| dc.description.abstract | Urbanisasi yang pesat telah membatasi ruang terbuka hijau (RTH) publik di Kabupaten Banyumas menjadi 5,79%, wilayah ini juga menghadapi tingkat distres psikologis yang tinggi, dengan gangguan emosional mencapai 9,14% dan depresi sebesar 6,03%. Pembangunan Taman Kota Wangon dimaksudkan sebagai desain ekologis; akan tetapi, untuk mengatasi kesenjangan ini, integrasi evaluasi psycho-aesthetic sangat penting untuk memastikan keselarasan desain dengan persepsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas lanskap dan respons psycho-aesthetic masyarakat terhadap simulasi desain 3D Taman Kota Wangon, sekaligus menganalisis faktor dominan serta korelasi antarvariabel untuk memberikan dasar bagi pengembangan desain yang sudah ada sebelumnya. Penelitian ini mengintegrasikan metode Scenic Beauty Estimation (SBE) untuk penilaian estetika, Semantic Differential (SD) untuk respons psikologis, dan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor dominan pada persepsi elemen lanskap yang paling berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain Taman Kota Wangon menunjukkan kualitas lanskap berada pada kategori "sedang" (nilai SBE = 5,03) hingga "sangat tinggi" (nilai SBE = 79). Lanskap kategori “sedang” dipersepsikan memiliki kualitas paling rendah karena didominasi elemen buatan dan vegetasi jarang yang memicu kesan gersang serta rasa tidak betah. Sebaliknya, lanskap kategori “sangat tinggi”, di mana ruang dinilai sangat aman, teratur, damai, interaktif, dan menyejukkan. Analisis Biplot PCA menunjukkan konsistensi persepsi responden sangat kuat (F1 = 90,13%), dengan hubungan positif kuat antara lanskap kategori tinggi dan sangat tinggi, tetapi melemah pada kategori sedang. Temuan ini membagi persepsi menjadi tiga kelompok utama, yaitu klaster 1 (kategori tinggi dan sangat tinggi), klaster 2 (kategori sedang), dan klaster 3 (tidak dalam kategori). Berdasarkan hasil analisis korelasi, persepsi lanskap secara umum memiliki hubungan positif dan searah yang signifikan terhadap kualitas lanskap maupun atribut fisik lanskap. Kriteria "Harmoni" menjadi indikator paling dominan di Klaster 1 yang memiliki hubungan paling kuat dan sangat signifikan (taraf 1%) terhadap peningkatan kualitas lanskap (r = 0,821) dan atribut fisik (r = 0,718), diikuti oleh kriteria "Damai". Sebagian besar kriteria lain menunjukkan hubungan signifikan dengan kekuatan sedang hingga kuat pada taraf 5%, yang membuktikan bahwa peningkatan persepsi psikologis ini berbanding lurus dengan peningkatan kualitas dan atribut fisik lanskap. Sebaliknya, kriteria "Sederhana" menjadi satu-satunya indikator yang tidak memiliki hubungan statistik secara signifikan (p = 0,322>0,05), sehingga tinggi rendahnya persepsi kesederhanaan desain taman terbukti tidak memberikan pengaruh nyata terhadap penilaian kualitas lanskap. Rekomendasi mencakup kriteria elemen softscape, hardscape, serta fasilitas dan utilitas untuk menyempurnakan desain Taman Kota Wangon sebelumnya menjadi taman yang adaptif terhadap kenyamanan psikologis pengguna. Integrasi elemen-elemen tersebut untuk menciptakan ruang terbuka hijau yang seimbang secara ekologis sehingga taman tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga secara aktif berkelanjutan dalam menjaga kesejahteraan fisik dan mental masyarakat. | |