri, antioksidan, dan antiinflamasi. Komposisi dan konsentrasi metabolit pada jeruk purut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah lokasi geografis tempat tumbuhnya, yang mencakup perbedaan ketinggian, suhu, dan curah hujan.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan profil metabolit volatil dan aktivitas antibakteri minyak asiri kulit serta jus jeruk purut dari dua lokasi tumbuhnya di Indonesia, yaitu Garut (733 mdpl), Jawa Barat dan Batu (869 mdpl), Jawa Timur. Minyak asiri jeruk purut diperoleh melalui hidrodistilasi, sedangkan untuk jusnya dianalisis menggunakan SPME-GC-MS. Aktivitas antibakteri diuji terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan metode difusi cakram, menggunakan amoksisilin sebagai kontrol positif. Profil metabolit digunakan untuk mengelompokan sampel berdasarkan dua lokasi tumbuh tersebut menggunakan principal component analysis (PCA) dan heatmap hierarchical clustering analysis (HCA).
Sebanyak 174 senyawa berhasil dideteksi dengan, 32 di antaranya terdiri atas monoterpena dan seskuiterpena. Model PCA dengan plot skor tiga dimensinya mampu menjelaskan 91,1% keragaman data, dengan pengelompokan yang jelas antara minyak asiri dan jus (PC1=80,8%) serta antara lokasi Garut dan Batu (PC2=7,1%). Minyak asiri Garut didominasi dengan keberadaan senyawa limonena (22,09%), sedangkan minyak asiri Batu didominasi (Z)-isositral (18,53%). Kedua jus didominasi terpinen-4-ol, namun kadarnya berbeda nyata (17,35% di Garut dan 50,65% di Batu). Minyak asiri Garut menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap E. coli (zona hambat 14,79 mm, mendekati amoksisilin 14,33 mm), sedangkan minyak asiri Batu tidak aktif. Aktivitas ini berkaitan dengan tingginya kadar limonena dan ?-terpinena. Hasil ini menunjukkan bahwa lokasi tumbuh memengaruhi profil metabolit dan aktivitas antibakteri jeruk purut. Berdasarkan temuan penelitian, pemetaan geografis budi daya jeruk purut penting untuk mengoptimalkan potensi bioaktivitasnya sebagai bahan baku antibakteri.
Kata kunci: antibakteri, Citrus hystrix, GC-MS, metabolit volatil, metabolomik | |