Aktivitas Minyak Atsiri sebagai Antimutagen di Level Seluler dan Molekuler: Studi pada Khamir Model, Schizosaccharomyces pombe.
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Dini, Fajar
Astuti, Rika Indri
S., Wulan Tri Wahyuni
Metadata
Show full item recordAbstract
Kerusakan DNA akibat paparan reactive oxygen species (ROS) maupun agen
mutagen merupakan salah satu penyebab utama mutagenesis yang berkontribusi
terhadap perkembangan berbagai penyakit degeneratif, termasuk kanker. Tubuh
memiliki sistem pertahanan dan perbaikan DNA untuk mempertahankan stabilitas
genom, namun mekanisme tersebut dapat menjadi tidak efektif apabila kerusakan
DNA terjadi secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan senyawa alami yang
mampu melindungi DNA dari kerusakan. Minyak atsiri merupakan sumber
metabolit sekunder yang kaya akan senyawa bioaktif berpotensi sebagai
antimutagen. Namun, kajian komparatif aktivitas antimutagen berbagai minyak
atsiri beserta mekanisme molekulernya melalui regulasi jalur perbaikan DNA masih
terbatas.
Penelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas antioksidan dan antimutagen
minyak atsiri cengkeh (Syzygium aromaticum), pala (Myristica fragrans), serai
(Cymbopogon citratus), dan nilam (Pogostemon cablin) pada tingkat seluler dan
molekuler menggunakan khamir Schizosaccharomyces pombe sebagai organisme
model. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH dan ABTS,
sedangkan aktivitas antimutagen dievaluasi terhadap EMS dan radiasi UV-C pada
S. pombe. Minyak atsiri terbaik selanjutnya dianalisis menggunakan GC-MS, RT
qPCR, dan molecular docking untuk mengevaluasi komposisi senyawa, ekspresi
gen Base Excision Repair (BER) dan Nucleotide Excision Repair (NER), serta
interaksinya dengan protein respons kerusakan DNA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri cengkeh memiliki
aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan minyak atsiri lainnya dengan nilai IC50
sebesar 0,02 ± 0,01 ppm pada metode DPPH dan 0,05 ± 0,003 ppm pada metode
ABTS, bahkan lebih tinggi dibandingkan kontrol positif Trolox. Pada uji
antimutagen menggunakan EMS, minyak atsiri cengkeh memberikan efek protektif
paling tinggi dengan meningkatkan viabilitas sel hingga 89,88% pada konsentrasi
32 ppm, atau sekitar 3,3 kali lebih tinggi dibandingkan kontrol EMS. Pada
pengujian menggunakan radiasi UV-C, minyak atsiri cengkeh juga meningkatkan
pertumbuhan sel S. pombe, dengan efek optimum pada konsentrasi 1–4 ppm, yang
menunjukkan kemampuannya mempertahankan viabilitas sel setelah paparan
mutagen fisik. Minyak atsiri cengkeh juga menginduksi ekspresi gen BER (MAG1,
APN2, NTH1) dan NER (TFB1, RAD14, RAD16), yang menunjukkan keterlibatan
mekanisme perbaikan DNA dalam aktivitas antimutagennya. Analisis GC-MS
mengidentifikasi eugenol sebagai komponen dominan (62,20%), sedangkan
molecular docking menunjukkan afinitas pengikatan tertinggi terhadap CHK1
(binding affinity 9,90 kcal/mol). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, minyak atsiri
cengkeh menunjukkan aktivitas antioksidan dan antimutagen sehingga berpotensi
dikembangkan sebagai kandidat agen pelindung seluler dalam membantu
mengurangi kerusakan DNA dan mendukung respons perbaikan DNA.
Kata kunci: Antimutagen, DNA repair, Eugenol, Minyak atsiri,
Schizosaccharomyces pombe

