Peran Stakeholder dan Strategi Kolaboratif dalam Implementasi Fungsi Konservasi di Taman Wisata Alam Angke Kapuk
Date
2026Author
Almuhayar, Muhammad Raihan
Arief, Harnios
Rosyada, Amrina
Metadata
Show full item recordAbstract
TWA Angke Kapuk menghadapi ancaman ekologis berupa banjir rob,
pencemaran sampah, dan penurunan kualitas air yang secara langsung berdampak
pada perekonomian lokal. Meskipun koordinasi antarinstansi telah berjalan dengan
baik, tindakan kolaboratif yang nyata masih diperlukan untuk menguatkan sumber
daya secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi para pemangku
kepentingan, menganalisis bentuk hubungan serta kendala dalam koordinasi, dan
merumuskan strategi kolaboratif untuk pengelolaan kawasan. Data dikumpulkan
melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 65 informan dan dianalisis
menggunakan matriks IFAS-EFAS dan analisis SWOT. Hasil penelitian
menunjukkan adanya hubungan yang sinergis antara BKSDA Jakarta sebagai
regulator dan PT Murindra Karya Lestari sebagai operator utama dalam meredam
konflik kawasan. Analisis SWOT menempatkan kawasan ini pada Kuadran I
aggressive growth. Implikasi penelitian ini menekankan bahwa keberhasilan tata
kelola kolaboratif di kawasan tersebut bergantung pada integrasi program fisik dan
digital melalui poros regulator dan operator. TWA Angke Kapuk faces ecological threats in the form of tidal flooding,
waste pollution, and declining water quality, which directly affect the local
economy. Although interagency coordination has been running well, tangible
collaborative actions are still needed to effectively power resources. This study
aims to identify stakeholders, analyze the forms of relationships and constraints in
coordination, and formulate collaborative strategies for area management. Data
were collected through semi-structured interviews with 65 informants and analyzed
using the IFAS EFAS matrix and SWOT analysis. The results show a synergistic
relationship between BKSDA Jakarta as the regulator and PT Murindra Karya
Lestari as the main operator in mitigating area conflicts. The SWOT analysis places
the area in Quadrant I (aggressive growth). The formulated sustainable priority
strategies include restoring tracking paths, filtering river waste, and developing
educational tour packages with special student rates in collaboration with
Disparekraf DKI Jakarta. The implications of this study emphasize that the success
of collaborative governance in the area depends on the integration of physical and
digital programs through the operator and regulator.

