| dc.description.abstract | Kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, salah satunya kelapa kering (desiccated coconut). Sebagai produsen kelapa terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku yang mendukung pengembangan ekspor. Namun, daya saing kelapa kering Indonesia di pasar internasional masih menghadapi persaingan dengan negara eksportir utama, seperti Filipina, serta berbagai hambatan perdagangan yang memengaruhi kinerja ekspor.
Penelitian ini bertujuan menganalisis daya saing dan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor kelapa kering Indonesia ke negara anggota G20. Daya saing dianalisis menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Dynamic Revealed Comparative Advantage (DRCA), sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor dianalisis menggunakan Gravity Model dengan estimasi Poisson Pseudo Maximum Likelihood (PPML). Penelitian menggunakan data panel 18 negara anggota G20 selama periode 2013-2024 yang diperoleh dari ITC Trade Map, World Bank, WTO, FAO, dan berbagai sumber pendukung lainnya.
Hasil analisis RCA menunjukkan bahwa kelapa kering Indonesia memiliki keunggulan komparatif di sebagian besar negara anggota G20 dengan nilai RCA lebih besar dari satu. Namun, hasil DRCA menunjukkan bahwa posisi daya saing mengalami penurunan, dari dominasi kategori rising star pada periode 2013-2016 menjadi falling star pada periode 2017-2020, dan lagging retreat pada periode 2021–2024. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif, kemampuan mempertahankan pertumbuhan pangsa pasar relatif terhadap pasar dunia cenderung menurun.
Hasil estimasi Gravity Model menunjukkan bahwa GDP negara importir, tarif impor, dan harga ekspor berpengaruh signifikan terhadap ekspor kelapa kering Indonesia, sedangkan Free Trade Agreement (FTA) tidak berpengaruh signifikan. GDP negara importir dan tarif impor berpengaruh negatif, sedangkan harga ekspor berpengaruh positif. Oleh karena itu, peningkatan daya saing ekspor kelapa kering Indonesia perlu didukung melalui peningkatan produktivitas di tingkat hulu, penguatan industri pengolahan, pemenuhan standar mutu, serta pemilihan pasar ekspor yang sesuai dengan karakteristik negara tujuan. | |