| dc.contributor.advisor | Anwar, Ruly | |
| dc.contributor.advisor | Tondok, Efi Toding | |
| dc.contributor.author | Yusuf, Moh. Auriza | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-13T03:35:55Z | |
| dc.date.available | 2026-08-13T03:35:55Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178503 | |
| dc.description.abstract | Pakis merupakan jenis tanaman hias yang sangat diminati oleh masyarakat setempat dan bahkan diekspor ke luar negeri. Namun, terdapat kendala dalam budidaya tanaman ini, termasuk adanya hama dan penyakit. Pakis yang terserang OPT berisiko tidak dapat dipasarkan karena mempengaruhi nilai estetika produknya secara visual sehingga memiliki toleransi nilai ambang ekonomi yang sangat rendah. Tujuan penelitian ini untuk menginventarisasi hama dan penyakit pada pakis hias serta strategi pengendaliannya. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2024 hingga Oktober 2025 di PT. Florex Farmindo Sukabumi dan PT. Florex Cita Respati Cianjur, Jawa Barat. Metode pengamatan dilakukan sesuai dengan jenis hama dan penyakit, serta menggunakan metode tambahan seperti sweep net, yellow pan trap, dan pitfall trap. Data populasi hama, insidensi dan keparahan penyakit ditabulasi menggunakan Microsoft Office Excel. Selanjutnya data tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif.
Hama serangga yang ditemukan di kedua lokasi adalah wereng, kutu putih, ulat grayak, belalang, dan penggerek batang, sedangkan penyakitnya adalah antraknosa, busuk ujung daun, dan hawar daun. Hama ulat grayak dan belalang menyebabkan kerusakan secara langsung pada tanaman akibat adanya aktivitas makan, sedangkan hama lain seperti wereng, kutu putih, penggerek batang, serta penyakit menyebabkan kerusakan secara bertahap. Gejala serangan penyakit antraknosa biasanya muncul mulai dari pucuk tanaman (daun muda) dan lebih cepat menyebar dibandingkan penyakit lainnya, sehingga menjadi fokus utama dalam pengendalian di tiap lokasi. Populasi arthropoda bermanfaat, baik musuh alami maupun dekomposer masih relatif rendah sehingga tidak banyak serangga yang ditemukan. Faktor yang menyebabkan fenomena tersebut yaitu aplikasi pestisida kimia yang dilakukan secara intensif dan kurangnya upaya untuk melakukan konservasi serangga di lokasi.
Strategi pengendalian disusun secara integrasi mulai dari proses persiapan tanam hingga panen untuk menekan perkembangan hama dan penyakit di kebun. Tahap pembibitan dapat dilakukan dengan cara pemilihan bahan tanam yang sehat, sehingga disarankan dapat menggunakan bibit hasil kultur jaringan setelah diberikan perlakuan tertentu sehingga dapat mengurangi mikroorganisme endofit yang terbawa dalam rimpang. Tahap persiapan lahan dilakukan dengan pembuatan bedengan dan drainase yang baik supaya aliran air tidak terganggu. Tahap pembibitan berkaitan dengan penentuan jarak dan kedalaman tanam yang tepat agar pakis dapat tumbuh dengan optimal serta bedengan tidak terlalu rimbun.
Tahap penyiraman dilakukan dengan interval lima hari sekali untuk menjaga kondisi tanah tetap lembap dan tidak tergenang sehingga dapat menurunkan risiko perkembangan penyakit di kebun. Proses penyiraman dapat dilakukan di bawah kanopi tanaman dan mengurangi penyemprotan secara langsung pada daun, namun jika belum memungkinkan tetap dapat dilakukan secara manual menggunakan selang penyemprotan ketika lahan sudah dibersihkan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. Proses pemupukan dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara pupuk kandang dan kimia sebagai pupuk dasar, kemudian dilanjutkan pupuk kandang dengan interval enam bulan sekali. Penggunaan pupuk kandang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman dan bagi aktivitas mikroorganisme tanah.
Tahap pengendalian OPT yang telah diterapkan di lokasi sebagian besar bersifat preventif, seperti monitoring, sanitasi gulma, pemangkasan daun tua atau sakit, serta pembukaan atau pemasangan paranet dan plastik sungkup. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan interval satu minggu sekali dan tiga hari sekali ketika tingkat serangan hama maupun penyakit tinggi. Aplikasi pestisida secara bijak dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan terutama pada serangga bermanfaat. Upaya tersebut dapat disertai dengan melakukan konservasi musuh alami secara bertahap supaya kondisi ekosistem tetap terjaga dan membantu untuk menekan populasi OPT. Tahap pemanenan dapat berkaitan dengan penyebaran penyakit melalui luka pada tanaman saat pemotongan. serta pakaian maupun peralatan panen sehingga harus dibersihkan setelah digunakan. | |
| dc.description.abstract | Ferns are a highly sought-after ornamental plant among local communities and are even exported internationally. However, cultivation challenges include pests and diseases. Ferns attacked by OPT are at risk of not being marketable because they affect the aesthetic value of the product visually, so they have a very low economic threshold value tolerance. The purpose of this study was to identify pests and diseases in ornamental ferns and identify control strategies. The study was conducted from July 2024 to October 2025 at PT. Florex Farmindo Sukabumi and PT. Florex Cita Respati Cianjur, West Java. Observations were conducted according to the type of pest and disease, and additional methods such as sweep nets, yellow pan traps, and pitfall traps were used. Data on pest populations, incidence, and disease severity were tabulated using Microsoft Office Excel. The data were then presented in tables and analyzed descriptively.
Insect pests found at both locations included planthoppers, mealybugs, armyworms, grasshoppers, and stem borers, while diseases included anthracnose, leaf tip rot, and leaf blight. Armyworms and grasshoppers cause direct damage to plants through their feeding activity, while other pests, such as planthoppers, mealybugs, stem borers, and diseases, cause gradual damage. Symptoms of anthracnose usually appear at the tips of the plants (young leaves) and spread more rapidly than other diseases, making it a primary focus of control at each site. Populations of beneficial arthropods, both natural enemies and decomposers, remain relatively low, resulting in few insect populations. This phenomenon is caused by the intensive application of chemical pesticides and the lack of efforts to conserve insects on-site.
Control strategies are developed in an integrated manner, from planting preparation to harvest, to suppress the development of pests and diseases in the garden. The nursery stage can be carried out by selecting healthy planting material. Therefore, it is recommended to use tissue culture seedlings after specific treatments to reduce endophytic microorganisms carried in the rhizomes. Land preparation involves creating beds and ensuring good drainage to ensure unimpeded water flow. The nursery stage involves determining the appropriate planting distance and depth to ensure optimal fern growth and prevent overcrowding.
Watering is carried out every five days to maintain soil moisture and prevent waterlogging, thus reducing the risk of disease development in the garden. Watering can be done under the plant canopy and direct spraying of leaves is minimized. However, if this is not possible, manual application can be done using a spray hose after the land has been cleared to reduce the risk of disease spread. The fertilization process was carried out using a combination of manure and chemicals as a base fertilizer, followed by manure application every six months. The use of manure is beneficial for meeting plant nutrient needs and supporting soil microbial activity.
The pest and disease control measures implemented at the site are largely preventative, such as monitoring, weed control, pruning old or diseased leaves, and removing or installing shade netting and plastic covers. Chemical control is carried out every week and every three days when pest and disease infestations are high. Pruning pesticide application can minimize negative impacts, especially on beneficial insects. These efforts can be accompanied by gradual conservation of natural enemies to maintain ecosystem health and help suppress pest and disease populations. The harvesting stage can be related to the spread of disease through wounds on plants during cutting. as well as clothing and harvest equipment so they must be cleaned after use. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Inventarisasi hama dan penyakit pada tanaman pakis hias, Rumohra adiantiformis (G. Forst) Ching dan strategi pengendaliannya | id |
| dc.title.alternative | Pests and Disease Inventory of Ornamental Ferns, Rumohra adiantiformis (G. Forst) Ching and their Control Strategies | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Arthropoda | id |
| dc.subject.keyword | patogen | id |
| dc.subject.keyword | pengelolaan hama terpadu | id |
| dc.subtype | Theses | |