Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan Berbasis Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Teluk Banten
Date
2026Author
KN, Aditya Rahman
Kusmana, Cecep
Krisanti, Majariana
Tiryana, Tatang
Ulumuddin, Yaya Ihya
Metadata
Show full item recordAbstract
Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologis,
ekonomi, dan sosial yang penting bagi kehidupan masyarakat. Ekosistem ini
berperan sebagai pelindung pantai, penyaring polutan, pengendali intrusi air laut,
penyimpan karbon, serta habitat bagi berbagai biota akuatik, termasuk kepiting
bakau (Scylla spp.). Kepiting bakau memiliki hubungan erat dengan mangrove
karena memanfaatkan ekosistem tersebut sebagai tempat mencari makan,
berlindung, tumbuh, dan berkembang. Selain berperan dalam penguraian bahan
organik dan siklus nutrien, kepiting bakau juga memiliki nilai ekonomi tinggi bagi
masyarakat pesisir. Oleh karena itu, keberlanjutan kepiting bakau sangat
bergantung pada kondisi habitat mangrove, sedangkan pengelolaan mangrove yang
baik perlu mempertimbangkan keberadaan kepiting bakau sebagai bagian dari
sistem sosial-ekologi pesisir.
Teluk Banten merupakan salah satu kawasan pesisir penting di Provinsi
Banten yang memiliki ekosistem mangrove dan menjadi ruang hidup bagi
masyarakat pesisir. Wilayah ini mencakup Bojonegara, Kramatwatu, Kasemen,
Pontang, dan Tirtayasa. Hutan mangrove di kawasan ini menghadapi tekanan
ekologis dan sosial-ekonomi akibat alih fungsi lahan, reklamasi, perluasan tambak,
permukiman, paparan sampah, pemanfaatan kayu mangrove, serta tekanan terhadap
pemanfaatan sumber daya. Tekanan tersebut berdampak pada perubahan kualitas
habitat, penurunan fungsi ekologis, dan berkurangnya daya dukung mangrove bagi
biota yang berasosiasi dengannya. Informasi mengenai kondisi biofisik mangrove
aktual, bioekologi kepiting bakau, status keberlanjutan pengelolaan, aktor kunci,
variabel pengungkit, serta strategi prioritas pengelolaan di Teluk Banten belum
tersusun secara terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi
pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan berbasis kepiting bakau di pesisir Teluk
Banten.
Metode penelitian disusun secara bertahap sesuai dengan tujuan penelitian.
Kondisi biofisik mangrove dianalisis melalui survei lapangan, analisis vegetasi,
pengukuran kualitas lingkungan, serta analisis citra satelit menggunakan
Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan kriteria tingkat kerusakan
atau kesehatan mangrove. Bioekologi kepiting bakau dianalisis melalui identifikasi
spesies, kelimpahan, keanekaragaman, dominansi, rasio kelamin, hubungan antara
lebar karapas dan berat tubuh, serta Principal Component Analysis (PCA) untuk
melihat asosiasi antara kepiting bakau dan parameter lingkungan. Peran aktor dan
variabel kunci dianalisis menggunakan MICMAC dan MACTOR. Status
keberlanjutan pengelolaan dianalisis menggunakan Multidimensional Scaling
(MDS)/Rapfish pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan,
kemudian diperkuat dengan validasi Monte Carlo dan analisis leverage. Strategi
dirumuskan melalui IFAS, EFAS, SWOT, dan TOWS, sedangkan prioritas strategi
ditentukan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biofisik hutan mangrove di
Teluk Banten berbeda antarlokasi. Total luas mangrove mencapai 694,75 ha,
dengan sebaran terbesar di Pontang (263,10 ha; 37,87%), diikuti Kasemen (152,05
ha; 21,89%), Kramatwatu (115,24 ha; 16,59%), Tirtayasa (109,20 ha; 15,72%), dan
Bojonegara (55,16 ha; 7,94%). Vegetasi didominasi Avicennia alba, A. marina,
Rhizophora mucronata, R. apiculata, dan Sonneratia caseolaris, dengan kerapatan
dan tekanan antropogenik yang bervariasi. COD dan BOD tertinggi terdapat di
Kramatwatu (35,85 dan 2,92 mg/L), sedangkan DO terendah di Bojonegara (4,75
mg/L). Secara umum, Pontang, Kasemen, dan Tirtayasa memiliki kondisi ekologis
relatif lebih baik, sedangkan Bojonegara dan Kramatwatu memerlukan prioritas
pemulihan habitat dan pengendalian tekanan lingkungan.
Bioekologi kepiting bakau di Teluk Banten menunjukkan keberadaan Scylla
spp. berkaitan erat dengan kondisi habitat mangrove dan kualitas lingkungan
perairan. Dua spesies utama yang teridentifikasi adalah Scylla serrata dan Scylla
tranquebarica. Jumlah tangkapan kumulatif Scylla serrata sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan Scylla tranquebarica, tetapi distribusi keduanya tidak merata
di seluruh lokasi pengamatan. Tirtayasa, Pontang, Kasemen, dan Bojonegara masih
mencatat keberadaan kepiting bakau, sedangkan Kramatwatu tidak mencatat
tangkapan selama pengamatan. Pola ini menunjukkan bahwa keberadaan mangrove
secara spasial belum cukup untuk menjamin keberadaan kepiting bakau apabila
kualitas mikrohabitat, kualitas perairan, substrat, konektivitas hidrologis, dan
tekanan pemanfaatan tidak mendukung. Rasio kelamin tangkapan yang didominasi
jantan serta perbedaan pola hubungan antara lebar karapas dan berat tubuh antara
betina dan jantan menunjukkan bahwa struktur populasi perlu diperhatikan dalam
pengelolaan. Hasil PCA menunjukkan bahwa salinitas, turbiditas, TSS, suhu, DO,
pH, COD, dan BOD merupakan gradien lingkungan yang membedakan pola
asosiasi habitat Scylla serrata dan Scylla tranquebarica.
Pengelolaan mangrove berbasis kepiting bakau di Teluk Banten merupakan
sistem sosial-ekologi yang mencakup dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan
kelembagaan. Variabel kunci meliputi pendidikan dan kesadaran, teknologi,
diversifikasi produk, pasar, kesejahteraan, dan manajemen konflik, dengan
akademisi, BKSDA, dan DISKANLUT sebagai aktor strategis. Status
keberlanjutan tergolong cukup berkelanjutan (indeks multidimensi 55,84), dengan
Kasemen tertinggi (71,02), Tirtayasa (62,91), Pontang (60,04), sedangkan
Bojonegara (45,76) dan Kramatwatu (39,49) kurang berkelanjutan. Atribut leverage
utama ialah konflik, akses pasar, kepatuhan nelayan, serta abrasi atau kerusakan
pesisir. Strategi berada pada Kuadran I SWOT (internal 0,73; eksternal 0,43) dan
menghasilkan lima strategi TOWS: rehabilitasi mangrove, rantai nilai kepiting
bakau, kolaborasi multipihak, monitoring digital, serta edukasi dan pengawasan
partisipatif. AHP menetapkan edukasi dan pengawasan sebagai prioritas utama
(0,31), diikuti kolaborasi multipihak (0,23), rehabilitasi (0,21), monitoring digital
(0,15), dan rantai nilai (0,10). Pengelolaan Teluk Banten perlu mengintegrasikan
pemulihan ekosistem, pengaturan pemanfaatan, kelembagaan, dan kesejahteraan
masyarakat secara adaptif dan berkelanjutan. Mangrove forests are coastal ecosystems that provide important ecological,
economic, and social functions for human communities. These ecosystems serve as
coastal protection, pollutant filters, regulators of seawater intrusion, carbon stores,
and habitats for various aquatic organisms, including mud crabs (Scylla spp.). Mud
crabs are closely associated with mangrove ecosystems, which they use as feeding,
sheltering, growing, and breeding grounds. In addition to contributing to organic
matter decomposition and nutrient cycling, mud crabs have high economic value
for coastal communities. Therefore, the sustainability of mud crab populations is
strongly dependent on the condition of mangrove habitats, while effective
mangrove management needs to consider mud crabs as an integral component of
coastal social-ecological systems.
Banten Bay is an important coastal area in Banten Province that contains
mangrove ecosystems and provides living space and livelihoods for coastal
communities. The study area encompasses Bojonegara, Kramatwatu, Kasemen,
Pontang, and Tirtayasa. Mangrove forests in this area face ecological and
socioeconomic pressures resulting from land-use conversion, reclamation,
expansion of aquaculture ponds, settlement development, waste exposure,
mangrove wood utilization, and increasing pressure on resource use. These
pressures have affected habitat quality, reduced ecological functions, and
diminished the capacity of mangrove ecosystems to support associated biota.
However, information on the current bio-physical condition of mangroves, mud
crab bioecology, management sustainability status, key actors, leverage variables,
and priority management strategies in Banten Bay has not yet been
comprehensively integrated. Therefore, this study aimed to formulate a sustainable
mangrove forest management strategy based on mud crabs along the Banten Bay
coast.
The research methods were conducted sequentially according to the research
objectives. Mangrove biophysical conditions were assessed through field surveys,
vegetation analysis, environmental quality measurements, and satellite imagery
analysis using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and criteria for
mangrove damage or health status. Mud crab bioecology was analyzed based on
species identification, abundance, diversity, dominance, sex ratio, relationships
between carapace width and body weight, and Principal Component Analysis
(PCA) to examine associations between mud crabs and environmental parameters.
The roles of actors and key variables were analyzed using MICMAC and
MACTOR. Management sustainability was assessed using Multidimensional
Scaling (MDS)/Rapfish across ecological, economic, social, and institutional
dimensions, supported by Monte Carlo validation and leverage analysis.
Management strategies were formulated using IFAS, EFAS, SWOT, and TOWS,
while strategy priorities were determined using the Analytical Hierarchy Process
(AHP).
The results showed that the biophysical conditions of mangrove forests in
Banten Bay varied among locations. The total mangrove area reached 694.75 ha,
with the largest distribution in Pontang (263.10 ha; 37.87%), followed by Kasemen
(152.05 ha; 21.89%), Kramatwatu (115.24 ha; 16.59%), Tirtayasa (109.20 ha;
15.72%), and Bojonegara (55.16 ha; 7.94%). The vegetation was dominated by
Avicennia alba, A. marina, Rhizophora mucronata, R. apiculata, and Sonneratia
caseolaris, with varying vegetation density and anthropogenic pressures. The
highest COD and BOD concentrations were recorded in Kramatwatu (35.85 and
2.92 mg/L, respectively), while the lowest DO concentration was recorded in
Bojonegara (4.75 mg/L). Overall, Pontang, Kasemen, and Tirtayasa exhibited
relatively better ecological conditions, whereas Bojonegara and Kramatwatu
require greater priority for habitat restoration and environmental pressure control.
The bioecology of mud crabs in Banten Bay indicated that the occurrence of
Scylla spp. was closely associated with mangrove habitat conditions and water
quality. Two main species were identified, namely Scylla serrata and Scylla
tranquebarica. The cumulative catch of Scylla serrata was slightly higher than that
of Scylla tranquebarica, although their distributions were uneven across the
observation sites. Mud crabs were recorded in Tirtayasa, Pontang, Kasemen, and
Bojonegara, whereas no catches were recorded in Kramatwatu during the
observation period. This pattern indicates that the spatial presence of mangroves
alone is insufficient to ensure mud crab occurrence when microhabitat conditions,
water quality, substrate characteristics, hydrological connectivity, and harvesting
pressure are not favorable. The predominance of males in the catch and differences
in the relationships between carapace width and body weight between females and
males indicate that population structure should be considered in management. PCA
results showed that salinity, turbidity, TSS, temperature, DO, pH, COD, and BOD
represented environmental gradients that differentiated habitat association patterns
of Scylla serrata and Scylla tranquebarica.
Mangrove management based on mud crabs in Banten Bay is a social-ecological
system involving ecological, economic, social, and institutional dimensions. The
overall sustainability status was moderately sustainable (55.84), with the highest
index in Kasemen (71.02), followed by Tirtayasa (62.91) and Pontang (60.04),
while Bojonegara (45.76) and Kramatwatu (39.49) were less sustainable. Key
leverage attributes included conflict intensity, market access, fisher compliance,
and coastal abrasion. The SWOT analysis indicated an SO strategy (internal 0.73;
external 0.43), producing five TOWS strategies: mangrove rehabilitation,
sustainable mud crab value chains, multi-stakeholder collaboration, digital
monitoring, and education and participatory monitoring. AHP prioritized education
and monitoring (0.31), followed by multi-stakeholder collaboration (0.23),
mangrove rehabilitation (0.21), digital monitoring (0.15), and the mud crab value
chain (0.10). Sustainable management therefore requires integrated ecosystem
restoration, resource-use regulation, institutional strengthening, and community
welfare improvement.

