Show simple item record

dc.contributor.advisorUtami, Anisa Dwi
dc.contributor.advisorNurmalina, Rita
dc.contributor.authorSari, Puti Nilam
dc.date.accessioned2026-08-14T06:21:04Z
dc.date.available2026-08-14T06:21:04Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178729
dc.description.abstractIndonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia dan memiliki peran penting dalam perdagangan rumput laut serta karagenan di pasar Internasional. Meningkatnya permintaan global terhadap kedua komoditas tersebut telah mendorong China menjadi salah satu negara importir utama dengan pertumbuhan impor yang tinggi. Kondisi ini menjadikan China sebagai pasar ekspor yang sangat potensial bagi Indonesia, didukung oleh China sebagai negara tujuan utama ekspor rumput laut dan karagenan Indonesia serta kebijakan perdagangan China yang memberikan tarif bea masuk nol persen bagi produk rumput laut dan karagenan dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Namun demikian, kinerja ekspor Indonesia di pasar China masih menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan ekspor kedua komoditas tersbut menunjukkan adanya fluktuasi. Selain itu, pertumbuhan ekspor rumput laut Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan negara pesaing, sedangkan pertumbuhan karagenan Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara pesaing. Terdapat kesenjangan antara permintaan impor China dan kemampuan ekspor Indonesia dalam memenuhinya. Semakin lebarnya kesenjangan tersebut mengindikasikan meningkatnya kontribusi negara eksportir lain, sehingga tekanan persaingan di pasar China menjadi semakin kuat. Apabila Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar secara optimal, maka pangsa pasar Indonesia berpotensi menurun akibat peralihan importir China ke negara pemasok alternatif. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah; (1) Menganalisis struktur pasar rumput laut dan karagenan Indonesia di pasar China, (2) Menganalisis permintaan dan persaingan rumput laut dan karagenan Indonesia di pasar China. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series yang diperoleh dari International Trade Centre (ITC) dengan periode 2012- 2023. Analisis dilakukan terhadap beberapa negara eksportir yang menjadi pesaing Indonesia dalam perdagangan rumput laut dan karagenan di pasar China. Pada komoditas rumput laut (HS 121221), negara pesaing utama Indonesia yang dianalisis meliputi Korea Selatan, Filipina, dan Malaysia. Sementara itu, pada komoditas karagenan (HS 130239), negara pesaing utama Indonesia yang dianalisis meliputi Amerika Serikat, Chili, dan Filipina. Pemilihan negara-negara tersebut didasarkan pada tingginya nilai ekspor ke pasar China selama periode penelitian sehingga mewakili pesaing utama Indonesia dalam perdagangan kedua komoditas tersebut. China dipilih sebagai negara tujuan ekspor Indonesia karena tingginya pangsa ekspor rumput laut dan karagenan Indonesia yang didominasi oleh China dibandingkan negara tujuan ekspor lainnya. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Herfindahl Hirschman Index (HHI) dan Concentration Ratio empat negara eksportir terbesar (CR4) untuk mengukur tingkat konsentrasi dan struktur pasar ekspor rumput laut serta karagenan di China. Selanjutnya, permintaan dan persaingan antarnegara eksportir dianalisis menggunakan model Almost Ideal Demand System (AIDS) untuk menganalisis permintaan dan persaingan rumput laut dan karagenan Indonesia di pasar China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia menguasai rata- rata pangsa pasar rumput laut di China sebesar 84,28 persen selama periode 2012-2023. Meskipun demikian, pertumbuhan pangsa pasar rumput laut Indonesia lebih rendah dibandingkan negara eksportir lainnya,yaitu hanya sebesar 0,56 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih mendominasi pasar rumput laut China, posisi tersebut mulai menghadapi tekanan dari meningkatnya kontribusi negara-negara pesaing. Analisis struktur pasar menggunakan CR4 menghasilkan nilai rata-rata sebesar 98,22 persen dan HHI sebesar 7.318,15 yang menunjukkan bahwa pasar rumput laut di China membentuk struktur pasar oligopoli yang mengarah pada monopoli dan tingkat konsentrasi yang tinggi. Berbeda dengan komoditas rumput laut, pada komoditas karagenan Indonesia tidak hanya menjadi eksportir utama, tetapi juga menunjukkan pertumbuhan pangsa pasar yang paling tinggi. Pertumbuhan tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran dominasi pasar dari Amerika Serikat ke Indonesia, terutama sejak tahun 2018 ketika Indonesia secara konsisten menjadi eksportir karagenan terbesar di China. Analisis CR4 sebesar 74,60 persen dan HHI sebesar 3.092,73 menunjukkan bahwa pasar karagenan di China membentuk struktur pasar oligopoli dan tingkat konsentrasi yang tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Indonesia berhasil memperkuat posisinya sebagai pemasok utama karagenan di pasar China. Hasil analisis permintaan dan persaingan menggunakan model AIDS menunjukkan bahwa permintaan rumput laut dan karagenan Indonesia di pasar China bersifat lebih elastis dibandingkan negara eksportir lainnya di pasar China. Artinya, permintaan rumput laut dan karagenan Indonesia responsif terhadap harga. Dari sisi elastisitas pengeluaran, Indonesia termasuk barang normal dengan nilai elastisitas pengeluaran tertinggi pada kedua komoditas, yang mengindikasikan bahwa peningkatan pengeluaran China akan memberikan keuntungan terbesar bagi Indonesia dibandingkan negara ekspotir lainnya. Analisis elastisitas harga silang menunjukkan bahwa persaingan langsung terjadi antara rumput laut Indonesia dengan Malaysia yang memiliki hubungan substitusi, sedangkan hubungan dengan Korea Selatan dan Filipina bersifat komplementer. Pada komoditas karagenan, persaingan langsung terjadi antara Indonesia dan Filipina, sementara hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat dan Chili bersifat komplementer karena perbedaan jenis karagenan yang diperdagangkan. Oleh karena itu, Indonesia perlu menerapkan strategi harga yang kompetitif melalui peningkatan efisiensi produksi dan distribusi, menjaga kualitas serta kontinuitas pasokan, meningkatkan mutu produk, mengembangkan produk bernilai tambah, serta mengoptimalkan pemanfaatan ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA) dan memperkuat promosi ekspor melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) untuk memperluas akses pasar. Selain itu, Indonesia perlu memperkuat kerja sama perdagangan dengan negara-negara yang memiliki hubungan komplementer guna menjaga stabilitas pasokan dan harga. Dalam menghadapi persaingan dengan negara-negara yang memiliki hubungan substitusi, Indonesia juga perlu melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan kondisi pasar secara berkelanjutan agar mampu merespons perubahan pasar secara cepat dan mempertahankan daya saing ekspor di pasar China.
dc.description.abstractIndonesia is the world's second-largest producer of seaweed and plays a significant role in the international trade of seaweed and carrageenan. Rising global demand for these two commodities has positioned China as one of the world's leading importers, with a high rate of import growth. This situation makes China a highly promising export market for Indonesia, supported by its position as the primary destination for Indonesia's seaweed and carrageenan exports, as well as by China's trade policy, which grants a zero-percent import tariff on seaweed and carrageenan products originating from ASEAN countries, including Indonesia. However, Indonesia's export performance in the Chinese market continues to face several challenges. Exports of both commodities have fluctuated over time. Furthermore, the growth rate of Indonesia's seaweed exports has been relatively lower than that of its major competitors, whereas the growth rate of Indonesia's carrageenan exports has been higher than that of competing countries. There is also a gap between China's import demand and Indonesia's export capacity to meet that demand. The widening of this gap indicates the increasing contribution of other exporting countries, thereby intensifying competitive pressure in the Chinese market. If Indonesia is unable to meet market demand effectively, its market share may decline as Chinese importers shift to alternative suppliers. Based on these circumstances, the objectives of this study are: (1) to analyze the market structure of Indonesian seaweed and carrageenan in the Chinese market; and (2) to analyze the demand for and competition involving Indonesian seaweed and carrageenan in the Chinese market. This study employs secondary time-series data obtained from the International Trade Centre (ITC), covering the period from 2012 to 2023. The analysis focuses on several exporting countries that compete with Indonesia in the Chinese market for seaweed and carrageenan. For seaweed (HS 121221), the major competitors analyzed are South Korea, the Philippines, and Malaysia. For carrageenan (HS 130239), the major competitors include the United States, Chile, and the Philippines. These countries were selected based on their consistently high export values to the Chinese market throughout the study period, making them representative of Indonesia's principal competitors in the trade of both commodities. China was selected as the export destination because it represents the largest market for Indonesian seaweed and carrageenan, accounting for a greater share of Indonesia's exports than any other destination country. The analytical methods employed in this study include the Herfindahl–Hirschman Index (HHI) and the Four-Firm Concentration Ratio (CR4) to measure the degree of market concentration and the market structure of seaweed and carrageenan exports in the Chinese market. Furthermore, demand and competition among exporting countries were analyzed using the Almost Ideal Demand System (AIDS) model to analyze demand and competition among exporting countries in the Chinese market. The results show that Indonesia accounted for an average of 84.28 percent of China's seaweed import market during the 2012–2023 period. However, the growth rate of Indonesia's seaweed market share was lower than that of other exporting countries, averaging only 0.56 percent. These findings indicate that although Indonesia continues to dominate China's seaweed market, its position has come under increasing pressure from the growing presence of competing exporters. Market structure analysis yielded an average CR4 value of 98.22 percent and an HHI value of 7,318.15, indicating that China's seaweed market is characterized by a highly concentrated oligopolistic market structure approaching monopoly. In contrast, in the carrageenan market, Indonesia has not only become the leading exporter but has also recorded the highest growth in market share among competing countries. This growth reflects a shift in market dominance from the United States to Indonesia, particularly since 2018, when Indonesia has consistently been the largest exporter of carrageenan to China. The CR4 value of 74,60 percent and the HHI value of 3,092.73 indicate that China's carrageenan market is characterized by a highly concentrated oligopolistic market structure. These findings suggest that Indonesia has successfully strengthened its position as the leading supplier of carrageenan in the Chinese market. The AIDS model results reveal that the demand for Indonesian seaweed and carrageenan in the Chinese market is more price elastic than that for competing exporters. This implies that the demand for Indonesian seaweed and carrageenan is more responsive to price changes. In terms of expenditure elasticity, Indonesian seaweed and carrageenan are classified as normal goods and exhibit the highest expenditure elasticities among all competing exporters for both commodities. This finding suggests that an increase in China's import expenditure would generate the greatest benefit for Indonesia relative to its competitors. The cross-price elasticity analysis shows that Indonesian seaweed competes directly with Malaysian seaweed, indicating a substitute relationship, whereas seaweed from South Korea and the Philippines exhibits a complementary relationship with Indonesian seaweed. For carrageenan, direct competition occurs between Indonesia and the Philippines, while Indonesia's trade relationship with the United States and Chile is complementary due to differences in the types of carrageenan exported. Therefore, Indonesia needs to implement a competitive pricing strategy by improving production and distribution efficiency, maintaining product quality and supply continuity, enhancing product quality in accordance with market preferences, developing value-added products, and optimizing the utilization of the ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA) while strengthening export promotion through the Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) to expand market access. In addition, Indonesia should strengthen trade cooperation with countries that have complementary trade relationships to maintain supply and price stability. To address competition with countries that have substitute relationships, Indonesia should also continuously monitor price movements and market conditions to respond promptly to market changes and maintain the competitiveness of its seaweed and carrageenan exports in the Chinese market.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleSTRUKTUR PASAR, PERMINTAAN, DAN PERSAINGAN RUMPUT LAUT SERTA KARAGENAN INDONESIA DI PASAR CHINAid
dc.title.alternativeMarket Structure, Demand, and Competition of Indonesian Seaweed and Carrageenan in the Chinese Market
dc.typeTesis
dc.subject.keywordaidsid
dc.subject.keywordConcentration Ratioid
dc.subject.keywordHerfindahl-Hirschman Indexid
dc.subject.keywordKaragenanid
dc.subject.keywordrumput lautid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record