Dinamika Sistem Sosial Ekologi dalam Pengelolaan Perikanan Hiu dengan Pendekatan Insentif Ekonomi dan Rantai Pasok (Studi Kasus: Muncar, Banyuwangi, Indonesia)
Date
2026Author
Osmaleli
Adrianto, Luky
Kusumastanto, Tridoyo
Yulianto, Gatot
Booth, Hollie Louise
Metadata
Show full item recordAbstract
Hiu dan Pari memiliki potensi yang besar untuk jasa ekosistem laut dan untuk kesejahteraan manusia. Spesies prioritas seperti hiu martil (Sphyrna lewini) dan hiu tikus pelagis (Alopias pelagicus) yang berstatus terancam punah (critically endangered dan endangered) masih dieksploitasi sebagai tangkapan sampingan (bycatch) bernilai tinggi untuk nelayan di Muncar, Banyuwangi. Pendekatan konservasi konvensional bermodel komando dan kontrol (command-and-control) sering kali gagal karena membebankan biaya peluang (opportunity cost) yang tidak adil bagi nelayan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis dinamika Sistem Sosial-Ekologi (SES) perikanan hiu secara komprehensif, menganalisis ecological insight untuk mengonfirmasi pengelolaan hiu, menganalisis jaringan rantai pasok, mengidentifikasi faktor pendorong dan kendala dalam upaya konservasi perikanan hiu, menguji pendekatan insentif ekonomi yang sesuai dengan faktor pendorong dan kendala tersebut, merekomendasikan skema insentif ekonomi yang efektif bagi konservasi perikanan hiu, serta merumuskan strategi kebijakan adaptif yang berkelanjutan.
Metode penelitian mengintegrasikan tujuh pendekatan multidisiplin dalam satu kerangka kerja SES. Pertama, Social-Ecological Network Analysis (SENA) digunakan untuk memetakan konektivitas subsistem aktor, tata kelola, dan sumberdaya. Kedua, analisis spasial, analisis keberlanjutan populasi hiu berbasis panjang, dan analisis prediktor tangkapan. Ketiga, analisis rantai pasok dan nilai ekonomi komoditi hiu dilakukan untuk mengidentifikasi marjin pemasaran lintas aktor dari hulu ke hilir. Keempat, Theory of Planned Behavior (TPB) diaplikasikan guna mendiagnosis niat sosiopsikologis nelayan terhadap perilaku pelepasan hiu. Kelima, skema Pembayaran Jasa Lingkungan (Payment for Ecosystem Services/PES) dirancang menggunakan Contingent Valuation Method (CVM) untuk mengestimasi nilai kesediaan nelayan menerima insentif (Willingness to Accept/WTA). Keenam efektivitas skema insentif diuji secara empiris melalui eksperimen lapangan acak (Randomized Controlled Trial/RCT) dengan desain crossover. Akhirnya, prioritas portofolio strategi kebijakan dirumuskan menggunakan analisis multikriteria MULTIPOL.
Hasil pemetaan SENA menegaskan adanya keterhubungan yang kompleks (centrality) antar-aktor, dimana asimetri informasi dan ketergantungan modal pada tengkulak memperlemah posisi tawar nelayan hulu. Analisis rantai pasok menunjukkan stratifikasi pasar yang ekstrem; sirip hiu merupakan produk premium internasional, sementara daging dan anatomi tubuh lainnya mendominasi konsumsi domestik dengan marjin keuntungan terbesar terkonsentrasi pada pedagang besar dan eksportir. Berdasarkan kerangka TPB, niat nelayan untuk mengimplementasikan konservasi dihambat oleh tekanan kebutuhan rumah tangga, meskipun kesadaran ekologis mereka tergolong baik. Melalui pendekatan CVM, ditemukan korelasi positif yang signifikan antara ukuran tubuh/taksonomi spesies hiu dengan besaran nilai insentif finansial (WTA) yang diharapkan nelayan sebagai pengganti hilangnya peluang ekonomi. Eksperimen RCT crossover membuktikan bahwa intervensi insentif pay-to-release secara kausal mampu menurunkan tingkat retensi spesies prioritas (S. lewini dan A. pelagicus) per trip pendaratan secara signifikan, meskipun efektivitas jangka panjangnya tetap dipengaruhi faktor musiman dan tingkat mortalitas ikan yang tertangkap dengan gillnet.
Integrasi pemodelan MULTIPOL merekomendasikan transisi kebijakan menuju tata kelola inklusif melalui kebijakan menerapkan regulasi yang lebih ketat, kebijakan mengembangkan insentif bagi nelayan dan skenario pendekatan berbasis masyarakat. Kebaruan ilmiah dari penelitian ini merupakan yang pertama mengintegrasikan kerangka kerja Sistem Sosial-Ekologis (SES), analisis spasial, pemodelan linier data tangkapan, dan analisis rantai pasok (termasuk bagian keuntungan yang diterima nelayan, saluran pemasaran, margin pemasaran, serta rasio manfaat-biaya). Lebih lanjut, penelitian ini juga menyertakan Teori Perilaku Terencana (TPB), Pembayaran untuk Jasa Ekosistem (PES) dengan Metode Penilaian Kontingen (CVM), Uji Coba Terkontrol Acak (RCT), serta Analisis Multikriteria dan Kebijakan.
Collections
- DF - Fisheries [797]

