| dc.description.abstract | Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan spesies ikan karang berumur panjang, bertumbuh lambat, bersifat hermafrodit protogini, serta memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Status keterancamannya dipengaruhi oleh eksploitasi selektif, perdagangan, serta degradasi habitat terumbu karang. Di Indonesia Timur, spesies ini menempati bentang laut dengan kondisi oseanografi dan konfigurasi habitat yang sangat heterogen. Meskipun fase larva pelagiknya berpotensi mendukung keterhubungan antarpopulasi, populasi pada habitat yang berbeda dapat memperlihatkan variasi ukuran, kondisi tubuh, dan bentuk yang tidak selalu sejajar dengan pola variasi genetik netral. Ketidakselarasan tersebut menjadi persoalan utama dalam memahami hubungan antara proses fisik laut, kualitas habitat, respons fenotipik, dan struktur genetik populasi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi biologis dan struktur genetik C. undulatus serta keterkaitannya dengan gradien hidro-oseanografi di Raja Ampat, Teluk Cenderawasih, dan Kepulauan Banggai. Secara khusus, penelitian mengevaluasi: (1) struktur ukuran, indikator kondisi tubuh, serta variasi morfometrik dan meristik; (2) identitas molekuler, keragaman, dan diferensiasi genetik berbasis DNA mitokondria COI dan Control Region; (3) asosiasi nonlinier antara karakter biologis dan variabel lingkungan; (4) kesesuaian habitat relatif; dan (5) hubungan relatif antara jarak geografis, perbedaan lingkungan, variasi fenotipik, dan jarak genetik. Seluruh hasil kemudian disintesis menjadi model konseptual konektivitas biofisik sebagai dasar perumusan implikasi konservasi.
Sebanyak 208 individu diperoleh dari Kepulauan Banggai, Raja Ampat, dan Teluk Cenderawasih dengan jumlah sampel yang tidak seimbang antarlokasi. Karena struktur, ukuran dan fase ontogeni juga berbeda, analisis morfologi dan kondisi biologis ditafsirkan dengan mempertimbangkan potensi pengaruh ukuran, jenis kelamin, tekanan penangkapan, dan komposisi sampel. Analisis morfometrik dilakukan setelah koreksi alometrik, dilanjutkan dengan PCA, CVA, dan pengujian perbedaan multivariat. Analisis genetik menggunakan subset 25 individu dengan penanda COI dan Control Region. Mengingat ukuran sampel genetik kecil dan tidak seimbang, hasil molekuler digunakan terutama untuk konfirmasi identitas spesies dan evaluasi indikatif variasi genetik netral, bukan untuk mengestimasi besaran aliran gen kontemporer.
Hasil menunjukkan adanya perbedaan yang jelas pada distribusi ukuran dan komposisi fase seksual. Individu Raja Ampat secara umum berukuran lebih besar, sedangkan sampel Kepulauan Banggai didominasi oleh individu berukuran lebih kecil. Perbedaan tersebut disertai variasi indikator kondisi serta kecenderungan pemisahan morfometrik dan meristik antarlokasi. Setelah koreksi alometrik, sejumlah karakter kepala, bukaan mulut, badan, dan sirip memberikan kontribusi penting terhadap variasi bentuk. Namun, karena lokasi juga berbeda dalam struktur ukuran, komposisi fase ontogeni, dan intensitas pengambilan sampel, variasi fenotipik tidak dapat secara langsung diatribusikan hanya kepada lingkungan.
Analisis DNA mitokondria mengonfirmasi identitas C. undulatus dan menunjukkan variasi genetik intraspesifik yang rendah hingga terbatas pada resolusi penanda yang digunakan. COI memiliki daya pisah rendah untuk struktur populasi halus, sedangkan Control Region memberikan variasi lebih tinggi tetapi tetap dibatasi oleh jumlah sampel yang kecil. Secara keseluruhan, penelitian tidak mendeteksi diferensiasi genetik yang kuat antarlokasi. Pola tersebut konsisten dengan keterhubungan historis atau regional, tetapi tidak dapat dianggap sebagai bukti langsung besarnya aliran gen kontemporer karena keterbatasan marker maternal dan daya uji statistik.
Gradien hidro-oseanografi memperlihatkan perbedaan antarbentang laut. Pemodelan GAM menunjukkan hubungan nonlinier antara beberapa variabel lingkungan dan indikator kondisi atau karakter morfometrik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi biologis berasosiasi dengan kombinasi suhu, salinitas, arus, energi gelombang, batimetri, oksigen terlarut, dan nutrien. Akan tetapi, karena data bersifat observasional, hubungan tersebut ditafsirkan sebagai asosiasi ekologis dan belum membuktikan plastisitas fenotipik atau adaptasi lokal secara kausal.
Pemodelan MaxEnt menghasilkan peta kesesuaian habitat relatif dengan kemampuan diskriminasi model yang sedang hingga baik berdasarkan data uji. Habitat dengan kesesuaian relatif lebih tinggi terutama tersebar di Raja Ampat dan Teluk Cenderawasih, sedangkan Kepulauan Banggai menunjukkan mosaik kesesuaian sedang hingga rendah dengan beberapa kantong habitat sesuai. Output MaxEnt ditafsirkan sebagai indeks kesesuaian relatif terhadap lingkungan latar dan skema sampling, bukan probabilitas absolut keberadaan. Nilai dan peringkat antarlokasi harus diselaraskan dengan output final yang sama pada seluruh bab.
Uji hubungan matriks menunjukkan bahwa perbedaan lingkungan lebih konsisten berkaitan dengan variasi morfometrik dan indikator kondisi dibandingkan dengan jarak geografis. Sebaliknya, jarak genetik mtDNA tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan jarak lingkungan maupun geografis. Dengan demikian, hasil penelitian lebih kuat mendukung adanya diferensiasi fenotipik yang berasosiasi dengan lingkungan daripada “Isolation by Environment” pada struktur genetik. Ketidakselarasan antara variasi fenotipik dan rendahnya sinyal diferensiasi mtDNA dapat dijelaskan oleh kombinasi pengaruh lingkungan selama pertumbuhan, struktur umur dan ukuran, tekanan penangkapan, konektivitas historis, serta keterbatasan resolusi penanda.
Sintesis penelitian menghasilkan model konseptual yang menempatkan dinamika oseanografi sebagai penghubung potensial antarbentang laut, heterogenitas habitat sebagai penyaring ekologis, respons fenotipik sebagai indikator kondisi lokal, dan variasi genetik netral sebagai rekaman proses populasi pada skala waktu yang lebih panjang. Model ini tidak mengestimasi arah atau besaran perpindahan larva secara langsung, tetapi menyediakan kerangka hipotesis yang dapat diuji lebih lanjut dengan pemodelan Lagrangian, penanda genomik, data rekrutmen, dan pemantauan demografi.
Kebaruan penelitian terletak pada integrasi multi-sumber data biologi, morfologi, genetika, oseanografi, dan kesesuaian habitat pada tiga bentang laut penting di Indonesia Timur, serta pada perumusan kerangka konseptual yang menjelaskan ketidakselarasan skala respons fenotipik dan genetik. Kontribusi praktisnya adalah penyediaan dasar untuk memprioritaskan perlindungan habitat berkualitas, memperkuat pengendalian penangkapan berdasarkan ukuran dan fase reproduktif, serta merancang jejaring konservasi yang kelak divalidasi dengan data konektivitas demografis dan genomik.
Kata kunci: Cheilinus undulatus; konektivitas biofisik; diferensiasi fenotipik; genetika bentang laut; gradien hidro-oseanografi; indeks kesesuaian habitat. | |