Show simple item record

dc.contributor.advisorChikmawati, Tatik
dc.contributor.advisorPurwanto, Yohanes
dc.contributor.authorWulandari, Santi
dc.date.accessioned2026-08-14T06:23:12Z
dc.date.available2026-08-14T06:23:12Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178781
dc.description.abstractEtnis Sunda merupakan salah satu etnis di Indonesia yang berasal dari bagian barat Pulau Jawa, meliputi wilayah Jawa Barat, Banten, Jakarta, hingga sebagian Lampung. Masyarakat Sunda yang menempati wilayah dataran tinggi dan perbukitan di Kawasan Wisata Puncak memiliki identitas budaya yang erat kaitannya dengan lingkungan, khususnya dalam pemanfaatan tanaman pekarangan. Pekarangan merupakan lahan di sekitar rumah yang ditanami berbagai jenis tanaman, seperti buah-buahan, sayuran, tumbuhan obat, kayu bakar, dan tanaman hias. Pengelolaannya dipengaruhi oleh budaya, kondisi lahan, dan topografi serta mencerminkan pengetahuan etnobotani yang berfungsi secara ekonomi dan ekologis. Namun, pengetahuan yang diwariskan secara lisan tersebut berisiko hilang apabila tidak segera didokumentasikan. Pertumbuhan wilayah dan alih fungsi lahan di Puncak menjadi tantangan bagi keberadaan pekarangan dan keberlanjutan pengetahuan etnobotani masyarakat. Intensitas pariwisata berpotensi mengubah orientasi pengelolaan pekarangan dari pemenuhan kebutuhan pangan menjadi lahan yang didominasi tanaman hias bernilai estetika. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis komposisi jenis, struktur vegetasi, dan keanekaragaman tanaman pekarangan masyarakat Sunda serta membandingkannya antara Desa Wisata Laten dan Desa Wisata Aktif; (2) mengidentifikasi pola pemanfaatan tanaman berdasarkan sistem pengetahuan etnobotani lokal; (3) menganalisis kontribusi tanaman pekarangan terhadap ekonomi rumah tangga, fungsi sosial-budaya, dan peran ekologisnya; serta (4) mengevaluasi status konservasi dan peran tanaman pekarangan dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati lokal. Penelitian dilaksanakan pada Juli 2025-Januari 2026 di enam desa di Kabupaten Bogor, yang dikelompokkan menjadi Desa wisata laten (Cileungsi dan Cibedug) serta Desa wisata aktif (Sukamahi, Sukagalih, Citeko, dan Cibeureum). Informan ditentukan menggunakan purposive sampling yang dilanjutkan dengan snowball sampling. Data etnobotani dikumpulkan melalui wawancara, participant observation, kuesioner, dan Pebble Distribution Method, sedangkan data tumbuhan diperoleh melalui inventarisasi bersama responden. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan indeks Use Value (UV), Index of Cultural Significance (ICS), Local User's Value Index (LUVI), serta analisis vegetasi yang meliputi kekayaan jenis (DMg), kemerataan (J), keanekaragaman (H'), dan kemiripan jenis (Ss). Struktur pekarangan Masyarakat Sunda terbagi menjadi tiga ruang, yaitu buruan harep/tepas (depan), pipir (samping), dan tukang (belakang), dengan kategori ukuran sempit, sedang, dan luas. Komposisi vegetasi didominasi tanaman herba, disertai pemanjat, perdu, pohon, semak, dan sukulen. Struktur vertikal pekarangan terdiri atas lima lapisan tajuk, yaitu ground stratum hingga emergent stratum, dengan lapisan herba sebagai strata yang paling padat. Keanekaragaman tumbuhan pekarangan masyarakat Sunda terdiri atas 450 jenis, 21 varietas, dan 87 kultivar yang tergolong dalam 94 suku tumbuhan. Suku dengan jumlah jenis tertinggi ialah Araceae. Analisis menunjukkan bahwa Desa Cibedug memiliki kekayaan jenis tertinggi (DMg = 41,062), sedangkan Citeko terendah (DMg = 18.58). Kemerataan jenis tertinggi ditemukan di Sukamahi (J = 0,823) dan terendah di Citeko (J = 0,607). Desa wisata laten memiliki nilai keanekaragaman (H') lebih tinggi dibandingkan Desa wisata aktif, dengan Cibedug sebagai desa tertinggi (H' = 4,547) dan Citeko terendah (H' = 3,139). Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh variasi kekayaan jenis dan kemerataan, sedangkan kemiripan jenis antar desa berada pada kategori sedang hingga tinggi (Ss >40%). Variasi keanekaragaman dipengaruhi oleh faktor topografi, kebutuhan hidup, dan preferensi pemilik pekarangan. Sebanyak 18 kategori pemanfaatan tumbuhan pekarangan berhasil diidentifikasi, dengan 12 kategori konsisten ditemukan di seluruh desa. Tiga kategori pemanfaatan tertinggi adalah tanaman hias, bahan makanan, dan tanaman obat. Curcuma longa memiliki nilai UV tertinggi di seluruh desa (1,02-1,96). Nilai ICS tertinggi diperoleh Capsicum frutescens di Cileungsi dan Sukagalih, Curcuma longa di Cibedug dan Sukamahi, serta Zingiber officinale di Citeko dan Cibeureum. Jenis-jenis tersebut berperan penting sebagai bahan ritual, bumbu, obat, dan sumber pendapatan tambahan. Sementara itu, jenis dengan nilai LUVI tertinggi merupakan kelompok tanaman pangan, yaitu Durio zibethinus dan Archidendron jiringa. Peran pekarangan bagi masyarakat Sunda mencakup tiga aspek, yaitu sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan ekologi. Aspek sosial-ekonomi, pekarangan berfungsi sebagai penyedia pangan, obat, sumber pendapatan tambahan, lokasi pembibitan dan budidaya tanaman skala kecil, serta tempat memelihara ternak. Aspek sosial-budaya, pekarangan menjadi ruang pelestarian tradisi, identitas lokal, transfer pengetahuan etnobotani, penyedia tanaman ritual, sekaligus ruang interaksi sosial dan rekreasi. Aspek ekologi, pekarangan berperan sebagai penyedia jasa ekosistem dan situs konservasi bagi jenis lokal maupun jenis yang terancam. Intensitas pariwisata di Kawasan Wisata Puncak berpengaruh terhadap perubahan orientasi pengelolaan pekarangan. Pada desa yang menjadi pusat kunjungan wisata dan kawasan glamping, seperti Citeko dan Cibeureum, fungsi pekarangan bergeser dari pemenuhan pangan menuju nilai estetika, yang ditunjukkan oleh dominasi tanaman hias di Cibeureum (98 jenis) dibandingkan tanaman pangan (41 jenis). Sebaliknya, Desa Wisata Laten seperti Cibedug masih mempertahankan fungsi subsisten dengan jumlah tanaman pangan tertinggi (106 jenis). Kondisi ini menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas pariwisata cenderung mereduksi fungsi tradisional pekarangan sebagai penyedia pangan. Sebagai bentuk adaptasi, masyarakat menerapkan strategi pengelolaan yang berorientasi pada efisiensi biaya dan pemanfaatan lahan secara optimal dengan dukungan kelompok tani dan PKK. Strategi tersebut meliputi pemanfaatan pupuk organik mandiri, pemeliharaan tradisional, serta penerapan vertikultur sederhana untuk mengatasi keterbatasan lahan. Prioritas pengelolaan ditentukan berdasarkan nilai UV, ICS, dan LUVI sehingga pengembangan pekarangan tetap mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, pelestarian pengetahuan lokal, dan konservasi keanekaragaman hayati di tengah meningkatnya alih fungsi lahan.
dc.description.abstractThe Sundanese communities inhabiting the highlands and hilly landscapes of the Puncak region in western Java possess a cultural identity that is closely intertwined with their environment, particularly through the use of homegarden plants. These residential land-use systems are planted with a wide variety of species, including fruits, vegetables, medicinal plants, fuelwood, and ornamental plants. Their management is influenced by local culture, land conditions, and topography, reflecting rich ethnobotanical knowledge that provides both economic benefits and ecological functions. However, this orally transmitted knowledge is at risk of being lost without proper documentation. Regional development and land-use conversion in the Puncak region pose challenges to the persistence of homegardens and the continuity of local ethnobotanical knowledge. Increasing tourism intensity may shift homegarden management from meeting food needs toward areas dominated by ornamental plants with greater aesthetic value. This study aims to: (1) analyze the species composition, vegetation structure, and plant diversity of Sundanese homegardens and compare them between Latent Tourism Villages and Active Tourism Villages; (2) identify plant utilization patterns based on the local ethnobotanical knowledge system; (3) analyze the contribution of homegarden plants to household economics, socio-cultural functions, and their ecological roles; and (4) evaluate the conservation status and role of homegarden plants in supporting the preservation of local biodiversity. The study was conducted from July 2025 to January 2026 across six villages in Bogor Regency, categorized into Latent Tourism Villages (Cileungsi and Cibedug) and Active Tourism Villages (Sukamahi, Sukagalih, Citeko, and Cibeureum). Informants were selected using purposive sampling, followed by snowball sampling. Ethnobotanical data were collected through interviews, participant observation, questionnaires, and the Pebble Distribution Method, while plant data were obtained through co-inventories with respondents. Qualitative data were analyzed descriptively, while quantitative data were analyzed using the Use Value (UV) index, Index of Cultural Significance (ICS), Local User's Value Index (LUVI), and vegetation analysis covering species richness (DMg), evenness (J), diversity (H'), and species similarity (Ss). The homegarden structure of the Sundanese community is divided into three zones: buruan harep/tepas (front yard), pipir (side yard), and tukang (backyard), categorized into narrow, medium, and wide sizes. The vegetation composition is dominated by herbaceous plants, accompanied by climbers, shrubs, trees, bushes, and succulents. The vertical structure of the homegardens consists of five canopy layers, ranging from the ground stratum to the emergent stratum, with the herbaceous layer being the densest stratum. The plant diversity in Sundanese homegardens comprises 450 species, 21 varieties, and 87 cultivars belonging to 94 plant families. The family with the highest number of species is Araceae. Cibedug Village had the highest species richness (DMg = 41,062), while Citeko was the lowest (DMg = 18,58). The highest species evenness was found in Sukamahi (J = 0,823) and the lowest in Citeko (J = 0,607). Latent Tourist Villages exhibited higher diversity values (H') than Active Tourist Villages, with Cibedug being the highest (H' = 4,547) and Citeko the lowest (H' = 3,139). This variation was influenced by differences in species richness and evenness, whereas species similarity among villages fell into the moderate to high category (Ss>40%). Variations in diversity were driven by topographical factors, livelihood needs, and homegarden owners' preferences. A total of 18 plant utilization categories were identified in the homegardens, with 12 categories consistently found across all villages. The three highest utilization categories were ornamental plants, food ingredients, and medicinal plants. Curcuma longa had the highest UV value across all villages (1.02–1.96). The highest ICS values were obtained by Capsicum frutescens in Cileungsi and Sukagalih, Curcuma longa in Cibedug and Sukamahi, and Zingiber officinale in Citeko and Cibeureum. These species play vital roles as ritual materials, spices, medicine, and sources of additional income. Meanwhile, the species with the highest LUVI values belonged to the food crop group, namely Durio zibethinus and Archidendron jiringa. The role of homegardens for the Sundanese community encompasses three aspects: socio-economic, socio-cultural, and ecological. In the socio-economic aspect, homegardens serve as providers of food, medicine, sources of additional income, locations for nurseries and small-scale plant cultivation, and spaces for raising livestock. In the socio-cultural aspect, homegardens act as spaces for preserving tradition, local identity, transferring ethnobotanical knowledge, providing ritual plants, as well as areas for social interaction and recreation. In the ecological aspect, homegardens play a role as providers of ecosystem services and conservation sites for both local and threatened species. The intensity of tourism in the Puncak region influences changes in homegarden management orientation. In villages that are centers for tourist visits and glamping areas, such as Citeko and Cibeureum, homegarden functions have shifted from food fulfillment toward aesthetic value, demonstrated by the dominance of ornamental plants in Cibeureum (98 species) compared to food crops (41 species). Latent Tourist Villages like Cibedug still maintain subsistence functions with the highest number of food crops (106 species). This condition indicates that increasing tourism activity tends to reduce the traditional function of homegardens as food providers. As a form of adaptation, the community implements management strategies oriented toward cost efficiency and optimal land utilization, supported by farmer groups and the Family Welfare Movement (PKK). These strategies include the independent use of organic fertilizers, traditional maintenance, and the application of simple vertical farming (verticulture) to overcome land limitations. Management priorities are determined based on UV, ICS, and LUVI values, ensuring that homegarden development maintains a balance between economic needs, local knowledge preservation, and biodiversity conservation amidst increasing land-use conversion.
dc.description.sponsorshipLembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleSistem Pekarangan sebagai Strategi Pengelolaan Sumber Daya Hayati: Studi Etnobotani Masyarakat Sunda di Kawasan Wisata Puncakid
dc.title.alternativeHomegarden Systems as a Strategy for Bioresource Management: An Ethnobotanical Study of the Sundanese Community in the Puncak Tourism Area
dc.typeTesis
dc.subject.keywordetnobotaniid
dc.subject.keywordkawasan wisataid
dc.subject.keywordlocal user’s value indexid
dc.subject.keywordresiliensi pekaranganid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record