Show simple item record

dc.contributor.advisorAgil, Muhammad
dc.contributor.advisorSetiadi, Dedi Rahmat
dc.contributor.advisorNugraha, R. Taufiq Purna
dc.contributor.authorDewantara, Ahad Putra
dc.date.accessioned2026-08-15T01:05:05Z
dc.date.available2026-08-15T01:05:05Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179139
dc.description.abstractRusa bawean merupakan satwa endemik Pulau Bawean, Jawa Timur dengan status konservasi Critically Endangered. Upaya konservasi spesies ini memerlukan pemahaman fisiologi reproduksi, khususnya reproduksi betina. Monitoring hormon reproduksi secara non-invasif melalui sampel feses merupakan metode yang efektif untuk memahami fisiologi betina tanpa menimbulkan stres pada satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh validasi analitik dan biologis assay Pregnanediol-3-Glukuronida (PdG) dengan antibodi R13904, assay Progesteron (P4) dengan antibodi CL425, dan assay estron terkonjugasi (EC) dengan antibodi R522-2 dalam menganalisis metabolit hormon pada feses rusa bawean betina, serta mengaplikasikan assay yang tervalidasi untuk memonitor perubahan profil metabolit hormon reproduksi selama sinkronisasi estrus. Penelitian dilaksanakan pada September 2024 hingga September 2025 di penangkaran ex-situ Taman Safari Indonesia (TSI) dan Laboratorium Biokimia dan Bioprospeksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Cibinong. Sampel feses segar dikoleksi setiap hari dari rusa betina siklus, betina bunting, dan rusa jantan dewasa, kemudian diekstraksi menggunakan metanol 80%. Validasi analitik dilakukan melalui uji paralelisme antara kurva pengenceran sampel dengan kurva standar hormon, sedangkan validasi biologis dilakukan dengan membandingkan konsentrasi hormon antar kelompok biologis yang berbeda. Assay yang tervalidasi selanjutnya digunakan untuk memonitor profil hormon dan dibandingkan dengan hasil ultrasonografi (USG) ovarium serta pengamatan morfologi organ reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurva standar assay P4-CL425 paralel terhadap kurva pengenceran sampel pada betina siklus (p = 0,474) dan betina bunting (p = 0,322), dengan pengenceran optimal 1:120. Sebaliknya, kit PdG dan EC menunjukkan hasil tidak paralel (p < 0,05), mengindikasikan antibodi pada assay tersebut tidak mampu mendeteksi metabolit hormon target pada feses rusa bawean secara akurat. Validasi biologis menunjukkan konsentrasi hormon P4 pada betina bunting (44,7 ng/g) lebih tinggi dibandingkan dengan betina siklus (24,1 ng/g), yang mencerminkan peningkatan aktivitas luteal selama kebuntingan. Aplikasi assay P4-CL425 pada monitoring sinkronisasi estrus menunjukkan bahwa perubahan profil progesteron feses dapat terdeteksi dengan baik serta berkesesuaian dengan hasil pemeriksaan USG dan perubahan morfologi organ reproduksi, meskipun terdapat perbedaan respon hormonal antar individu. Disimpulkan bahwa assay progesteron (P4) CL425 valid secara analitik dan biologis untuk monitoring status reproduksi rusa bawean betina secara non-invasif melalui sampel feses. Assay ini juga mampu diaplikasikan untuk memonitor perubahan aktivitas luteal selama sinkronisasi estrus dengan hasil yang konsisten terhadap temuan USG ovarium dan perubahan morfologi organ reproduksi.
dc.description.sponsorshipBRIN
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleValidasi Enzyme Immunoassay dan Aplikasinya dalam Monitoring Sinkronisasi Estrus Rusa Bawean (Axis kuhlii) Betina secara Non-Invasifid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordMetabolit hormonid
dc.subject.keywordMonitoring non-invasifid
dc.subject.keywordRusa baweanid
dc.subject.keywordsinkronisasi estrusid
dc.subject.keywordValidasi EIAid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record