Pertumbuhan dan Produksi Genotipe Padi Tinggi dan Pendek pada Budidaya Padi Multikanopi
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
ALHUDA, ANDHIKA BARA
Lubis, Iskandar
Aswidinnoor, Hajrial
Junaedi, Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Sistem budidaya multikanopi merupakan pendekatan budidaya padi yang mengombinasikan genotipe padi tinggi dan pendek untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang tumbuh secara vertikal. Penelitian ini bertujuan menganalisis respons pertumbuhan dan produktivitas genotipe padi tinggi dan pendek pada sistem budidaya multikanopi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru IPB, Dramaga, Bogor, pada Desember 2024 sampai Maret 2025. Genotipe yang digunakan adalah IPB 202-F-1, IPB 201-F-1, IPB 197-E-1, dan IPB 200-F-51. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan satu faktor, yaitu kombinasi sistem budidaya dan galur padi. Sistem budidaya yang diuji meliputi monokultur, multikanopi sisip 1, dan multikanopi sisip 2. Proyeksi produktivitas dihitung berdasarkan jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, bobot 1000 butir, dan populasi tanaman per hektare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons tanaman padi genotipe tinggi lebih kuat dibandingkan tanaman padi genotipe pendek. Pada tanaman genotipe tinggi, kombinasi perlakuan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 6 MST, jumlah anakan 6 MST, umur bunga, lebar daun bendera, jumlah anakan produktif, panjang malai, dan jumlah gabah per malai. Pada tanaman genotipe pendek, kombinasi perlakuan hanya berpengaruh nyata terhadap lebar daun bendera dan jumlah gabah per malai. Parameter fisiologis dan akumulasi biomassa, seperti kehijauan daun, laju fotosintesis, berat kering akar, batang, daun, dan malai, umumnya tidak berbeda nyata antar kombinasi perlakuan. Pada sistem multikanopi, kombinasi IPB 202-F-1 dengan IPB 200-F-51 pada sistem sisip 2 menghasilkan proyeksi produktivitas dan nilai nisbah kesetaraan lahan tertinggi, masing-masing sebesar 7,85 ton ha?¹ dan 1,75. Hasil tersebut diikuti kombinasi IPB 202-F-1 dengan IPB 197-E-1 pada sistem sisip 2 sebesar 7,27 ton ha?¹ dengan nilai nisbah kesetaraan lahan 1,62. Sebaliknya, kombinasi IPB 201-F-1 dengan IPB 200-F-51 pada sistem sisip 2 menghasilkan proyeksi produktivitas terendah sebesar 3,26 ton ha?¹ dan nilai nisbah kesetaraan lahan 0,88. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem sisip 2 lebih prospektif dibandingkan sisip 1, tetapi peningkatan populasi belum tentu meningkatkan potensi hasil apabila kombinasi genotipe tidak sesuai. Secara umum, sistem budidaya multikanopi berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan pemanfaatan ruang tumbuh melalui kombinasi genotipe padi tinggi dan pendek. Namun, keberhasilannya sangat ditentukan oleh kompatibilitas pasangan genotipe, kemampuan tanaman mempertahankan anakan produktif, pembentukan gabah per malai, bobot gabah, serta tingkat kompetisi cahaya, hara, air, dan ruang perakaran. Kombinasi IPB 202-F-1 dengan IPB 200-F-51 sistem sisip 2 merupakan kombinasi multikanopi paling prospektif pada penelitian ini.
Collections
- MF - Agriculture [4154]

