| dc.description.abstract | Emisi metana (CH4) dari lahan sawah merupakan salah satu sumber utama gas rumah kaca di sektor pertanian akibat kondisi tanah yang anaerob. Penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) menjadi strategi efektif untuk menekan emisi CH4 melalui pengaturan kondisi tanah yang lebih aerob secara periodik. Selain itu, penggunaan varietas padi dengan karakter fisiologis tertentu juga berperan penting dalam mengurangi emisi metana sekaligus mempertahankan produktivitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fluks CH4, mengevaluasi pertumbuhan dan produksi padi tipe baru IPB, serta mengkaji produktivitas air pada sistem AWD dengan teknik irigasi permukaan dan bawah permukaan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru IPB menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) pola tersarang (nested design) yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah teknik irigasi, yaitu irigasi bawah permukaan dan irigasi permukaan, sedangkan faktor kedua adalah delapan varietas padi, yaitu IPB 3S, IPB 9G, IPB 12S, IPB 13S, IPB 14S, IPB 15S, Inpari 30, dan Inpari 32. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan berupa petakan berukuran 3 m × 4 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem AWD dengan teknik irigasi bawah permukaan lebih efektif menekan fluks emisi CH4 dibandingkan irigasi permukaan serta mampu mempertahankan kinerja fisiologis tanaman dan produktivitas. Varietas padi menunjukkan respons yang berbeda terhadap teknik irigasi dalam memengaruhi pertumbuhan, karakter fisiologis, biomassa, komponen hasil, produktivitas, fluks CH4, dan produktivitas air. Varietas IPB 9G, IPB 14S, dan IPB 15S menunjukkan potensi sebagai varietas padi rendah emisi karena menghasilkan fluks CH4 yang rendah disertai performa agronomi yang baik. Terdapat interaksi antara teknik irigasi dan varietas padi terhadap fluks CH4, karakter fisiologis, biomassa, beberapa karakter pertumbuhan, komponen hasil, dan produktivitas. Teknik irigasi tidak memengaruhi produktivitas air berbasis evapotranspirasi tanaman (WPETc), sedangkan produktivitas air berbasis total masukan air (WPIR) lebih tinggi pada irigasi permukaan. Oleh karena itu, kombinasi sistem AWD dengan irigasi bawah permukaan, khususnya pada varietas IPB 9G, IPB 14S, dan IPB 15S, berpotensi diterapkan sebagai teknologi budidaya padi rendah emisi. | |