| dc.contributor.advisor | Djuita, Nina Ratna | |
| dc.contributor.advisor | Chikmawati, Tatik | |
| dc.contributor.author | Qalbi, Alifa Tsamaratul | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-15T01:04:40Z | |
| dc.date.available | 2026-08-15T01:04:40Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179138 | |
| dc.description.abstract | Kabupaten Bungo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jambi yang memiliki kawasan permukiman transmigrasi dengan masyarakat yang multietnik. Keberadaan masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda dalam satu kawasan, dapat membentuk berbagai macam pengetahuan dan kearifan lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan obat. Komposisi penduduk yang mendiami di tiga kecamatan transmigrasi, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi terdiri atas empat, yaitu suku Jawa, Sunda, Minangkabau, dan Melayu. Masing-masing suku membawa pengetahuan leluhur dari daerah asal ke daerah transmigrasi, yang sering waktu terus berdinamika. Modernisasi, rendahnya ketertarikan generasi muda, dan transmisi pengetahuan secara lisan menyebabkan pengetahuan lokal tumbuhan obat berisiko erosi, yang pada akhirnya akan mengancam keberadaan spesies tumbuhan obat. Dinamika yang terjadi semakin kompleks di daerah transmigrasi yang multietnis karena ruang pertukaran informasi antarsuku menjadi lebih luas. Oleh karena itu, diperlukan dokumentasi secara komprehensif mengenai dinamika pengetahuan lokal tumbuhan obat pada keempat suku di daerah transmigrasi Kabupaten Bungo. Penelitian ini bertujuan (1) menginventarisasi dan menganalisis keanekaragaman tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh keempat suku di daerah transmigrasi Kabupaten Bungo; (2) menganalisis tingkat pengetahuan antarsuku dan antargenerasi serta pengaruh faktor sosiodemografi; (3) menilai spesies penting yang dimanfaatkan; serta (4) menganalisis pola transmisi dan merumuskan strategi pengelolaan berkelanjutan tumbuhan obat di daerah transmigrasi Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.
Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga Oktober 2025 di 19 dusun transmigrasi di tiga kecamatan, yaitu Pelepat Ilir, Pelepat, dan Jujuhan Ilir. Pengumpulan data etnomedisin dilakukan dengan dua metode pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara terbuka dan semi terstruktur, sedangkan kuantitatif dengan mengkonversi hasil wawancara dan dilakukan analisis statistik dan menghitung nilai Use Value (UV), Local User’s Value Index (LUVI), dan Index of Cultural Significance (ICS).
Masyarakat dari empat suku di tiga kecamatan transmigrasi Kabupaten Bungo memanfaatkan tumbuhan obat sebanyak 159 spesies dari 62 famili. Suku Melayu merupakan suku yang paling banyak memanfaatkan tumbuhan obat, yaitu sekitar 105 spesies yang tergolong ke dalam 48 famili, diikuti dengan suku Jawa (95 spesies, 44 famili), Minangkabau (81 spesies, 46 famili), dan Sunda (77 spesies, 39 famili). Masyarakat dari keempat suku cenderung lebih banyak memanfaatkan tumbuhan budidaya (125 spesies) daripada tumbuhan non-budidaya (34 spesies). Famili terbanyak yang dimanfaatkan oleh keempat suku di antaranya Zingiberaceae,diikuti oleh Fabaceae, Asteraceae, Euphorbiaceae, dan Poaceae.
Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun, diikuti buah dan rimpang. Metode persiapan dan pengaplikasian yang paling banyak dipilih adalah dengan cara direbus dan diminum. Tiga kategori gangguan kesehatan dengan jumlah spesies tumbuhan terbanyak yang dimanfaatkan di temukan, di antaranya gangguan pada sistem metabolisme, penyakit umum, dan gangguan pencernaan. Masyarakat memperoleh tumbuhan obat dari enam sumber, yaitu pekarangan, pembelian di pasar, TOGA, kebun, hutan, dan tepi sungai. Pekarangan dan pasar menjadi sumber yang paling banyak untuk memperoleh tumbuhan obat.
Suku Melayu memiliki nilai rata-rata tertinggi, sedangkan nilai rata-rata terendah ditemukan pada suku Sunda. Analisis lanjutan menunjukkan adanya perbedaan nyata kedalaman pengetahuan tumbuhan obat antarsuku dan antargenerasi dalam satu suku yang sama. Berdasarkan uji Jaccard Similarity, suku Jawa dan Minangkabau memiliki tingkat kesamaan pengetahuan yang relatif tinggi. Selain itu, generasi pertama dan kedua di suku Jawa, memiliki tingkat kesamaan pengetahuan jenis tumbuhan obat yang cenderung lebih tinggi yang menunjukkan adanya transmisi pengetahuan lokal yang cukup kuat di antara dua generasi. Tingkat pengetahuan tumbuhan obat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Hasil analisis statistik faktor sosiodemografi, umur dan jenis pekerjaan berkaitan dengan tingkat pengetahuan tumbuhan obat pada masing-masing suku, sementara tingkat pendidikan tidak memengaruhi tingkat pengetahuan tumbuhan obat.
Masyarakat dari keempat suku di tiga kecamatan transmigrasi Kabupaten Bungo, menilai bahwa kunyit (Curcuma longa) merupakan spesies tumbuhan obat yang paling penting. Berdasarkan hasil analisis Use Value (UV), Local User’s Value Index (LUVI), dan Index of Cultural Significance (ICS), kunyit memiliki nilai kepentingan tertinggi pada keempat suku. Nilai UV kunyit tertinggi ditemukan pada suku Jawa (1,217), diikuti suku Minangkabau (1,020), Sunda (1,018), dan Melayu (0,949). Nilai LUVI kunyit tertinggi (7,23%) ditemukan pada suku Sunda, diikuti oleh suku Jawa (6,21%), Melayu (5,6%), dan Minangkabau (4,07%). Sementara itu, nilai ICS kunyit yang paling tinggi ditemukan pada suku Jawa dan Melayu (masing-masing 96), diikuti suku Minangkabau (72), dan suku Sunda.
Sumber perolehan pengetahuan tumbuhan obat pada masyarakat di daerah transmigrasi berasal dari berbagai jalur transmisi, baik secara vertikal maupun horizontal. Sebagian besar transmisi pengetahuan tumbuhan obat terjadi secara vertikal dari orang tua dan keluarga melalui pengamatan dan praktik langsung. Sementara itu, transmisi pengetahuan tumbuhan obat secara horizontal umumnya terjadi melalui interaksi sosial antara individu dari berbagai suku. Banyaknya sumber perolehan pengetahuan, menyebabkan pengetahuan lokal bersifat dinamis dan terus bertransformasi mengikuti perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Tiga strategi konservasi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan pengetahuan dan tumbuhan obat di daerah transmigrasi, di antaranya (1) konservasi tumbuhan berbasis spesies unik dan spesies penting berdasarkan nilai indeks etnobotani, (2) merevitalisasi lahan pribadi berbasis pemanfaatan aktif, dan (3) penguatan transmisi antargenerasi melalui pendidikan formal dan informal. | |
| dc.description.abstract | Bungo Regency is one of the regencies in Jambi Province that contains a transmigration settlement area inhabited by multi-ethnic population. The presence of communities with different cultural backgrounds within the same area can lead to a wide variety of local knowledge and wisdom regarding the use of medicinal plants. The population composition of the three transmigration sub-districts in Bungo Regency, Jambi Province, consists of four ethnic groups: the Javanese, Sundanese, Minangkabau, and Malay. Each ethnic group brought ancestral knowledge from its regions of origin to the transmigration areas, with this knowledge continuing to evolve over time. Modernization, a lack of interest among the younger generation, and the reliance on oral transmission of knowledge have placed local knowledge of medicinal plants at risk of erosion, ultimately threatening the survival of these plant species. These dynamics become increasingly complex in multiethnic transmigration areas, as the scope for interethnic information exchange expands. Therefore, a comprehensive study is needed to address the dynamics of local medicinal plant knowledge among the four ethnic groups in the transmigration areas of Bungo Regency. This study aims to (1) document the diversity of medicinal plants utilized by the four ethnic groups in the resettlement area of Bungo Regency; (2) analyze the levels of knowledge across ethnic groups and generations, as well as the influence of sociodemographic factors; (3) assess the important species being utilized; and (4) analyze patterns of transmission and sustainable management of medicinal plants in the transmigration areas of Bungo Regency, Jambi Province.
The study was conducted from July to October 2025 in 19 transmigration villages across three sub-districts, Pelepat Ilir, Pelepat, and Jujuhan Ilir. Ethnomedicinal data were collected using two approaches: qualitative and quantitative. The qualitative approach involved open-ended and semi-structured interviews, whereas the quantitative approach involved converting the interview results, followed by statistical analyses, and calculating the Use Value (UV), Local User’s Value Index (LUVI), and Index of Cultural Significance (ICS).
Communities from four ethnic groups across three transmigration sub-districts in Bungo Regency utilize 159 medicinal plant species belonging to 62 families. The Malay ethnic group utilizes the most medicinal plants, with comprising approximately 105 species belonging to 48 families, followed by the Javanese (95 species, 44 families), Minangkabau (81 species, 46 families), and Sundanese (77 species, 39 families). Communities from these four ethnic groups tend to utilize cultivated plants (125 species) more frequently than non-cultivated plants (34 species). The most commonly used plant families among the four ethnic groups include Zingiberaceae, Fabaceae, Asteraceae, Euphorbiaceae, and Poaceae.
The most commonly used plant parts are leaves, followed by fruits and rhizomes. The most common methods of preparation and application involve boiling the plants and drinking the resulting decoction. There are three categories of diseases with the highest number of plant species, namely, metabolic disorders, general diseases, and digestive disorders. Communities obtain medicinal plants from six sources: home gardens, market purchases, TOGA, farms, forests, and riverbanks. Home gardens and markets are the most common sources for obtaining medicinal plants.
The average level of medicinal plant knowledge among the Malay ethnic group was the highest, whereas the Sundanese ethnic group recorded the lowest. Further analysis revealed significant differences in knowledge level between ethnic groups and between generations within the same ethnic group. Based on the Jaccard Similarity test, the Javanese and Minangkabau ethnic groups exhibited a relatively high level of similarity. Additionally, the first and second generations within the Javanese ethnic group exhibit a higher degree of similarity in medicinal plant knowledge, indicating a strong transmission of local knowledge between these two generations. The level of knowledge regarding medicinal plants is influenced by various factors, both internal and external. Statistical analysis reveals that sociodemographic factors, age and occupation are related to the knowledge level of medicinal plants within each ethnic group, while educational level does not influence this knowledge.
Communities from the four ethnic groups in the three transmigration subdistricts of Bungo Regency consider turmeric (Curcuma longa) to be the most important medicinal plant species. Based on the results of the Use Value (UV), Local User’s Value Index (LUVI), and Index of Cultural Significance (ICS) analyses, turmeric holds the highest value of importance among the four ethnic groups. The highest UV value for turmeric was found among the Javanese (1,217), followed by the Minangkabau (1,020), Sundanese (1,018), and Malay (0,949). The highest LUVI value for turmeric (7,23%) was found among the Sundanese, followed by the Javanese (6,21%), Malay (5,6%), and Minangkabau (4,07%). Meanwhile, the highest ICS value for turmeric was found in the Javanese and Malay ethnic groups (96 each), followed by the Minangkabau (72), and the Sundanese.
The sources of knowledge about medicinal plants among communities in transmigration areas come from various modes of transmission, both vertical and horizontal. The most of medicinal plant knowledge is transmitted vertically from parents and family members through direct observation and practice. Meanwhile, horizontal transmission of medicinal plant knowledge generally occurs through social interactions among individuals from various ethnic groups. The diversity of knowledge sources makes local knowledge dynamic and continuously evolving in response to social, cultural, and technological changes. Three conservation strategies that can be implemented to preserve knowledge and medicinal plants in transmigration areas: (1) conserving unique and culturally important species identified through ethnobotanical indices, (2) revitalizing private land through active utilization, and (3) strengthening intergenerational transmission through formal and informal education. | |
| dc.description.sponsorship | Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Dinamika Pengetahuan Tumbuhan Obat Antarsuku di Daerah Transmigrasi Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi | id |
| dc.title.alternative | Dynamics of Medicinal Plant Knowledge among Ethnic in the Transmigration Areas of Bungo Regency, Jambi Province | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | etnomedisin | id |
| dc.subject.keyword | heterogenitas budaya | id |
| dc.subject.keyword | keragaman pengetahuan | id |
| dc.subtype | Theses | |