Show simple item record

dc.contributor.advisorAdrianto, Luky
dc.contributor.advisorDamar, Ario
dc.contributor.advisorTaryono
dc.contributor.advisorBooth, Hollie Louise
dc.contributor.authorRamdlan, M Said
dc.date.accessioned2026-08-14T07:09:28Z
dc.date.available2026-08-14T07:09:28Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178878
dc.description.abstractPenangkapan hiu dan pari terancam dalam perikanan skala kecil menimbulkan dilema antara perlindungan keanekaragaman hayati dan pemenuhan kebutuhan penghidupan masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan mengembangkan strategi pengelolaan perikanan berbasis ekosistem yang dapat mengurangi mortalitas hiu dan pari terancam sekaligus mempertimbangkan kesejahteraan nelayan di Lunyuk, bagian dari Southern Sumbawa Important Shark and Ray Area (ISRA). Penelitian menggunakan pendekatan metode interdisipliner yang mengintegrasikan dimensi ekologi, sosial, ekonomi, perilaku, dan tata kelola. Diagnosis sistem sosial–ekologis dilakukan menggunakan data pendaratan, analisis spasial, observasi, wawancara terhadap 31 nelayan dan pemangku kepentingan, serta Social Network Analysis dan Social-Ecological Network Analysis. Tekanan perikanan dan faktor pendorongnya dianalisis menggunakan kerangka DPSIR dan Theory of Planned Behaviour. Pilihan intervensi dikaji melalui wawancara berbasis skenario dengan contingent valuation, dan behavioural games yang melibatkan 26 nelayan. Dampak insentif pelepasan kemudian dievaluasi melalui mixed method randomised pilot dengan desain cross-over pada 24 kapal dan 290 perjalanan penangkapan, sedangkan strategi pengelolaan disintesis dari key informan interview melibatkan 13 pemangku kepentingan dan dianalisis menggunakan trade-off analysis dan Multi Criteria Analysis. Selama 2019–2023 tercatat 1.568 individu dari 35 spesies hiu dan pari dalam 704 hari pemantauan pendaratan. Sebanyak 49% pendaratan merupakan spesies berstatus Kritis (Critically Endangered), terutama hiu martil (Sphyrna lewini) dan pari kekeh (Rhynchobatus australiae). Mayoritas tangkapan hiu martil dan pari kekeh yang diukur berada di bawah ukuran pertama kali matang gonad (length at maturity), yang mengindikasikan tingginya tekanan terhadap individu belum dewasa dan risiko terhadap proses rekrutmen. Kerentanan tersebut berkaitan dengan tumpang tindih daerah penangkapan dan habitat penting, penggunaan jaring insang dan rawai yang kurang selektif, serta nilai ekonomi tangkapan insidental. Nelayan umumnya tidak memiliki intensi kuat untuk menargetkan hiu dan pari, tetapi merasa memiliki kemampuan terbatas untuk menghindari tangkapan dan melepaskan individu yang tertangkap. Wawancara berbasis skenario menunjukkan bahwa insentif positif paling diterima karena dipandang lebih adil dalam mengganti biaya peluang konservasi, sedangkan behavioural games menunjukkan bahwa sanksi memberikan pengaruh lebih kuat terhadap pengurangan tangkapan dalam kondisi simulasi. Perbedaan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara preferensi yang dinyatakan dan respons perilaku. Uji coba insentif belum menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap peluang tangkapan yang dipertahankan. Estimasi menunjukkan bahwa peluang retensi pari kekeh pada kondisi perlakuan 58% lebih rendah, sedangkan peluang retensi hiu martil 29% lebih tinggi dibandingkan kondisi kontrol. Namun, kedua estimasi masih memiliki ketidakpastian yang tinggi karena terbatasnya kejadian pendaratan kedua spesies pada tingkat perjalanan penangkapan selama periode uji coba. Meskipun demikian, kelompok perlakuan memiliki intensi melepaskan hiu martil empat kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol, tanpa diikuti perubahan yang terdeteksi pada perilaku aktual. Temuan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan intensi–perilaku serta menunjukkan bahwa efektivitas insentif dipengaruhi kondisi individu saat tertangkap, karakteristik alat tangkap, kelayakan teknis pelepasan, dan nilai ekonomi tangkapan. Multi Criteria Analysis menunjukkan skenario insentif berbasis norma sosial lokal sebagai pilihan prioritas dengan skor 1,11 dan peringkat yang stabil dalam analisis sensitivitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa insentif tidak memadai sebagai instrumen tunggal. Pengelolaan perlu dilaksanakan melalui tata kelola kolaboratif dan adaptif yang menggabungkan norma sosial lokal, insentif positif bersyarat, modifikasi alat tangkap, pengaturan musim dan lokasi penangkapan, perlindungan habitat penting, serta pemantauan dampak ekologis dan sosial-ekonomi dalam jangka panjang.
dc.description.sponsorshipPusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, IPB University dan Department of Biology, Oxford University
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengelolaan Perikanan Skala Kecil untuk Konservasi Hiu dan Pari dengan Pendekatan Ekosistem pada Habitat Penting Hiu dan Pari Sumbawa Selatan.id
dc.title.alternativeEcosystem-Based Management for Shark and Ray Conservation in Small-Scale Fisheries within the Southern Sumbawa Important Shark and Ray Area.
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordelasmobranchiiid
dc.subject.keywordinsentif konservasiid
dc.subject.keywordpengelolaan berbasis ekosistemid
dc.subject.keywordperikanan skala kecilid
dc.subject.keywordsistem sosial–ekologisid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record