| dc.contributor.advisor | Faqih, Akhmad | |
| dc.contributor.advisor | Latifah, Arnida Lailatul | |
| dc.contributor.author | Jouhary, Naufal Amir | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-14T08:09:52Z | |
| dc.date.available | 2026-08-14T08:09:52Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179081 | |
| dc.description.abstract | Target global dalam membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5°C
mendorong peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan yang
meningkatkan dominasi variable renewable energy (VRE) seperti angin dan surya.
Namun, karakteristik VRE yang sangat bergantung pada cuaca berisiko
menimbulkan fenomena kekeringan energi majemuk (Dunkelflaute). Di wilayah
kepulauan beriklim monsun tropis seperti Benua Maritim Indonesia, dinamika
sirkulasi lokal sangat kompleks sehingga perencanaan sistem hibrida membutuhkan
data proyeksi beresolusi tinggi. Studi iklim global berskala kasar umumnya
menggeneralisasi Asia Tenggara sebagai wilayah dengan variabilitas energi yang
sinkron atau memiliki potensi komplementaritas yang buruk, sehingga
mengabaikan pengaruh angin lokal akibat efek topografi kepulauan. Penelitian ini
bertujuan memetakan potensi energi surya dan angin, menganalisis karakteristik
spasio-temporal kekeringan energi, serta mengevaluasi tingkat komplementaritas
sistem hibrida surya-angin di Indonesia pada periode historis (1991–2014) dan
proyeksi masa depan (2015–2050).
Simulasi iklim resolusi tinggi dijalankan menggunakan metode dynamical
downscaling dengan model iklim regional Regional Climate Model version 5
(RegCM5) pada resolusi spasial 25 km di wilayah Indonesia. Batas awal simulasi
menggunakan dua Global Climate Model (GCM) dari CMIP6, yaitu EC-Earth3
(mewakili sensitivitas iklim tinggi) dan NorESM2-MM (mewakili sensitivitas iklim
rendah), yang dipilih berdasarkan performa spasio-temporal terbaik terhadap data
reanalisis ERA5. Luaran mentah model dikoreksi biasnya menggunakan metode
Quantile Mapping (QM) untuk periode historis dan Quantile Delta Mapping
(QDM) untuk proyeksi masa depan di bawah empat skenario Shared
Socioeconomic Pathways (SSP1-2.6, SSP2-4.5, SSP3-7.0, dan SSP5-8.5). Potensi
energi angin pada ketinggian 100 meter dan radiasi surya permukaan dikonversi
menjadi Capacity Factor (CF) harian berdasarkan spesifikasi teknis turbin kelas
utilitas Siemens SWT-3.6-130 dan panel surya silikon monokristalin. Karakteristik
kekeringan energi diidentifikasi menggunakan indeks frekuensi (Energy Drought
Frequency/EDF) dan durasi kering maksimal (Energy Drought Duration/EDD).
Tingkat komplementaritas sistem hibrida dievaluasi menggunakan analisis korelasi
Spearman’s Rank Correlation Coefficient (SRCC), Composite Variability Index
(CVI), dan klasterisasi spasial K-Means (k=2) untuk delineasi zona fisis hibrida.
Hasil penelitian menunjukkan kontras spasio-temporal yang ekstrem antara
kedua sumber energi terbarukan di Indonesia. Potensi energi surya terbukti sangat
stabil dengan CF tinggi di hampir seluruh wilayah ekuatorial, sedangkan potensi
angin bersifat sangat fluktuatif karena dikontrol ketat oleh sirkulasi angin Monsun
Asia-Australia, di mana potensi memadai hanya terkonsentrasi secara musiman di
perairan terbuka (seperti Laut Cina Selatan pada musim Desember-Februari serta
Laut Arafura dan perairan selatan Jawa pada Juni-Agustus). Temuan baru
menunjukkan tingkat kerentanan fisis energi angin daratan (onshore) yang sangat
parah, ditandai oleh nilai EDF harian yang tinggi dan EDD maksimum yang
panjang di sebagian besar daratan Indonesia, sehingga pembangkitan angin darat
murni sangat tidak diandalkan. Sebaliknya, potensi sistem hibrida pesisir terbukti
sangat tangguh. Algoritma K-Means berhasil memvalidasi delineasi wilayah
komplementaritas Indonesia menjadi dua kelas secara tegas. Kelas 1
(komplementaritas ideal dengan korelasi negatif kuat dan volatilitas rendah)
terkonsentrasi di wilayah maritim dan bentang pesisir sempit (perairan Bali-Nusra,
Maluku, Sulawesi, Sumatera Utara, dan Pantai Utara Jawa) karena didukung
sirkulasi harian angin darat-laut lokal. Kelas 2 (komplementaritas lemah)
didominasi oleh daratan luas seperti Kalimantan akibat hambatan orografi topografi
daratan serta fenomena sinkronisasi regional ITCZ dan anomali ENSO yang
menurunkan kedua potensi energi secara bersamaan. Temuan mikro-spasial ini
merevisi klaim studi global terdahulu yang menggeneralisasi Indonesia memiliki
komplementaritas buruk akibat bias data spasial berskala kasar.
Sebagai implikasi kebijakan tata ruang kelistrikan nasional, instalasi
pembangkit hibrida angin-surya skala besar sangat direkomendasikan untuk
difokuskan di wilayah maritim Kelas 1 (Bali-Nusra dan Maluku) menggunakan
sistem desentralisasi smart micro-grid guna meminimalkan kehilangan daya
transmisi jarak jauh. Untuk wilayah Kalimantan yang tergolong Kelas 2,
perencanaan bauran energi sebaiknya dialihkan sepenuhnya pada pemanfaatan
panel surya secara tunggal (stand-alone) tanpa memaksakan pembangunan turbin
angin daratan. Lebih lanjut, mengingat adanya risiko volatilitas monsun tropis yang
tersinkronisasi, integrasi sistem hibrida intermiten di pulau padat penduduk (seperti
Jawa dan Sumatera) mutlak membutuhkan dukungan pembangkit beban dasar
rendah karbon yang kebal cuaca (firm capacity), seperti energi panas bumi dan
biomassa skala utilitas, guna menjamin keandalan inersia jaringan listrik nasional. | |
| dc.description.abstract | The global commitment to limit global warming to 1.5°C drives the rapid
deployment of renewable energy capacity, leading to an increased share of variable
renewable energy (VRE) sources such as wind and solar power. However, the
weather-dependent nature of VRE poses a critical risk of compound energy
droughts, also known as Dunkelflaute. In an equatorial monsoonal archipelago like
the Indonesian Maritime Continent, localized circulation dynamics are highly
complex, requiring high-resolution projection models for robust hybrid system
planning. Coarse-scale global climate studies generally categorize Southeast Asia
as a region with synchronous resource variability or poor complementarity, thereby
overlooking the localized wind patterns induced by island topography. This study
aims to map solar and wind energy potentials, analyze the spatiotemporal
characteristics of energy droughts, and evaluate the complementarity of solar-wind
hybrid systems in Indonesia for both the historical period (1991–2014) and future
projections (2015–2050).
High-resolution climate simulations were executed using dynamical
downscaling via the Regional Climate Model version 5 (RegCM5) at a 25-km
spatial resolution over the Indonesian domain. The initial and boundary conditions
were derived from two selected CMIP6 Global Climate Models (GCMs): EC
Earth3 (representing high climate sensitivity) and NorESM2-MM (representing low
climate sensitivity), selected based on their superior spatiotemporal performance
against ERA5 reanalysis data. The raw RegCM5 outputs were bias-corrected using
Quantile Mapping (QM) for the historical period and Quantile Delta Mapping
(QDM) for future projections under four Shared Socioeconomic Pathways (SSP1
2.6, SSP2-4.5, SSP3-7.0, and SSP5-8.5). Wind speeds at a 100-meter hub height
and surface solar radiation were converted into daily Capacity Factors (CF) based
on the technical specifications of a utility-scale Siemens SWT-3.6-130 wind turbine
and a monocrystalline silicon solar panel. Energy drought characteristics were
identified using the Energy Drought Frequency (EDF) and the maksimum
consecutive Energy Drought Duration (EDD) indices. Hybrid complementarity was
quantified using Spearman's Rank Correlation Coefficient (SRCC) and the
Composite Variability Index (CVI), followed by K-Means clustering (k=2) to
delineate potential spatial hybrid zones.
The results reveal an extreme spatiotemporal contrast between the two
renewable resources in Indonesia. Solar energy shows high stability with a high CF
across almost the entire equatorial region, whereas wind energy is highly
fluctuating and tightly controlled by the Asia-Australia Monsoon, with favorable
potentials concentrated seasonally in open waters (such as the South China Sea
during DJF and the Arafura Sea and southern waters of Java during JJA). A key
novelty of this study is the identification of severe physical vulnerabilities for
onshore wind power in Indonesia, as indicated by extremely high EDF and long
maksimum EDD over inland areas, confirming that onshore wind power is highly
unreliable. Conversely, coastal hybrid systems prove to be highly resilient. K
Means clustering successfully validated the delineation of Indonesia's
complementarity into two distinct zones. Class 1 (ideal complementarity with
strong negative correlation and low volatility) is concentrated in maritime areas and
narrow coastal strips (including the waters of Bali-Nusra, Maluku, Sulawesi,
Northern Sumatra, and the Northern Coast of Java), supported by daily land-sea
breeze circulations. Class 2 (weak complementarity) is dominated by large
landmasses, particularly Kalimantan, where land orography and regional sync
triggers like the ITCZ and ENSO weaken both solar and wind resources
simultaneously. These micro-spatial findings fundamentally revise previous global
studies that generalized Indonesia as having poor complementarity due to coarse
scale spatial data bias.
In terms of spatial grid planning implications, it is recommended to prioritize
large-scale wind-solar hybrid installations in Class 1 maritime zones, such as Bali
Nusra and Maluku, using decentralized smart micro-grids to minimize transmission
losses and grid volatility. For Class 2 regions like Kalimantan, bauran energy
planning should shift entirely to stand-alone solar PV systems without onshore wind
turbines. Furthermore, given VRE intermittency and the risk of synchronized
monsoonal fluctuations, the integration of hybrid systems in densely populated
islands (such as Java and Sumatra) remains essential to be supported by weather
independent, low-carbon baseload resources (firm capacity) like utility-scale
geothermal and biomass to ensure national grid stability. | |
| dc.description.sponsorship | Beasiswa Sinergi | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Proyeksi Kekeringan Energi dan Evaluasi Komplementaritas Sistem Hibrida Angin-Surya di Indonesia Menggunakan RegCM5 | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Benua Maritim Indonesia | id |
| dc.subject.keyword | Kekeringan Energi | id |
| dc.subject.keyword | Komplementaritas Hibrida | id |
| dc.subject.keyword | proyeksi iklim | id |
| dc.subject.keyword | RegCM5 | id |
| dc.subtype | Theses | |