| dc.description.abstract | Periode krisis ekonomi sering kali mempengaruhi harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk saham syariah. Mengamati 11.524 data dari dua indeks saham syariah dan 10 emiten saham syariah selama Januari 2008 sampai dengan Mei 2026, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor eksternal perusahaan terhadap kinerja indeks saham syariah dan emitennya di BEI serta menginterpretasikan dinamika risiko sistematis dan kinerja return saham IDX-MES17 sebagai indikasi pergeseran perilaku investor secara agregat. Penelitian memfokuskan perhatian pada sejumlah variabel faktor eksternal perusahaan, yaitu suku bunga kebijakan BI, laju inflasi, nilai tukar, dan harga minyak dunia, yang dipadukan dengan indeks ketidakpastian kebijakan ekonomi yang direpresentasikan oleh World Uncertainty Index (WUI), Geopolitical Risk Index (GPR), serta Morgan Stanley Capital International (MSCI) ACWI Small Cap. Variabel-variabel tersebut dianalisis terhadap beberapa indeks saham syariah, termasuk Jakarta Islamic Index (JII), Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), dan menilai perbedaan respons pasar syariah terhadap perubahan lingkungan faktor eksternal perusahaan. Menggunakan pendekatan kuantitatif Autoregressive Distributed Lag (ARDL), penelitian ini menguji hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara faktor eksternal perusahaan dan kinerja indeks saham syariah dan saham syariahnya, sekaligus perilaku investor saat terjadi krisis. Basis data sekunder yang digunakan mencakup periode Januari 2008– Mei 2026, sehingga memungkinkan pengamatan lintas beberapa fase krisis utama, seperti krisis global subprime mortgage, krisis fluktuasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi global, dan krisis pandemi COVID-19.
Hasil penelitian menemukan ISSI memiliki stabilitas harga yang lebih tahan terhadap periode krisis ekonomi dibanding JII. Selama periode krisis ekonomi JII lebih sensitif terhadap beberapa faktor eksternal perusahaan antara lain kombinasi BI Rate, kurs rupiah, inflasi, WUI, dan GPR. JII mengalami penurunan terdalam pada saat krisis global subprime mortgage. Di sisi lain, hubungan makroekonomi dengan indeks saham syariah bersifat time-varying dan indeks-specific.
Selain itu, hasil estimasi juga menunjukkan bahwa BI Rate, kurs rupiah, WTI, VIX, dan indeks MSCI memiliki pengaruh yang berbeda pada JII, ISSI, dan IHSG. VIX berpengaruh negatif dan signifikan pada JII dan IHSG. Evaluasi prediksi rekursif menghasilkan MAPE 12,40% untuk JII, 12,07% untuk ISSI, dan 13,51% untuk IHSG pada 2025; untuk Januari–Mei 2026 masing-masing sebesar 14,40%, 15,07%, dan 16,58%. Nilai tersebut menunjukkan akurasi prediksi yang baik, tetapi tidak termasuk kategori sangat akurat. Pada Januari–Mei 2026, penurunan kumulatif IHSG, JII, dan ISSI masing-masing sebesar 26,44%, 31,59%, dan 27,59%.
Sementara itu, pada krisis global subprime mortgage, enam saham memiliki data riil yang memadai, sedangkan BBSI, PTPP, SMBR, dan WEGE belum memiliki data. Dalam model gabungan, PGAS menunjukkan pengaruh positif VIX(-1) sebesar 0,758720 dan pengaruh negatif MSCI ACWI sebesar -2,766829. Pada saham lain tidak terdapat faktor eksternal yang robust pada taraf 5 persen. Model sensitivitas terpisah menunjukkan hubungan positif MSCI ACWI pada ANTM dan TLKM serta hubungan positif MSCI ACWI Small Cap pada ANTM. Perbedaan tersebut menegaskan bahwa koefisien individual model gabungan dipengaruhi korelasi tinggi antara kedua indeks MSCI.
Sementara dampak variabel makroekonomi domestik (BI Rate, inflasi, kurs rupiah, harga minyak dunia), WUI, dan GPR terhadap kinerja saham syariah BUMN pada IDX-MES17 bersifat heterogen antar saham dan berubah-ubah antar periode krisis (stock-specific dan time-varying). Selain itu, pengelompokan saham ke dalam kategori defensif (adjusted beta < 1) dan agresif (adjusted beta = 1) menunjukkan bahwa saham TLKM merupakan satu-satunya saham defensif yang konsisten pada tiga krisis, sementara mayoritas saham lain termasuk kategori agresif. Dengan demikian, investor syariah cenderung melakukan rotasi portofolio ke saham ber-beta tinggi yang dipandang memiliki potensi rebound lebih besar atau saham syariah agresif. | |