Tipologi Perempuan dalam Konservasi Lingkungan Pulau Kelapa Dua, Taman Nasional Kepulauan Seribu
Date
2026Jenis/Type
SkripsiSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
WIJANARKO, NABILA MAULIDYA
Sunkar, Arzyana
Haryanto
Metadata
Show full item recordAbstract
Perempuan memiliki peran dalam konservasi lingkungan, namun belum ada
kajian yang secara sistematis mengkategorikan perempuan berdasarkan
karakteristik dan bentuk partisipasinya di Pulau Kelapa Dua. Penelitian ini
bertujuan mengidentifikasi karakteristik, bentuk partisipasi dalam konservasi
lingkungan, dan merumuskan tipologi perempuan Pulau Kelapa Dua dalam
kegiatan konservasi lingkungan, menggunakan metode wawancara, observasi
partisipatif, dan studi literatur. Data dianalisis secara deskriptif dan diuji
menggunakan chi-square untuk menentukan peubah penciri tipologi. Hasil
penelitian menunjukkan karakteristik perempuan didominasi suku Bugis (93,5%)
asal Sulawesi Selatan, berstatus menikah (100%), ibu rumah tangga (90,3%)
berpendapatan Rp0–Rp1.700.000 (93,1%), usia produktif 28-63 tahun, dan
berpendidikan SMA (46,7%). Bentuk partisipasi meliputi memilah sampah (100%),
menanam dan pembibitan mangrove (masing-masing 32,3%), mengolah sampah
plastik (32,3%), serta hidroponik (3,2%), dengan tingkat keterlibatan berkelompok
(41,9%) dan individual (58,1%). Tipologi perempuan terbagi menjadi empat tipe
berdasarkan peubah penciri lembaga pekerjaan, pendapatan sampingan, dan jenis
kegiatan. Women significantly contribute to coastal environmental conservation;
nevertheless, no comprehensive study has systematically classified them according
to their characteristics and forms of participation on Kelapa Dua Island. This study
identifies women's characteristics, examines their participation in environmental
conservation, and develops a typology of women on Kelapa Dua Island. Data were
collected through interviews, participatory observation, and literature review, then
analysed descriptively and using chi-square to identify the defining variables.
Women on Kelapa Dua Island are predominantly Bugis (93.5%) from South
Sulawesi, married (100%), housewives (90.3%), with incomes of Rp 0–1,700,000
(93.1%), aged 28–63 years, and educated to senior high school level (46.7%).
Participation included waste sorting (100%), mangrove planting (32.3%), plastic
waste processing (32.3%), mangrove seedling cultivation (32.3%), and hydroponic
farming (3.2%). Participants were classified as group-affiliated (41.9%) or
independent (58.1%). The typology comprised four categories defined by
occupation, supplementary income, and type of conservation activity.

