Dampak Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) terhadap Kinerja Ekspor Lada Indonesia
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Nurfadhila, Fitriana
Suharno
Yusalina
Metadata
Show full item recordAbstract
Pepper is one of Indonesia's leading spice commodities, with the majority of total national pepper production absorbed by the export market. However, global competition for pepper is quite intense, resulting in declining demand in most of Indonesia's main pepper export markets. One significant change in Indonesia's international trade is the gradual implementation of the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), with its entry into force in Indonesia in January 2023. RCEP trade integration offers significant opportunities for Indonesian pepper exports by expanding market access, eliminating tariff and non-tariff barriers, and simplifying trade procedures between members. The RCEP agreement is an initiative aimed at strengthening and deepening economic cooperation among ASEAN and Australia, China, Japan, South Korea, and New Zealand, which together account for 30 percent of global GDP, population, and FDI, as well as 27
percent of global trade.
This study aims to analyze the impact of the RCEP's implementation on Indonesia's pepper export performance, measured across two dimensions: competitiveness and export volume. The pepper commodities examined include whole pepper (HS 090411) and ground pepper (HS 090412). This study uses secondary data sourced from the Trade Map (ITC), the Market Access Map, the International Monetary Fund (IMF), and the World Bank, with monthly analysis from January 2018 to February 2026. In addition to integrating trade sources that can influence Indonesia's pepper export performance, which in this study is the RCEP, several variables that typically influence Indonesia's pepper export performance are also added, namely the Consumer Price Index (CPI), Industrial Production Index (IPI) growth, interest rates, commodity prices, trade openness, exchange rates, and Non-Tariff Measures (NTM). The selection of countries is explained based on the consistency of importers in importing Indonesian pepper during the observation period, including both RCEP members and non-members. The analytical methods used include Revealed Comparative Advantage (RCA) to assess competitiveness and the Difference-in-Differences (DiD) approach, combined with fixed effects, to assess the impact of RCEP by comparing periods before and after its implementation between the treatment group (member countries) and the control group (non-member countries).
Based on the results of the RCA analysis, both whole pepper and ground pepper in Indonesia are highly competitive in both member and non-member countries, except for whole pepper in Pakistan and ground pepper in Australia, Malaysia, and the Republic of Korea. The average RCA values for whole and ground pepper in Indonesia in the treatment group increased after the RCEP was implemented, while the control group experienced a decrease. The DiD model analysis showed that the implementation of RCEP did not significantly increase the competitiveness of whole pepper, but it had a significant positive impact on the competitiveness of Indonesian ground pepper in the destination countries of RCEP members, increasing it by 0.276 percent. Other variables that affect the competitiveness of Indonesian ground pepper include Non-Tariff Measures (NTMs), which have a negative effect, and the importers' level of trade openness, which has a positive effect. Meanwhile, in terms of export volume, the analysis indicates that the implementation of RCEP had a significant impact on increasing
pepper export volume across Indonesia by 0.709 percent and ground pepper by 1.401 percent in RCEP countries. Meanwhile, the price of whole pepper and the trade openness variable have negative and positive effects on the export volume of Indonesian whole pepper in the global market. Meanwhile, the CPI and IPI variables have a positive year-on-year effect, and the NTM variable has a negative effect on Indonesia's ground pepper export volume.
Indonesia needs to optimize its use of the RCEP by tailoring marketing strategies to market characteristics and national needs, thereby expanding its reach, especially in countries with high levels of trade openness. Furthermore, to improve Indonesia's pepper export performance, it is necessary to enhance production efficiency strategies to maintain export stability amid price increases and to optimize export opportunities in countries with promising economic growth and high industrial activity. Furthermore, improving the quality of pepper produced to meet global trade standards and requirements will reduce market access constraints and support Indonesia's pepper export aspirations. Lada sebagai salah satu komoditas unggulan rempah Indonesia yang sebagian besar dari total produksi lada nasional diserap oleh pasar ekspor. Namun, persaingan lada dunia cukup ketat sehingga sebagian besar pasar utama ekspor lada
Indonesia menunjukkan penurunan permintaan. Salah satu perubahan penting dalam perdagangan internasional bagi Indonesia adalah berlakunya RCEP secara bertahap sejak Januari 2022 dengan mulai berlaku di Indonesia pada Januari 2023.
Integrasi perdagangan RCEP menawarkan peluang besar bagi ekspor lada Indonesia, melalui perluasan akses pasar, pengurangan hambatan tarif dan non tariff serta penyederhanaan prosedur perdagangan antar anggota. Perjanjian RCEP
tersebut merupakan inisiatif yang bertujuan memperkuat dan memperdalam kerja sama ekonomi antara ASEAN dengan Australia, China, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru yang mewakili 30 persen PDB, populasi, dan FDI dunia serta 27
persen perdagangan global.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pemberlakuan RCEP terhadap kinerja ekspor lada Indonesia yang diukur dari dua sisi yaitu, daya saing dan volume ekspor. Komoditas lada yang diamati meliputi lada utuh (HS 090411) dan lada bubuk (HS 090412). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Trade Map (ITC), Market Access Map, International Monetary Fund (IMF), dan World Bank dengan periode analisis bulanan, dari Januari 2018 hingga Februari 2026. Selain integrasi perdagangan yang mampu memengaruhi kinerja ekspor lada Indonesia dimana dalam penelitian ini adalah RCEP, ditambahkan juga beberapa variabel yang secara teoritis mampu memengaruhi kinerja ekspor lada Indonesia, yaitu Consumer Price Index (CPI), pertumbuhan Industrial Production Index (IPI), suku bunga, harga komoditas, trade opennes, nilai tukar, dan Non-Tariff Measures (NTM). Pemilihan negara tujuan yang dianalisis berdasarkan konsistensi importir dalam mengimpor lada Indonesia selama periode pengamatan yang termasuk dalam anggota RCEP dan non-anggota. Metode analisis yang digunakan meliputi Revealed Comparative Advantage (RCA) untuk melihat daya saing dan pendekatan Difference-in-Differences (DiD) yang dikombinasikan dengan fixed effect untuk melihat dampak RCEP dengan membandingkan periode sebelum dan sesudah pemberlakuan RCEP antara kelompok treatment yang mencakup negara anggota dan kelompok kontrol yang terdiri dari negara non anggota RCEP.
Berdasarkan hasil analisis RCA, baik lada utuh maupun lada bubuk Indonesia memiliki daya saing yang kuat di masing-masing negara anggota dan non-anggota, kecuali lada utuh pada Pakistan dan lada bubuk pada Australia, Malaysia, serta Republic of Korea. Rata-rata nilai RCA lada utuh dan lada bubuk Indonesia pada kelompok treatment menunjukkan peningkatan nilai setelah RCEP berlaku, sedangkan kelompok kontrol justru mengalami penurunan. Model analisis DiD menghasilkan bahwa implementasi RCEP tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan daya saing lada utuh, namun terbukti nyata berdampak positif signifikan terhadap peningkatan daya saing lada bubuk Indonesia di negara tujuan
anggota RCEP sebesar 0,276 persen. Adapun variabel lainnya yang turut memengaruhi daya saing lada bubuk Indonesia adalah Non-Tariff Measures (NTM) yang berpengaruh negatif dan tingkat keterbukaan perdagangan (trade opennes)
importir yang memiliki pengaruh positif. Sementara dari aspek volume ekspor, berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa implementasi RCEP berdampak signifikan terhadap peningkatan volume ekspor lada utuh Indonesia sebesar 0,709
persen dan lada bubuk sebesar 1,401 persen di negara-negara RCEP. Adapun variabel harga lada utuh dan trade opennes berpengaruh negatif dan positif terhadap volume ekspor lada utuh Indonesia di pasar global. Sedangkan variabel CPI dan IPI
yoy memiliki berpengaruh positif, dan variabel NTM berpengaruh negatif terhadap volume ekspor lada bubuk Indonesia.
Indonesia perlu mengoptimalkan pemanfaatan RCEP melalui strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik pasar dan kebutuhan negara tujuan untuk memperluas jangkauan terutama pada negara-negara dengan tingkat keterbukaan perdagangan yang tinggi. Selain itu, untuk meningkatkan kinerja ekspor lada Indonesia perlu dilakukan peningkatan strategi efisiensi produksi agar ekspor tetap stabil saat harga meningkat dan optimalisasi peluang ekspor pada negara-negara yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi dan aktivitas industri yang tinggi. Serta meningkatkan kualitas lada yang dihasilkan guna memenuhi standar dan persyaratan perdagangan global yang diterapkan untuk mengurangi kendala akses pasar dan mendukung keberlanjutan ekspor lada Indonesia.
Collections
- MF - Economic and Management [3351]

