Pendugaan Populasi dan Distribusi Beruang Madu di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Shalihah, Ulfah Anisah
Rahman, Dede Aulia
Herliansyah, Riki
Metadata
Show full item recordAbstract
Beruang madu merupakan spesies beruang terkecil yang berperan penting dalam menjaga fungsi ekositem hutan. Populasi beruang madu mengalami penurunan di wilayah distribusinya akibat berbagai ancaman meliputi hilangnya habitat, perburuan ilegal dan perdagangan komersial, serta kematian yang terkait dengan konflik manusia-beruang. Upaya konservasi beruang madu memerlukan informasi yang akurat mengenai kepadatan populasi dan distribusi sebagai dasar penilaian status konservasi suatu spesies, menentukan prioritas konservasi, serta evaluasi efektivitas pengelolaan habitat. Namun, monitoring beruang madu masih menghadapi kendala karena spesies ini tidak memiliki pola morfologi yang unik untuk membedakan setiap individu melalui kamera jebak. Kondisi tersebut membatasi penerapan metode capture-recapture konvensional yang bergantung pada identifikasi individu.
Penelitian memanfaatkan data tangkapan sampingan kamera jebak untuk monitoring harimau Sumatra yang dikumpulkan pada tahun 2015, 2019, dan 2022. Kamera dipasang secara sistematis pada 65 petak, dengan setiap petak terdiri atas dua unit kamera jebak. Dari survei ini diperoleh sebanyak 261, 1.882, dan 2.145 foto beruang madu masing-masing untuk tahun 2015, 2019, dan 2022. Data tersebut kemudian diseleksi menjadi 116, 191, dan 158 independent events, yang didefinisikan sebagai foto berurutan dalam grid yang sama dengan jeda minimal 30 menit. Estimasi kepadatan populasi dilakukan menggunakan pendekatan unmarked Spatial Capture-Recapture (uSCR) dalam kerangka Bayesian, yang mampu mengestimasi kepadatan berdasarkan pola deteksi spasial tanpa memerlukan identifikasi individu. Sedangkan distribusi diestimasi menggunakan pemodelan multi-season occupancy untuk mengestimasi probabilitas okupansi, kolonisasi, kepunahan lokal, dan deteksi.
Kepadatan populasi beruang madu di Zona Perlindungan Intensif (ZPI) TNBBS diperkirakan sebesar 9,0 individu/100 km2 pada tahun 2015, 5,5 individu/100 km2 pada tahun 2019, dan 9,0 individu/100 km2 pada tahun 2022. Analisis multi-season occupancy yang merepresentasikan distribusi menunjukkan probabilitas okupansi yang cukup stabil yaitu 0,62 pada 2015, meningkat menjadi 0,82 pada 2019, dan menurun menjadi 0,66 pada 2022. Nilai probabilitas okupansi dipengaruhi oleh periode survei dan kovariat bukaan vegetasi bawah untuk parameter deteksi. Integrasi pendekatan unmarked Spatial Capture-Recapture (uSCR) dan pemodelan multi-season occupancy memungkinkan adanya gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi populasi dan distribusi spesies dibandingkan penggunaan masing-masing metode secara terpisah, sehingga dapat menjadi dasar ilmiah yang lebih kuat untuk mendukung monitoring populasi jangka panjang, evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan, dan penyusunan strategi konservasi beruang madu secara adaptif.
Collections
- MF - Forestry [1611]

