Show simple item record

dc.contributor.advisorNasrullah, Nizar
dc.contributor.advisorBudiarti, Tati
dc.contributor.authorPadang, Hetta Charvina
dc.date.accessioned2026-08-15T03:50:50Z
dc.date.available2026-08-15T03:50:50Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179318
dc.description.abstractPencemaran udara akibat aktivitas transportasi merupakan salah satu permasalahan lingkungan utama pada kawasan perkotaan, terutama di sepanjang koridor jalan dengan volume kendaraan tinggi. Kendaraan bermotor menghasilkan partikulat melalui emisi gas buang maupun sumber nonknalpot, seperti keausan ban, gesekan rem, abrasi permukaan jalan, dan resuspensi debu. Paparan partikulat, khususnya PM2.5 dan PM10, berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan manusia serta menurunkan kualitas lingkungan di sekitar koridor jalan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pengendalian pencemaran udara melalui penataan lingkungan jalan. Jalur hijau merupakan salah satu elemen lanskap yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya mitigasi polutan partikulat melalui keberadaan vegetasi di sepanjang koridor jalan. Kemampuan vegetasi dalam menjalankan fungsi tersebut berkaitan dengan struktur tajuk, indeks luas daun, kemampuan jerapan daun, kondisi tapak, dan faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis sebaran konsentrasi PM2.5 dan PM10 beserta faktor yang berkaitan dengannya, menganalisis kapasitas jerapan partikulat daun bungur (Lagerstroemia speciosa), gmelina (Gmelina arborea), dan tanjung (Mimusops elengi), membandingkan efektivitas ketiga plot bervegetasi terhadap plot kontrol, serta menyusun rekomendasi penataan jalur hijau Jalan Tol Jagorawi. Penelitian dilakukan pada empat plot di ruas Jalan Tol Jagorawi km 10+400–12+800 arah Bogor. Plot penelitian terdiri atas tiga jalur hijau yang masing-masing didominasi bungur, gmelina, dan tanjung serta satu plot kontrol tanpa tajuk pohon. Pengukuran dilaksanakan selama tiga hari pada periode pagi, siang, dan sore di titik 0, 10, dan 30 m. Konsentrasi PM2.5 dan PM10 diukur menggunakan alat digital Dienmern DM-72B yang telah disetarakan terhadap Low Volume Air Sampler. Variabel pendukung meliputi suhu udara, kelembapan relatif, kecepatan dan arah angin, volume kendaraan, indeks luas daun, karakter struktur tajuk, dan kapasitas jerapan partikulat daun. Data konsentrasi partikulat dianalisis menggunakan Linear Mixed Model untuk mengakomodasi pengukuran berulang berdasarkan plot, hari, waktu, dan jarak. Perbandingan antarplot dilakukan berdasarkan estimasi rerata marginal dan perbandingan berpasangan dengan penyesuaian Sidak. Hubungan faktor lingkungan dengan konsentrasi partikulat dianalisis menggunakan regresi linear sederhana, sedangkan efektivitas jalur hijau dihitung dengan membandingkan konsentrasi pada plot bervegetasi terhadap plot kontrol pada jarak yang sama. Hasil analisis menunjukkan bahwa plot dan jarak pengukuran berpengaruh nyata terhadap konsentrasi PM2.5 dan PM10. Interaksi antara plot dan jarak juga berpengaruh nyata terhadap PM10, sedangkan hari dan waktu pengukuran tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Rerata marginal tertinggi terdapat pada Plot Kontrol, yaitu 34,79 µg/m³ untuk PM2.5 dan 47,49 µg/m³ untuk PM10. Konsentrasi terendah ditemukan pada Plot Tanjung, yaitu 21,93 µg/m³ untuk PM2.5 dan 30,41 µg/m³ untuk PM10. Volume kendaraan memiliki hubungan paling kuat dengan peningkatan konsentrasi partikulat, sedangkan hubungan suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan jarak secara individual relatif lebih rendah. Keberadaan jalur hijau menurunkan konsentrasi PM2.5 rata-rata sebesar 30,82% dan PM10 sebesar 29,23% dibandingkan plot kontrol. Plot Tanjung menunjukkan efektivitas tertinggi dengan penurunan PM2.5 sebesar 36,93% dan PM10 sebesar 34,48%, diikuti Plot Gmelina sebesar 31,69% dan 31,32%, serta Plot Bungur sebesar 23,85% dan 21,90%. Daun tanjung memiliki kapasitas jerapan tertinggi sebesar 0,201 mg/cm² dan indeks luas daun tertinggi sebesar 2,1639. Hasil tersebut menunjukkan bahwa efektivitas jalur hijau didukung oleh kombinasi kapasitas jerapan daun, luas permukaan tajuk, kerapatan dan kontinuitas kanopi, susunan vegetasi, serta kondisi tapak. Perbedaan efektivitas antarplot tidak dapat dikaitkan hanya dengan jenis tanaman karena setiap jenis diwakili oleh satu plot dengan kondisi topografi, vegetasi pendamping, struktur penanaman, dan iklim mikro yang berbeda. Hasil penelitian lebih tepat menunjukkan bahwa plot yang didominasi tanjung memiliki kombinasi karakter vegetasi paling mendukung dalam menurunkan konsentrasi partikulat, sedangkan Plot Bungur memerlukan penguatan kontinuitas tajuk dan penambahan vegetasi lapisan bawah. Penataan jalur hijau Jalan Tol Jagorawi diarahkan pada pola vegetasi bertingkat yang memadukan pohon, perdu, dan semak sebagai zona penyangga. Tanjung dapat diprioritaskan sebagai pohon utama pada zona filtrasi, gmelina sebagai lapisan tambahan, dan bungur sebagai penguat fungsi ekologis sekaligus estetika. Penerapannya perlu memperhatikan arah angin dominan, porositas vegetasi, ruang tumbuh, drainase, visibilitas, keselamatan pengguna jalan, dan kebutuhan pemeliharaan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Efektivitas Jalur Hijau pada Jalan Tol Jagorawi dalam Mengurangi Sebaran Polutan PM2.5 dan PM10id
dc.title.alternativeAnalysis of the Effectiveness of Roadside greenbelt on Jagorawi Toll Road in Reducing the Distribution of PM2.5 And PM10 Pollutants.
dc.typeTesis
dc.subject.keywordjalur hijau jalanid
dc.subject.keywordjerapan partikulatid
dc.subject.keywordPM2.5id
dc.subject.keywordPM10id
dc.subject.keywordvegetasiid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record