| dc.description.abstract | Perubahan iklim dan degradasi lahan telah meningkatkan resiko cekaman abiotik, terutama dari faktor terbatasnya ketersediaan air dan hara. Salah satu unsur hara makro yang berperan untuk produksi tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah kalium. Kekurangan air dan kalium akan mempengaruhi fungsi fisiologis bawang merah dan akhirnya akan mengurangi produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon dua varietas bawang merah, Batu Ijo dan Bima Brebes, terhadap frekuensi irigasi (tiap 1, 3, dan 6 hari), dan level pemupukan kalium (0, 25, 50, dan 100% dosis K rekomendasi) menggunakan rancangan split-split plot.
Perbedaan varietas memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif, karakter fisiologi, dan komponen hasil panen, sedangkan frekuensi irigasi dan level pemupukan kalium tidak memberi pengaruh nyata. Bima Brebes memiliki laju fotosintesis, jumlah daun, jumlah anakan, dan jumlah umbi lebih tinggi. Batu Ijo memiliki fisik lebih tinggi, kandungan pigmen daun lebih banyak, dan umbi yang lebih berat. Hal tersebut mengindikasikan adanya perbedaan strategi pembagian biomassa pada kedua varietas bawang merah. Analisa komponen utama (principal component analysis) menunjukkan bahwa frekuensi irigasi mempengaruhi strategi pemakaian air tanaman dan pertukaran gas daun, namun kurang memberikan perbedaan yang tegas untuk masing-masing kelompok perlakuan. Hasil yang didapatkan ini menandakan bahwa karakter bawang merah yang dipengaruhi variasi genetik berperan lebih besar dalam menentukan respon fisiologis dan performa hasil dibandingkan dengan frekuensi irigasi dan level pemupukan kalium pada kondisi penelitian ini. | |