| dc.description.abstract | Perubahan iklim merupakan persoalan multidimensional yang muncul dari keterkaitan antara aktivitas produksi, konsumsi energi fosil, perubahan penggunaan lahan, pola pembangunan, dan tekanan terhadap ekosistem. Dalam membangun respons bersama, forum tata kelola iklim global COP memusatkan perhatian pada karbon sebagai emisi gas rumah kaca yang paling dominan. Kebutuhan akan ukuran seragam mendorong penggunaan satuan karbon dioksida ekuivalen dan memusatkan karbon sebagai objek pengukuran, pengurangan, penyerapan, penyimpanan, dan pertukaran dalam tata kelola iklim global. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis arah tata kelola iklim global yang memperkuat pasar karbon; (2) menganalisis respons kelembagaan negara; (3) menganalisis pembentukan paradoks bisnis dan tata kelola iklim global; serta (4) merumuskan proposisi riset tata kelola iklim nonpasar.
Penelitian ini menggunakan metode campuran yang mencakup analisis koding dokumen COP 1–29 serta NDC dan LT-LEDS dari 73 negara. PESTEL digunakan untuk memetakan faktor politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum. Simulasi game theory diterapkan untuk memahami interaksi strategis antarnegara, sementara System-GMM digunakan untuk menganalisis dinamika panel emisi dan variabel kelembagaan. Identifikasi etika, moral, dan keyakinan digunakan untuk menganalisis pembentukan paradoks bisnis dan tata kelola iklim global.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pasar karbon dibentuk sebagai solusi melalui penguatan legitimasi mandat global yang dipatuhi dan diterjemahkan negara ke dalam respons kelembagaannya. Penelitian ini mengonseptualisasikan karbon sebagai komoditas negatif untuk menjelaskan paradoks bisnis: penciptaan nilai melalui perdagangan memerlukan ketersediaan unit karbon dan keberlanjutan transaksi, sedangkan keberhasilan ekologis menuntut penurunan emisi dan penyusutan basis komoditas. Paradoks tata kelola iklim global muncul karena mekanisme pasar dipusatkan pada perdagangan unit karbon, sementara pemanasan global mencakup seluruh gas rumah kaca; kelembagaan dan pasar karbon semakin mapan, tetapi emisi global terus meningkat. Kedua paradoks menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis-administratif tidak secara otomatis membuktikan keberhasilan ekologis. Temuan ini mengarahkan pada proposisi riset tata kelola iklim nonpasar yang menempatkan pemulihan ekologis sebagai dasar tata kelola. | |