Divergensi Preferensi Pasar Global: Analisis Daya Saing, Elastisitas Permintaan, dan Risiko Kualitas Ekspor Pala Indonesia
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Hakim, Baihaqi
Burhanuddin
Rosiana, Nia
Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia menguasai sekitar 75 persen produksi pala dunia, namun keunggulan pasokan ini tidak tercermin dalam pola permintaan yang homogen terhadap pala utuh dan pala bubuk. Pertumbuhan permintaan kedua produk berlangsung divergen dan terkonsentrasi pada kelompok negara tertentu dengan arah yang berlawanan. Pada kelompok negara berpendapatan tinggi (high value market), permintaan bergeser ke produk olahan di tengah pengetatan regulasi keamanan pangan terkait aflatoksin, sedangkan pasar sensitif harga (price-sensitive market) memperlihatkan lonjakan permintaan pala utuh yang ekstrem, terutama pada pasar Tiongkok.
Penelitian ini bertujuan menganalisis daya saing ekspor pala utuh dan pala bubuk pada dua klaster pasar, mengestimasi struktur elastisitas permintaan kedua produk, serta menguji pengaruh regulasi mutu terhadap pangsa permintaan pala Indonesia. Data bersumber dari UN Comtrade periode 2015–2024 pada delapan negara tujuan. Daya saing dianalisis melalui dekomposisi pangsa pasar. Struktur permintaan diestimasi menggunakan sistem Linear Approximate Almost Ideal Demand System dan model double-log, dan pengaruh regulasi diuji melalui variabel dummy yang inferensinya diperkuat wild cluster bootstrap bobot Webb.
Hasil dekomposisi menunjukkan kontras tajam antarklaster. Pada high value market, ekspor pala utuh menyusut dengan agregat perubahan nilai negatif USD7,16 juta akibat efek komposisi produk yang sangat negatif, sementara pala bubuk tumbuh USD2,94 juta dengan efek daya saing positif. Pada price-sensitive market, ekspor pala utuh melonjak USD40,31 juta, tetapi sangat bergantung pada Tiongkok sehingga menimbulkan risiko konsentrasi pasar. Estimasi sistem permintaan mengungkap perbedaan dimana pada tingkat klaster permintaan di high value market inelastis terhadap harga, sedangkan di price-sensitive market elastis, meskipun estimasi per negara menunjukkan keragaman yang jauh lebih lebar. Elastisitas harga silang terkompensasi bernilai positif pada kedua klaster, menandakan pala utuh dan pala bubuk bersifat substitusi, dengan derajat substitusi lebih kuat pada pasar sensitif harga. Temuan baru yang menonjol adalah regulasi mutu berasosiasi negatif dengan pangsa anggaran pala utuh pada high value market; arahnya konsisten namun tidak nyata berdasarkan wild cluster bootstrap karena jumlah klaster kecil, sehingga mengindikasikan pola berbalik, yaitu pengetatan mutu sejalan dengan pergeseran ke produk olahan.
Penelitian ini menegaskan bahwa hilirisasi pala tidak dapat diseragamkan lintas pasar. Strategi yang tepat mengarahkan pala bubuk pada high value market dan menjaga akses pala utuh pada price-sensitive market sambil memitigasi risiko konsentrasi pasar Tiongkok. Investasi pada kepatuhan mutu dan pengendalian aflatoksin menjadi prasyarat untuk mempertahankan sekaligus memperluas akses pasar bernilai tinggi.
Collections
- MF - Economic and Management [3351]

