| dc.description.abstract | Beras merupakan komoditas pangan strategis bagi ketahanan pangan dan stabilitas sosial ekonomi. Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu sentra produksi padi di Pulau Sumatera, namun adanya fluktuasi produksi, kesenjangan antara produksi dan konsumsi, serta ketergantungan sebagian pasokan pada perdagangan antardaerah menunjukkan adanya kerentanan yang perlu diuji dari perspektif keberlanjutan. Penelitian ini tidak berangkat dari asumsi bahwa ketersediaan beras di Sumatera Utara tidak berkelanjutan, melainkan bertujuan mengukur status aktualnya dan mengidentifikasi atribut yang paling sensitif terhadap posisi ordinasi keberlanjutan. Penelitian dilaksanakan pada September-Desember 2024. Data yang diolah dalam analisis merupakan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner berskala ordinal 1-3 kepada 15 pakar yang dipilih secara purposif, terdiri atas penyuluh pertanian, akademisi, unsur Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, serta perwakilan organisasi petani. Informasi dari BPS, instansi terkait, dan literatur digunakan hanya sebagai pendukung latar belakang dan konteks wilayah, bukan sebagai input perhitungan RAP-Rice. Sebanyak 40 atribut dianalisis melalui Rapid Appraisal for Rice (RAP-Rice) berbasis Multi-Dimensional Scaling (MDS) pada lima dimensi, yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan. Analisis leverage digunakan untuk mengidentifikasi atribut sensitif, sedangkan analisis Monte Carlo digunakan untuk mengevaluasi kestabilan hasil ordinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan beras di Provinsi Sumatera Utara secara multidimensi berada pada kategori cukup berkelanjutan. Nilai indeks masing-masing dimensi adalah ekonomi 52,91; lingkungan 54,06; teknologi 56,62; sosial 63,69; dan kelembagaan 71,74. Dimensi kelembagaan memperoleh nilai tertinggi secara relatif, sedangkan dimensi ekonomi dan lingkungan berada paling dekat dengan batas bawah kategori cukup berkelanjutan. Nilai S-stress sebesar 0,14 dan R² sebesar 0,94 menunjukkan kecocokan ordinasi yang baik, sedangkan hasil Monte Carlo yang dekat dengan nilai MDS menunjukkan hasil yang relatif stabil. Prioritas perbaikan diarahkan pada stabilitas harga pada sistem perberasan, efisiensi penggunaan faktor produksi, pengelolaan risiko lingkungan, ketepatan pemupukan, akses terhadap sarana produksi, dan penguatan perlindungan risiko/asuransi pertanian. Hasil leverage ditafsirkan sebagai sensitivitas atribut terhadap perubahan posisi ordinasi, bukan sebagai bukti hubungan sebab-akibat. | |