| dc.description.abstract | Permasalahan kesenjangan pembangunan perdesaan dan perkotaan masih dirasakan disebagian besar wilayah perdesaan Indonesia. Meskipun lebih dari satu dekade Undang-undang desa dan dana desa diimplementasikan, namun sejumlah desa masih menghadapi persoalan kemiskinan, rendahnya kesempatan kerja, layanan pendidikan dan kesehatan yang tidak memadai, keterbatasan infrastruktur, dan degradasi lingkungan. Pembangunan desa merupakan model pembangunan regional berbasis tempat yang inklusif, sehingga kebijakan perencanaan pembangunan bersifat spesifk lokasi sesuai dengan kebutuhan, permasalahan, dan budaya pada masing-masing desa. Namun demikian, karakteristik unik setiap desa seringkali diabaikan dalam proses perencanaan pembangunan perdesaan. Kebijakan pembangunan desa seringkali satu ukuran berlaku sama sehingga pembangunan tidak membawa dampak berarti bagi pengembangan desa. Era digital menjadi peluang sekaligus tantangan bagi desa untuk bertransformasi menjadi lebih cerdas dalam penyelesaian persoalan-persoalan di tingkat desa sehingga dapat mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan. Berlandaskan pada fenomena tersebut, kajian ini menempatkan Kabupaten Kulon Progo sebagai kasus empiris yang menjelaskan transformasi, desa cerdas, dan pembangunan berkelanjutan pada level desa.
Penelitian ini bertujuan menganalisis dan merumuskan secara teoritis dan empiris transformasi perdesaan, desa cerdas, dan pembangunan berkelanjutan pada level desa di Kabupaten Kulon Progo. Adapun tujuan spesifik dari penelitian ini adalah: (1) Menganalisis rural transfromation development selama beberapa periode waktu dan pola sebaran spasial temporalnya; (2) Mengevaluasi kondisi keberlanjutan desa selama beberapa periode waktu; (3) Menganalisis potensi pilar desa cerdas; (4) Menganalisis tipologi desa berdasarkan transformasi perdesaan, potensi pilar cerdas, dan keberlanjutan desa serta menyusun arahan kebijakan yang sesuai dengan karakteristik wilayah di Kabupaten Kulon Progo.
Penelitian ini dilakukan di 88 desa di Kabupaten Kulon Progo dari Mei-Desember 2025. Data sekunder tahun 2014-2024 meliputi demografi, ekonomi, sosial, land use land cover, dan tata ruang dari BPS, Kemendesa, Kemendagri, Kemenhut, Dinas Dukcapil Kabupaten Kulon Progo, dan Dinas Tata Ruang Provinsi D.I Yogyakarta digunakan dalam penelitian ini. Data primer digunakan untuk melengkapi data sekunder dilakukan melalui wawancara kepada 100 responden meliputi kepala desa, sekretaris desa, kepala urusan perencanaan desa, pendamping lokal desa, pendamping desa, koordinator pendamping kabupaten, dan camat. Metode entropi, Rapfish, zero unitariazation, dan spatial clustering digunakan untuk menganalisis transformasi, potensi pilar cerdas, keberlanjutan, dan tipologi desa. Transformasi diukur dengan mempertimbangan lima dimensi meliputi: ekonomi, sosial, populasi, land use land cover, dan ekologi. Kondisi keberlanjutan dievaluasi melalui tiga dimensi meliputi: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sementara itu, potensi pilar desa cerdas diidentifikasi melalui enam pillar cerdas yang meliputi: smart economy, smart community, smart governance, smart living, smart environment, dan smart mobility. Karakteristerik ini digunakan untuk menetapkan tipologi wilayah perdesaan dan menjadi dasar bagi penetapan saran kebijakan perencanaan pembangunan wilayah di tingkat desa yang lebih inklunsif berbasis karakteristik wilayah.
Berdasarkan hasil analisis, transformasi di Kulon Progo mengalami proses involusi meskipun kemudian kembali ke arah evolusi. Social Transformation Development (STD) merupakan kontributor utama transformasi. Terjadi pengaruh spasial antar lokasi dimana wilayah dengan transformasi tinggi mempengaruhi wilayah sekitarnya dan terkonsentrasi di wilayah selatan dengan tingkat kemiskinan tinggi. Begitupula wilayah dengan transformasi tinggi mempengarui wilayah sekitarnya dan terkonsentrasi di wilayah tengah dengan infrastruktur memadai. Wilayah dengan transformasi tinggi tidak menjamin kecepatan transformasi yang tinggi pula. Terjadi peningkatan nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Keberlanjutan lingkungan merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan keberlanjutan ekonomi dan sosial. Delta keberlanjutan pada ketiga dimensi mengalami fluktuasi yang beragam, dimensi lingkungan cenderung mengalami perlambatan yang mengindikasikan adanya persoalan degradasi lingkungan. Sebanyak 52 desa mempunyai potensi pilar cerdas dan 36 desa tidak mempunyai potensi cerdas. Secara spesifik sebanyak 12 desa berpotensi tinggi pada pilar smart economic, 7 desa pada smart community, 11 desa pada smart governance, 18 desa pada smart living, 25 desa pada smart environment, dan 8 desa pada smart mobility.
Terdapat 4 tipologi desa di Kulon Progo yang meliputi: 1) Desa perkembangan terbatas, 2) Desa transisi terbatas, 3) Desa transisi moderat, dan 4) Desa inovasi progresif. Arahan kebijakan pembangunan pada Desa perkembangan terbatas dapat difokuskan pada tata kelola digital, memaksimalkan peran teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar bagi produksi lokal, peningkatan kualitas SDM, pengembangan sistem ketenagalistrikan skala kecil pada daerah terisolir, optimalisasi akses pada kawasan aerotropolis bagi percepatan pengurangan kemiskinan. Desa transisi terbatas dapat berfokus pada pelestarian lingkungan, peningkatan infrastruktur cerdas, adopsi teknologi digital. Desa transisi moderat, dapat difokuskan pada memaksimalkan pemanfaatan digitalisasi ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, reinvest ke bidang sosial untuk pemenuhan layanan kesehatan yang memadai, pengembangan sistem ketenagalistrikan skala kecil pada daerah terisolir. Desa inovasi progresif, dapat berfokus pada pelestarian lingkungan, transfer pengetahuan, kerjasama antar dan inter desa membentuk ekosistem cerdas. Katerbatasan data di tingkat desa pada riset ini, sehingga penelitian selanjutnya dapat melengkapinya dengan indikator lain yang menggambarkan kondisi desa di lokasi riset, menerapkan kerangka kerja ini ke wilayah lain, memasukkan unsur partisipatif untuk memvalidasi indikator-indikator dengan menambah jumlah responden. | |