Analisis Simpanan Karbon pada Tanah, Biomassa Vegetasi, dan Arthropoda di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Puspadewi, Cindikia Annisa
Haneda, Noor Farikhah
Kusmana, Cecep
Metadata
Show full item recordAbstract
Peningkatan emisi gas rumah kaca menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim. Dalam upaya mitigasi, ekosistem mangrove memiliki peran penting karena mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar, baik pada vegetasi maupun tanah. Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK) merupakan salah satu kawasan mangrove perkotaan di Jakarta yang masih memiliki fungsi konservasi, tetapi berada di tengah tekanan aktivitas manusia. Kondisi tersebut menyebabkan struktur vegetasi di dalam kawasan menjadi beragam. Selain vegetasi dan tanah, arthropoda juga merupakan bagian dari ekosistem yang berperan dalam proses dekomposisi dan aliran energi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi simpanan karbon pada vegetasi, tanah, dan arthropoda pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi di HLAK, serta melihat keterkaitannya dengan kondisi lingkungan dan struktur komunitas arthropoda.
Penelitian dilakukan dengan membagi vegetasi mangrove berdasarkan tingkat kerapatan menjadi tiga kelas, yaitu jarang, sedang, dan lebat. Kerapatan vegetasi ditentukan menggunakan pendekatan spasial berdasarkan indeks vegetasi. Pengamatan vegetasi dilakukan pada 25 petak, sedangkan pengambilan contoh tanah dan arthropoda dilakukan pada 6 petak yang mewakili ketiga kelas kerapatan. Contoh tanah diambil pada kedalaman 0–30 cm untuk mengetahui berat isi dan kandungan karbon organik. Arthropoda dikumpulkan menggunakan yellow-pan trap, light trap, dan penangkapan aktif. Biomassa dan simpanan karbon kemudian dihitung menggunakan persamaan alometrik dan pendekatan hubungan panjang tubuh dengan massa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah merupakan penyimpan karbon terbesar pada seluruh kelas kerapatan vegetasi. Simpanan karbon tanah mencapai 65,52 ton C/ha pada kerapatan jarang, 51,03 ton C/ha pada kerapatan sedang, dan 48,36 ton C/ha pada kerapatan lebat. Sebaliknya, kontribusi karbon dari vegetasi meningkat seiring dengan bertambahnya kerapatan tajuk. Pada kerapatan jarang, karbon vegetasi hanya menyumbang 1,72% dari total simpanan karbon, sedangkan pada kerapatan lebat meningkat menjadi 29,86%, dengan simpanan karbon vegetasi mencapai 20,59 ton C/ha. Tingginya simpanan karbon vegetasi pada kerapatan lebat terutama didukung oleh dominansi Avicennia marina.
Kelimpahan arthropoda juga meningkat seiring dengan bertambahnya kerapatan vegetasi, yaitu dari 236 individu pada kerapatan jarang menjadi 367 individu pada kerapatan sedang dan 683 individu pada kerapatan lebat. Kelompok arthropoda didominasi oleh ordo Diptera. Meskipun jumlah individu meningkat pada vegetasi yang lebih lebat, keanekaragaman arthropoda justru mencapai nilai tertinggi pada kerapatan sedang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kerapatan sedang dapat memberikan kombinasi habitat, sumber daya, dan kondisi lingkungan yang lebih seimbang bagi komunitas arthropoda. Simpanan karbon dalam biomassa arthropoda sendiri sangat kecil, yaitu kurang dari 0,001% dari total simpanan karbon ekosistem. Namun demikian, arthropoda tetap memiliki peran ekologis penting karena terlibat dalam proses dekomposisi, aliran energi, dan dinamika karbon di ekosistem mangrove.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi karbon di HLAK berkaitan erat dengan struktur vegetasi dan kondisi habitat. Tanah menjadi komponen utama penyimpan karbon, sedangkan peningkatan kerapatan vegetasi berperan dalam meningkatkan simpanan karbon pada biomassa vegetasi. Di sisi lain, variasi struktur vegetasi juga memengaruhi komunitas arthropoda. Oleh karena itu, pengelolaan HLAK tidak hanya perlu mempertahankan kerapatan vegetasi yang tinggi, tetapi juga mempertahankan keberagaman struktur habitat agar fungsi penyimpanan karbon dan keanekaragaman hayati dapat berjalan secara bersamaan.
Collections
- MF - Forestry [1609]

