Model Pengembangan Ekoagrowisata Talas Beneng (Xanthosoma undipes K.Koch) di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
Date
2026Author
Hermita, Nuniek
Sunkar, Arzyana
Sriharini, Endang Koestati
Suwarto
Metadata
Show full item recordAbstract
Talas beneng (Xanthosoma undipes K. Koch) merupakan tumbuhan asli Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang, yang telah ditetapkan sebagai varietas unggul nasional melalui Kepmentan No. 981/KH.540/C/10/2020. Meskipun memiliki potensi ekonomi dan ekologi yang besar, penelitian mengenai pengembangannya sebagai ekoagrowisata masih terbatas pada kajian parsial yang memisahkan aspek biofisik, sosial budaya, dan wisata, sehingga belum tersedia model integratif yang menghubungkan ketiga subsistem tersebut. Penelitian ini bertujuan membangun model konseptual pengembangan ekoagrowisata talas beneng berdasarkan komponen biofisik, sosial budaya, dan agrowisata di Kabupaten Pandeglang menggunakan pendekatan sistem dinamik Causal Loop Diagram (CLD).
Kajian potensi biofisik dilakukan pada empat lokasi (Gunung Karang, Mandalawangi, Karangtanjung, dan Jiput) dengan lima plot per lokasi, meliputi analisis komponen biologi (flora dan fauna) serta fisik (topografi, tekstur, pH, suhu, kelembapan, dan erodibilitas). Hasil menunjukkan talas beneng beradaptasi pada rentang ketinggian 103–856 mdpl dengan hubungan kuat antara ketinggian tempat dan jumlah individu (R² = 78,5%). Gunung Karang dan Mandalawangi menunjukkan kandungan C-organik tertinggi (1,96% dan 1,8%) didukung kelembapan udara tinggi (84% dan 81%) dan suhu relatif rendah, sedangkan Jiput menunjukkan kandungan bahan organik terendah (C-organik 0,24%) akibat tekstur tanah sangat berpasir (87,42%) dan kelembapan rendah (52%). Habitat talas beneng didukung keanekaragaman hayati yang tinggi, meskipun terdapat keterbatasan berupa pH masam, erodibilitas tinggi, dan rendahnya bahan organik di beberapa lokasi.
Dinamika sosial budaya dianalisis melalui survei terhadap 458 responden (petani, pelaku UMKM, tokoh masyarakat) menggunakan skala Likert lima tingkat, dipadukan dengan wawancara mendalam dan pendekatan Cultural Keystone Species (CKS) melalui skoring enam indikator budaya. Hasil menunjukkan masyarakat memiliki persepsi positif hingga sangat positif terhadap pengembangan ekoagrowisata talas beneng, terutama pada aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi, dengan Karangtanjung sebagai wilayah pemanfaatan tertinggi dan Jiput terendah. Analisis CKS menunjukkan talas beneng belum memiliki nilai budaya yang kuat sebagai simbol identitas maupun unsur tradisi lokal, sehingga penguatan dimensi sosial budaya masih diperlukan untuk melengkapi peran ekonominya yang kuat.
Analisis kelayakan ekoagrowisata dilakukan melalui integrasi Analisis Komponen Utama (PCA) untuk variabel lingkungan dengan kriteria modifikasi ADO-ODTWA untuk evaluasi potensi wisata, berdasarkan wawancara 30 responden kunci per lokasi. Hasil PCA menunjukkan dua komponen utama menjelaskan 92.90% variasi data (PC1 80.20%; PC2 12.70%), dengan ketinggian, tekstur tanah, kelembapan udara, dan bahan organik sebagai variabel lingkungan berpengaruh positif. Penilaian kelayakan wisata menunjukkan Karangtanjung memperoleh skor tertinggi (666.67), diikuti Mandalawangi (555) dan Gunung Karang (515), sedangkan Jiput terendah (465), sehingga Karangtanjung direkomendasikan sebagai prioritas pengembangan ekoagrowisata talas beneng.
Model pengembangan ekoagrowisata disusun melalui pendekatan Causal Loop Diagram (CLD) untuk memetakan interaksi antara sistem ekologi, sosial budaya, dan agrowisata. Hasil menunjukkan pengembangan ekoagrowisata talas beneng ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu keberlanjutan ekologi (kualitas lahan, kesuburan tanah dan produksi), kekuatan sosial budaya (partisipasi masyrakat), serta agrowisata (daya tarik talas beneng), yang membentuk mekanisme umpan balik penguatan dan penyeimbang antarsubsistem.
Secara umum, talas beneng terbukti memiliki potensi strategis sebagai sumber daya lokal yang mengintegrasikan fungsi konservasi biodiversitas, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan wisata, dan pelestarian lingkungan dalam satu sistem pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini menghasilkan pendekatan integratif yang memperluas kajian ekoagrowisata dari orientasi ekonomi dan agronomi semata menuju pendekatan multidimensional berbasis biodiversitas lokal dan keberlanjutan sosial-ekologis. Model yang dihasilkan dapat menjadi kerangka acuan bagi perumusan kebijakan pengembangan ekoagrowisata di Kabupaten Pandeglang, dengan rekomendasi penguatan identitas budaya, kapasitas masyarakat, serta pengujian lapangan lebih lanjut untuk mengevaluasi efektivitas model dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Kata kunci: Causal Loop Diagram, ekoagrowisata, spesies kunci budaya, talas beneng
Collections
- MF - Forestry [1608]

