Show simple item record

dc.contributor.advisorAlexandi, Muhammad Findi
dc.contributor.advisorMa'mun
dc.contributor.authorAulia, Aqilatu Rahma
dc.date.accessioned2026-08-14T06:12:32Z
dc.date.available2026-08-14T06:12:32Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178717
dc.description.abstractKeberlanjutan (sustainability) menjadi isu penting dalam pembangunan ekonomi modern, seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Pola pembangunan ekonomi konvensional yang bersifat linear, yaitu mengambil sumber daya, mengolahnya, kemudian menghasilkan limbah, yang dinilai tidak mampu menjamin keberlanjutan lingkungan maupun ekonomi dalam jangka panjang. Keberlanjutan industri mencakup efisiensi sumber daya, pengelolaan lingkungan, dan pencapaian ekonomi. Pada IKM Virgin Coconut Oil (VCO) di Provinsi Sumatera Barat, proses produksi menghasilkan berbagai residu yang sebagian masih dijual langsung tanpa pengolahan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya implementasi model bisnis hijau dan circular economy untuk meningkatkan efisiensi sumber daya, nilai tambah, dan keberlanjutan usaha. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi model bisnis hijau, implementasi circular economy dalam pemanfaatan residu, serta strategi pengembangan berdasarkan peluang dan tantangan IKM VCO. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif pada IKM VCO di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman dengan analisis Green Business Model Canvas, analisis circular economy, SWOT, Gap Analysis, dan analisis finansial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model bisnis hijau mulai berkembang. Sebanyak 80% IKM telah menerapkan green value proposition, green customer segment, channels, dan customer relationships melalui produk alami dan sehat yang menyasar konsumen peduli kesehatan. Semua IKM telah menerapkan green key resources berbasis sumber daya lokal, sedangkan 60% telah menerapkan green revenue streams melalui penjualan residu dan diversifikasi produk turunan VCO. 80% IKM menerapkan green key activities dengan menjaga kualitas produk VCO dan efisiensi produksi, green key partnerships melalui kerja sama dengan berbagai mitra, serta menerapkan green cost structure melalui efisiensi biaya produksi. Pada circular economy, prinsip Reduce, Reuse, dan Repair telah diterapkan oleh 80% IKM, sedangkan recycle dan recover diterapkan oleh 60% IKM. Hanya 10% IKM yang mengolah VCO atau residu menjadi produk turunan. Analisis finansial menunjukkan seluruh IKM memiliki BCR > 1, dan IKM yang melakukan diversifikasi produk memperoleh laba lebih tinggi dibandingkan IKM yang hanya memproduksi VCO. Gap Analysis menunjukkan Revenue Streams serta aspek Recycle dan Recover masih perlu dioptimalkan. Implementasi model bisnis hijau dan circular economy masih menghadapi kendala pengetahuan, modal, kolaborasi antar IKM, teknologi, kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan pasar. Strategi SO menjadi prioritas dengan skor 6,04, melalui pemanfaatan kekuatan bahan baku dan produk alami yang diperkuat dengan penerapan circular economy. Keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada peningkatan pengetahuan, keinginan untuk berinovasi, akses pembiayaan dan pendampingan teknologi dari pemerintah.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Implementasi Model Bisnis Hijau dan Circular Economy pada IKM VCO di Provinsi Sumatera Baratid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordBioekonomi Sirkularid
dc.subject.keywordKeberlanjutanid
dc.subject.keywordmodel bisnis hijauid
dc.subject.keywordIKMid
dc.subject.keywordvcoid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record