Analisis Skor Pola Pangan Harapan Konsumsi Rumah Tangga di Provinsi Lampung, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur
Abstract
Keragaman pangan merupakan determinan penting kecukupan gizi rumah tangga. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) nasional sebesar 95,1 pada tahun 2025 dihitung dari data agregat sehingga berpotensi menutupi disparitas mutu konsumsi antar rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis skor PPH konsumsi rumah tangga dan hubungannya dengan tingkat kecukupan gizi (TKG) di Provinsi Lampung, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Desain ini menggunakan studi potong lintang menggunakan data Susenas 2025. Hasil menunjukkan bahwa skor PPH rumah tangga di Lampung (81,83), Sulawesi Barat (71,82), dan NTT (68,50) masih berada di bawah skor nasional, dengan mayoritas rumah tangga tergolong kategori sangat kurang. Vitamin D merupakan zat gizi yang paling banyak defisit, sedangkan kecukupan vitamin A relatif paling baik dibandingkan zat gizi lainnya. Skor PPH berkorelasi positif dan signifikan dengan seluruh indikator TKG (p<0,001), dengan hubungan sangat kuat pada energi, protein, dan zat besi (? = 0,621–0,831), kuat pada kalsium, seng, dan asam folat (? = 0,578–0,718), serta sedang pada vitamin A dan vitamin D (? = 0,403–0,632). Temuan ini menunjukkan bahwa skor PPH mampu merefleksikan kecukupan makronutrien dan sebagian besar mikronutrien, namun kurang sensitif dalam menggambarkan kecukupan vitamin D. Dietary diversity is an important determinant of household nutrient adequacy. The national Desirable Dietary Pattern (DDP) score of 95.1 in 2025 was calculated from aggregate data and may mask disparities in dietary quality across households. This study aimed to analyze household DDP scores and their relationship with nutrient adequacy levels in Lampung, West Sulawesi, and East Nusa Tenggara (NTT) Provinces. A cross-sectional design was employed using data from the 2025 National Socioeconomic Survey (SUSENAS). The results showed that the average household DDP scores in Lampung (81.83), West Sulawesi (71.82), and NTT (68.50) remained below the national score, with the majority of households classified in the very low category. Vitamin D was the nutrient with the highest prevalence of inadequacy, while vitamin A adequacy was relatively better than that of other nutrients. DDP scores were positively and significantly correlated with all nutrient adequacy indicators (p < 0.001), with very strong correlations for energy, protein, and iron (? = 0.621–0.831), strong correlations for calcium, zinc, and folate (? = 0.578–0.718), and moderate correlations for vitamin A and vitamin D (? = 0.403–0.632). These findings indicate that DDP scores are capable of reflecting adequacy of macronutrients and most micronutrients, but are less sensitive in capturing vitamin D adequacy.
Collections
- UF - Nutrition [33]

