| dc.description.abstract | Peningkatan permintaan kopi di pasar domestik maupun dunia mendorong konversi lahan menjadi perkebunan kopi non-agroforestri karena pertimbangan ekonomi jangka pendek. Konversi ini memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, namun berpotensi menurunkan fungsi jasa, terutama jasa pengaturan air, yang nilainya sering kali tidak menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan lahan. Provinsi Lampung, sebagai penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia, menghadapi tekanan konversi lahan tersebut secara nyata di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sekampung Hulu, salah satu DAS prioritas nasional yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan Bendungan Batutegi. Kondisi ini melatarbelakangi perlunya penilaian jasa pengaturan air sebagai dasar penentuan arahan pengelolaan perkebunan kopi yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengelolaan perkebunan kopi berkelanjutan berbasis jasa pengaturan air di DAS Sekampung Hulu, melalui tiga tujuan antara: memetakan tutupan lahan kopi non-agroforestri dan agroforestri pada periode 2000–2023; menduga jasa pengaturan air serta menguji keandalan model pada kedua sistem tanam tersebut; dan menentukan arahan perkebunan kopi berkelanjutan berdasarkan hasil pemodelan berbagai skenario tutupan lahan.
Pemetaan tutupan lahan dilakukan menggunakan citra satelit multi-temporal yang diklasifikasikan dengan algoritma random forest untuk memisahkan kelas kopi non-agroforestri dan agroforestri dari kelas tutupan lahan lain. Pendugaan jasa pengaturan air dilakukan menggunakan model hidrologi berbasis Hydrological Response Unit yang dikalibrasi dan divalidasi menggunakan data debit observasi, dilengkapi dengan analisis sensitivitas parameter untuk mengidentifikasi faktor pengendali utama kinerja model. Model kemudian digunakan untuk mensimulasikan tiga indikator jasa pengaturan air, yaitu limpasan permukaan, hasil air, dan pengisian air tanah, pada kondisi eksisting serta pada beberapa skenario intervensi konservasi tanah dan air dan skenario kesesuaian tata ruang wilayah. Skenario terbaik ditentukan melalui pendekatan pemeringkatan gabungan antarindikator serta perbandingan persentase perubahan terhadap kondisi eksisting.
Hasil klasifikasi tutupan lahan menunjukkan akurasi yang tinggi dan konsisten pada seluruh titik tahun analisis, membuktikan bahwa pendekatan yang digunakan cukup andal untuk merekam dinamika perkebunan kopi. Selama dua dekade terakhir, baik luasan kopi non-agroforestri maupun agroforestri sama-sama menyusut, dengan perluasan pertanian lahan kering campur, pertumbuhan permukiman, dan pembangunan bendungan sebagai pendorong utama perubahan tersebut. Pada sisi pemodelan hidrologi, ditemukan bahwa keandalan model dalam mereproduksi debit aktual di DAS Sekampung Hulu masih rendah, sehingga hasil pendugaan besaran jasa lebih tepat dimaknai sebagai pola perbandingan relatif antarsistem tanam dan antarskenario dibandingkan sebagai nilai mutlak. Temuan ini menjadi catatan penting bagi penerapan model hidrologi serupa pada wilayah DAS dengan karakteristik topografi dan tutupan lahan yang beragam.
Meski demikian, pola relatif yang dihasilkan tetap konsisten dengan mekanisme hidrologis yang berlaku umum pada sistem agroforestri kopi tropis. Limpasan permukaan pada sistem agroforestri secara konsisten lebih rendah dibandingkan non-agroforestri, namun keunggulan ini tidak selalu berlanjut pada indikator hasil air dan pengisian air tanah akibat trade-off antara peningkatan infiltrasi dan peningkatan evapotranspirasi oleh pohon penaung. Berdasarkan pemodelan berbagai skenario, ditemukan bahwa arahan konversi menyeluruh seluruh perkebunan kopi non-agroforestri menjadi agroforestri bukan merupakan pilihan yang paling optimal. Kombinasi terbaik pada tingkat individual diperoleh dari agroforestri yang diarahkan sesuai kesesuaian tata ruang wilayah, sedangkan pada tingkat lanskap, keseimbangan terbaik dicapai melalui konversi terarah kopi non-agroforestri yang berada pada lahan berlereng curam hingga sangat curam menjadi agroforestri, tanpa mengorbankan hasil air secara berarti.
Temuan ini mengimplikasikan bahwa arahan pengelolaan perkebunan kopi berkelanjutan di DAS Sekampung Hulu sebaiknya diarahkan pada pendekatan mozaik lanskap yang menempatkan agroforestri secara spasial-terarah pada lahan rentan erosi dan kawasan lindung, bukan pada kebijakan konversi seragam di seluruh wilayah. Pendekatan ini sejalan dengan kondisi kelembagaan pengelolaan lahan kopi rakyat di kawasan tersebut yang beragam, sehingga lebih realistis untuk diterapkan dan berpotensi memperbaiki fungsi tangkapan air DAS Sekampung Hulu tanpa mengorbankan produktivitas ekonomi masyarakat maupun ketersediaan pasokan air bagi Bendungan Batutegi. | |