| dc.contributor.advisor | Santosa, Yanto | |
| dc.contributor.advisor | Sunkar, Arzyana | |
| dc.contributor.advisor | Lubis, Djuara P. | |
| dc.contributor.author | Haidir | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-14T06:22:05Z | |
| dc.date.available | 2026-08-14T06:22:05Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178766 | |
| dc.description.abstract | RINGKASAN
HAIDIR. Pengembangan Strategi Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus di Taman Nasional Bukit Duabelas). Dibimbing oleh YANTO SANTOSA, ARZYANA SUNKAR, dan DJUARA P. LUBIS.
Pengelolaan taman nasional di Indonesia terus berkembang, terutama pada kawasan yang dihuni masyarakat adat, meski beberapa taman nasional sudah mengakui peran masyarakat sejak awal, penerapannya masih terkendala karena aturan yang berlaku belum sepenuhnya mendukung. Akibatnya, pengelolaan kawasan seringkali tidak efektif dan memicu konflik antara kepentingan konservasi dengan kebutuhan hidup masyarakat adat. Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) merupakan salah satu kawasan konservasi yang sejak awal penunjukannya memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan Orang Rimba. Bagi Orang Rimba, hutan TNBD tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sumber pangan, obat-obatan, bahan bangunan, sandang, budaya, spiritualitas, dan identitas sosial. Namun, pertumbuhan populasi, transformasi sosial budaya, meningkatnya interaksi dengan masyarakat luar, tekanan ekonomi, serta perubahan orientasi pemanfaatan sumber daya telah mendorong meningkatnya tekanan terhadap biodiversitas TNBD.
Penelitian dirancang dengan pendekatan mixed method untuk merumuskan pengembangan strategi pengelolaan taman nasional berbasis masyarakat adat dalam rangka mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan Orang Rimba dengan potensi dan produksi biodiversitas TNBD. Kajian mencakup identifikasi jenis dan pola pemanfaatan biodiversitas, pendugaan potensi dan kebutuhan biodiversitas, identifikasi permasalahan, pemetaan pemangku kepentingan, dan penentuan prioritas strategi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, analisis vegetasi, line transect, studi dokumen, dan penilaian para pihak, content analysis, analisis citra landsat, kemudian dianalisis melalui pendekatan deskriptif kualitatif-kuantitatif, Chi Square, DPSIR, SWOT, dan AHP.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Komunitas Orang Rimba memanfaatkan biodiversitas di TNBD secara luas, meliputi 74 jenis tumbuhan dari 45 famili dan 8 jenis satwa liar yang dimanfaatjkan secara intensif. Pemanfaatannya meliputi konsumsi, perdagangan, pengobatan tradisional, hingga keperluan hiasan. Pola pemanfaatan secara umum bersifat subsisten, Teridentifikasi 29 jenis tumbuhan pangan, 20 jenis tumbuhan obat, 15 jenis untuk papan, 3 jenis untuk budaya, 1 jenis untuk sandang, serta 6 jenis yang diperdagangkan. Hasil analisis pendugaan potensi dan kebutuhan biodiversitas menunjukkan pada kelompok tumbuhan, sebagian jenis masih berada dalam kategori lestari dan cukup lestari, namun proporsi jenis yang belum lestari menunjukkan bahwa pemanfaatan beberapa jenis telah mendekati atau melampaui kemampuan regenerasinya. Pada kategori satwa seluruhnya dalam status tidak lestari. Jumlah tangkapan per tahun jauh melebihi kemampuan regenerasi alami populasi, termasuk pada spesies yang dilindungi seperti kancil, kijang, rusa sambar, dan kuau raja. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara tingkat pemanfaatan dengan daya dukung ekologis kawasan. Dengan asumsi pola pemanfaatan tetap dan pertumbuhan populasi Orang Rimba terus meningkat, kebutuhan terhadap biodiversitas diperkirakan akan semakin besar pada masa mendatang sehingga berpotensi memperkuat tekanan terhadap kawasan apabila tidak diimbangi dengan pengaturan pemanfaatan berbasis daya dukung.
Pengelolaan TNBD melibatkan banyak pemangku kepentingan. Teridentifikasi sebanyak 26 pemangku kepentingan dalam pengelolaan TNBD dengan 3 pihak yang berkepentingan langsung adalah Balai TNBD, Orang Rimba, dan masyarakat desa penyangga. Keberadaan Orang Rimba menjadi faktor penting yang menyebabkan pihak lain ikut terlibat, meskipun tidak secara langsung. Oleh karena itu, diperlukan kesepahaman di antara para pemangku kepentingan dalam memandang pembangunan sosial Orang Rimba, sebab proses pembangunan ini akan memengaruhi pola pemanfaatan sumber daya di dalam kawasan. Berdasarkan analisis DPSIR permasalahan utama dalam pengelolaan biodiversitas di TNBD adalah ketidakseimbangan antara peningkatan kebutuhan hidup Orang Rimba dengan kemampuan ekologis menyediakan biodiversitas secara berkelanjutan.
Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa pengelolaan TNBD berada pada posisi strategi Strength-Threats (S-T), yaitu menggunakan kekuatan internal untuk menghadapi ancaman eksternal. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa keberlanjutan ekologi menjadi prioritas utama, diikuti oleh keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan sosial kelembagaan. Terdapat tiga prioritas alternatif strategi yang diperoleh, antara lain: a) pengelolaan pemanfaatan biodiversitas berbasis daya dukung ekologis untuk menyeimbangkan antara tingkat pemanfaatan dan kemampuan regenerasi sumber daya; b) penguatan sistem pengamanan berbasis adat dan negara dalam pengaturan dan pembatasan pemanfaatan biodiversitas untuk mengendalikan tekanan eksploitasi; dan c) pengembangan ekonomi alternatif berbasis HHBK, agroforestri, dan jasa lingkungan secara berkelanjutan.
Temuan utama dari penelitian ini adalah lahirnya strategi pengelolaan taman nasional berbasis masyarakat adat yang mengintegrasikan keseimbangan dinamis pada tiga dimensi utama, yaitu dimensi ekologis, sosial ekonomi-adat-budaya, dan tata kelola kolaboratif. Strategi dirancang dengan prinsip kolaborasi multipihak, keberlanjutan, dan keadilan, sehingga mampu menjaga kelestarian biodiversitas sekaligus memberikan jaminan ruang hidup dan sumber penghidupan bagi masyarakat adat. Implikasi penelitian ini adalah perlunya pembaruan instrumen pengelolaan kawasan konservasi agar lebih akomodatif terhadap keberadaan masyarakat adat di dalam kawasan. Strategi ini dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan taman nasional lain yang memiliki masyarakat adat, sekaligus memperkuat pengembangan teori pengelolaan konservasi yang memadukan aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya secara terpadu.
Kata kunci: biodiversitas, keseimbangan, Orang Rimba, pengelolaan kolaboratif, strategi pengelolaan. | |
| dc.description.abstract | SUMMARY
HAIDIR. Development of an Indigenous Community-Based National Park Management Strategy (A Case Study of Bukit Duabelas National Park). Supervised by YANTO SANTOSA, ARZYANA SUNKAR, and DJUARA P. LUBIS.
National park management in Indonesia continues to evolve, particularly in conservation areas inhabited by Indigenous Peoples. Although their role has been increasingly recognized, implementation remains constrained by regulations and management practices that do not fully accommodate their presence, rights, and dependence on natural resources. This situation may reduce management effectiveness and create conflicts between biodiversity conservation and Indigenous Peoples’ livelihood needs. Bukit Duabelas National Park (BDNP) has been closely associated with the Orang Rimba since its designation. For the Orang Rimba, the forest is not only a place of residence but also a source of food, medicine, construction materials, clothing, culture, spirituality, and social identity. However, population growth, sociocultural transformation, increasing interaction with outside communities, economic pressures, and changing resource-use orientations have intensified pressure on the biodiversity of BDNP.
This study employed a mixed-methods approach to formulate an Indigenous Peoples-based national park management strategy that balances the needs of the Orang Rimba with the biodiversity potential and productivity of BDNP. The study covered the identification of biodiversity species and utilization patterns, estimation of biodiversity potential and demand, identification of management problems, stakeholder mapping, and determination of strategic priorities. Data were collected through in-depth interviews, field observations, vegetation analysis, line-transect surveys, document reviews, stakeholder assessments, content analysis, and Landsat imagery analysis. The data were analyzed using qualitative and quantitative descriptive methods, the Driving Forces–Pressures–State–Impacts–Responses (DPSIR) framework, Strengths–Weaknesses–Opportunities–Threats (SWOT) analysis, and the Analytic Hierarchy Process (AHP).
The results show that the Orang Rimba extensively utilize biodiversity resources in BDNP, comprising 74 plant species from 45 families and eight intensively harvested wildlife species. These resources are used for consumption, trade, traditional medicine, construction, clothing, cultural practices, and decorative purposes. In general, utilization remains predominantly subsistence-oriented. The plants identified included 29 food species, 20 medicinal species, 15 construction species, three species used for cultural purposes, one species used for clothing, and six commercially traded species. The assessment of biodiversity potential and demand showed that some plant species remained within sustainable or moderately sustainable categories. However, several species were classified as unsustainable, indicating that their utilization had approached or exceeded their natural regenerative capacity. All wildlife species assessed were categorized as being harvested unsustainably. Estimated annual harvest levels exceeded the natural reproductive capacity of the populations, including protected species such as lesser mouse-deer, muntjac, sambar deer, and great argus. These findings indicate an increasing ecological imbalance between resource use and biodiversity regeneration. Assuming that current utilization patterns remain unchanged and the Orang Rimba population continues to grow, the demand for biodiversity resources is expected to increase in the future, potentially intensifying pressure on the park unless resource utilization is regulated according to the ecological carrying capacity.
A total of 26 stakeholders were identified in the management of BDNP. The three stakeholders with the most direct interests were the BDNP Authority, the Orang Rimba, and communities in surrounding buffer-zone villages. The presence and social development of the Orang Rimba also influence the involvement of other governmental, non-governmental, academic, and community institutions. Therefore, a shared understanding among stakeholders is needed because changes in the Orang Rimba’s social and economic conditions directly affect resource-use patterns within the national park. The DPSIR analysis identified the main management problem as an imbalance between the increasing livelihood needs of the Orang Rimba and the ecological capacity of BDNP to provide biodiversity resources sustainably.
The SWOT analysis placed BDNP management in the Strengths–Threats strategic position, indicating that internal strengths should be used to address external threats. The AHP results identified ecological sustainability as the main priority, followed by economic sustainability and social-institutional sustainability. Three priority strategies were formulated: (a) managing biodiversity utilization based on ecological carrying capacity to balance harvesting levels with the regenerative capacity of natural resources; (b) strengthening customary- and state-based protection systems to regulate and restrict biodiversity utilization and control exploitation pressures; and (c) developing sustainable alternative livelihoods based on non-timber forest products, agroforestry, and environmental services.
The main contribution of this study is the formulation of an Indigenous Peoples-based national park management strategy that integrating dynamic balance across three key dimensions: ecological, socio-economic–customary–cultural, and collaborative governance. The strategy applies the principles of multi-stakeholder collaboration, sustainability, and justice to maintain biodiversity while ensuring living space and livelihood opportunities for Indigenous Peoples. The study also highlights the need to reform conservation management instruments so that they are more adaptive and responsive to the social, cultural, and ecological characteristics of Indigenous Peoples living within conservation areas. The proposed strategy may serve as a reference for other national parks with similar social-ecological conditions and contribute to the development of conservation management approaches that integrate ecological, social, economic, institutional, and cultural dimensions.
Keywords: balance, biodiversity, co-management, management strategy, Orang Rimba. | |
| dc.description.sponsorship | Dana Mandiri | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Pengembangan Strategi Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Masyarakat Adat (Studi Kasus di Taman Nasional Bukit Duabelas) | id |
| dc.title.alternative | Development of an Indigenous Community-Based National Park Management Strategy (A Case Study of Bukit Duabelas National Park). | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | Biodiversitas | id |
| dc.subject.keyword | keseimbangan | id |
| dc.subject.keyword | ORANG RIMBA | id |
| dc.subject.keyword | pengelolaan kolaboratif | id |
| dc.subject.keyword | strategi pengelolaan | id |
| dc.subtype | Dissertations | |