Show simple item record

dc.contributor.advisorPravitasari, Andrea Emma
dc.contributor.advisorRilus
dc.contributor.authorHarits, Abdurrahman
dc.date.accessioned2026-08-14T06:08:26Z
dc.date.available2026-08-14T06:08:26Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178710
dc.description.abstractKemiskinan perdesaan masih menjadi tantangan meskipun pembangunan terus dilaksanakan. Keberhasilan Kalurahan Wukirsari sebagai salah satu desa wisata terbaik di tingkat nasional dan internasional belum menjamin pemerataan kesejahteraan hingga tingkat rumah tangga, sementara pendekatan moneter belum mampu menangkap keragaman tekanan penghidupan warga. Penelitian ini mengintegrasikan kemiskinan multidimensi, autokorelasi spasial, dan tipologi rumah tangga untuk menghasilkan arahan intervensi terdiferensiasi berbasis lokasi. Analisis memanfaatkan Data Desa Presisi (DDP) berbasis nama, alamat, dan koordinat pada 5.709 rumah tangga. Kemiskinan diukur dengan Sustainable Livelihood Approach (SLA), pola spasial dianalisis melalui Indeks Moran dan Local Indicators of Spatial Association (LISA), dan tipologi disusun dengan Ward's hierarchical clustering. Hasil menunjukkan sekitar 67,0 persen rumah tangga tergolong miskin atau miskin ekstrem, 29,8 persen mendekati miskin, dan hanya 3,3 persen tidak miskin. Deprivasi paling menekan pada dimensi modal alam, diikuti finansial, sehingga sebagian besar rumah tangga tetap mengalami deprivasi meskipun desa berkembang di sektor pariwisata. Indeks Moran sebesar 0,1760 mengindikasikan rumah tangga dengan kemiskinan serupa cenderung mengelompok, dengan 231 rumah tangga High-High dan 254 rumah tangga Low-Low, sementara sebagian besar tidak menunjukkan asosiasi spasial signifikan. Ward's hierarchical clustering menghasilkan tiga tipologi, yaitu klaster deprivasi multidimensi berat yang didominasi rumah tangga lanjut usia, klaster deprivasi modal alam bercorak non-tani yang menjadi kelompok terbesar, dan klaster yang relatif aman sumber daya. Ketiganya memperoleh arahan intervensi berbeda melalui penargetan dua tahap yang dioperasionalkan dalam Quality Implementation Framework (QIF), mulai dari penilaian konteks dan pemutakhiran data, integrasi perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Integrasi DDP, pengukuran multidimensi, autokorelasi spasial, tipologi rumah tangga, dan QIF menghasilkan arahan yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini tidak sekadar mengidentifikasi rumah tangga miskin, tetapi membedakan bentuk dan skala intervensi menurut profil deprivasinya, sehingga mendukung diferensiasi intervensi yang adaptif dan berkelanjutan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleTipologi dan Pola Spasial Kemiskinan Rumah Tangga Sebagai Dasar Diferensiasi Intervensi di Kalurahan Wukirsari, Kabupaten Bantulid
dc.title.alternativeTypology and Spatial Patterns of Household Poverty as a Basis for Differentiated Interventions in Wukirsari Village, Bantul Regency
dc.typeTesis
dc.subject.keywordAutokorelasi spasialid
dc.subject.keyworddata desa presisiid
dc.subject.keyworddiferensiasi intervensiid
dc.subject.keywordkemiskinan multidimensiid
dc.subject.keywordtipologi rumah tanggaid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record