| dc.description.abstract | Ekosistem mangrove menghadapi tantangan degadasi yang didorong oleh faktor-faktor seperti perluasan budidaya perikanan, perubahan iklim, dan eksploitasi berlebihan sumber daya pesisir serta invasi spesies asing. Invasi species seperti Derris trifoliata saat ini semakin diakui sebagai isu ekologis penting yang dapat mengurangi struktur, fungsi, dan kesehatan ekosistem mangrove bahkan memicu kematian pohon mangrove yang signifikan, termasuk di ekosistem mangrove di Segara Anakan.
Upaya rehabiliasi mangrove telah dilakukan dengan mengacu pada kondisi normal, dimana asumsi ketersediaan propagul berlimpah, persemaian dan penanaman mudah dengan tapak tidak terdegadasi. Hal ini tidak sesuai dengan fakta di lapangan dimana areal yang akan direhabilitasi memiliki banyak keterbatasan, baik kondisi biofisik maupun ketersediaan sumber benih dalam jumlah banyak. Bruguiera gymnorrhiza sebagai salah satu jenis dominan di Segara Anakan yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi, saat ini mengalami ancaman akibat persaingan ruang dengan D. trifoliata. Oleh karena itu B. gymnorrhiza dipilih sebagai spesies pemulih di area terivasi D. trifoliata. Upaya rehabilitasi saat ini harus mampu memberikan solusi atas permasalahan ketersediaan bibit baik terkait informasi sumber pohon induk, teknik penyimpanan benih untuk memperpanjang viabilitas benih, teknik persemaian, dan penanaman diarel yang terinvasi D. trifoliata. Penelitian ini merupakan teknik rehabilitasi ekosistem mangrove terinvasi D. trifoliata di Segara Anakan melalui pendekatan integratif biologis dan teknis berbasis rantai pasok propagul yang menggabungkan empat tahapan utama yaitu melakukan identifikasi pohon sumber benih, teknik penyimpanan propagul, teknik persemaian, dan penanaman di areal terinvasi D. trifoliata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi pohon sumber benih B. gymnorrhiza menunjukkan bahwa terdapat 25 pohon memiliki nilai >60 point yang ditetapan sebagai pohon plus. Pohon tersebut memiliki rata-rata tinggi 7,74 m dan jumlah buah rata-rata ±658 per pohon yang berpotensi sebagai pohon sumber benih. Uji kemiripan sifat fenotipe dan genotipe pohon B. gymnorrhiza menunjukkan individu B. gymnorrhiza memiliki nilai similarity yang tinggi. 0.7-0.85. Sampel tidak mengelompok berdasarkan lokasi sehingga keragaman yang diperoleh lebih dipengaruhi oleh perbedaan individu. Komponen utama Dim 1 didominasi dengan karakter LT, Sa, P, DBU, dan JAC. Sedangkan pada gradien Dim 2 komponen utama di dominasi karakter TT, TBC, dan JCU. Nilai Heretabilitas analisis semua karakter menujukkan 8 karakter nilai heritabilitas sedang dari 0,25 sampai dengan 0,45. Kondisi ini menunjukkan karakter fenotipe lebih besar dipengaruhi oleh lingkungan dan sedikit dipengaruhi oleh faktor genetik. Kondisi menggambarkan bahwa karakter superior pada pohon plus tidak sepeuhnya dapat diwariskan pada generasi berikutnya. Tahapan penelitian selanjutnya yaitu teknik penyimpanan benih, pembibitan dan penanaman menggunakan propagul dari populasi pohon plus yang telah terindentifikasi.
Teknik penyimpanan benih dengan media simpan dan kadar air media sebagai faktor penyimpanan menunjukkan bahwa viabilitas propagul B. gymnorrhiza sangat dipengaruhi oleh waktu simpan, media simpan, dan kadar air media simpan. Penyimpanan hingga 6 minggu masih mampu mempertahankan viabilitas berupa daaya kecambah sebesar 81%. Media arang sekam dengan kadar air media 70% merupakan perlakuan paling efektif memiliki jumlah propagul berakar, daya berkecambah, dan kecepatan tumbuh kecambah, karena mampu menjaga keseimbangan kelembapan dan aerasi media selama penyimpanan.
Teknik pembibitan dilakukan untuk meningkatkan performa bibit B. gymnorrhiza di persemaian menunjukkan bahwa teknik pembibitan B. gymnorrhiza menggunakan kombinasi biostimulan 10 g dan naungan 45% memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pembibitan konvensional (tanpa naungan dan tanpa biostimulan). Biaya pembibitan konvensional tanpa naungan dan biostimulan lebih rendah dibandingkan dengan yang menggunakan naungan dan biostimulan. Namun penggunaan naungan dan biostimulan menujukkan kinerja bibit terbaik yaitu kelangsungan hidup tertinggi 83,93%, tinggi tanaman tertinggi (40,18 cm), jumlah daun tertinggi (18), berat biomassa tertinggi (293,17 g), dan indeks kualitas bibit tertinggi (0,69).
Teknik penanaman B. gymnorrhiza di area terinvasi D. trifoliata dilakukan menggunakan mulsa plastik hitam perak untuk menekan pertumbuhan D. trifoliata dan biostimulan untuk meningkatkan pertumbuhan B. Gymnorrhiza. Hasil penelitian menunjukkan mulsa plastik secara signifikan berpengaruh pada D. trifoliata dalam mengurangi tinggi 11.20 cm kepadatan 57 %) dan biomassa 230,33 g/m2 sekaligus meningkatkan suhu tanah hingga 6°C dibandingkan dengan plot tanpa mulsa. Plot yang diberi mulsa menunjukkan peningkatan pertumbuhan diameter batang B. gymnorrhiza (1,80 cm) relatif lebih tinggi dibandingkan t kontrol tanpa mulsa (1,57 cm). Aplikasi gabungan mulsa dan dosis biostimulan 10 g memberikan keseimbangan paling efektif antara penekanan gulma dan respons pertumbuhan bibit B. gymnorrhiza. Jika dilihat dari sisi biaya maka biaya tanpa perlakuan mulsa dan biostimulan lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan mulsa dan biostimulan. Hal ini disebabkan penerapan mulsa plastik mengurangi biaya operasional tahunan, meskipun investasi awal yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa mengintegasikan pengendalian gulma secara fisik dengan masukan berbasis biologis dapat menekan biaya pemeliharaan dengan pertumbuhan B. gymnorrhiza yang lebih baik.
Secara keseluruhan, penelitian ini telah menghasilkan metode rehabilitasi ekosistem mangrove melalui pendekatan biologi dan teknis pada lahan terinvasi D. trifoliata dengan pendekatan integatif berbasis rantai ketersediaan sumber benih yang menggabungkan empat tahapan utama identifikasi pohon sumber benih, penyimpanan propagul, teknik pembibitan di persemaian, dan teknik penanaman di lapangan sebagai satu sistem terpadu dalam upaya rehabilitasi ekosistem mangrove, khususnya di kawasan yang mengalami tekanan seperti invasi D. trifoliata. | |