| dc.contributor.advisor | Siregar, Hermanto | |
| dc.contributor.advisor | Beik, Irfan Syauqi | |
| dc.contributor.advisor | Asmara, Alla | |
| dc.contributor.author | Citarayani, Irma | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-11T06:53:04Z | |
| dc.date.available | 2026-08-11T06:53:04Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178230 | |
| dc.description.abstract | IRMA CITARAYANI. Peran Inklusi Keuangan Terhadap Kinerja Usaha Mikro dan Kecil di Wilayah DKI Jakarta. Dibimbing oleh HERMANTO SIREGAR, IRFAN SYAUQI BEIK, dan ALLA ASMARA.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1 (satu) untuk memberikan informasi mengenai kondisi inklusi keuangan usaha mikro dan kecil (UMK) di wilayah DKI Jakarta serta tujuan 2 (dua), yaitu menguji pengaruh inklusi keuangan tersebut terhadap kinerja UMK di wilayah DKI Jakarta. Adapun tujuan 3 (tiga) dari penelitian ini adalah memberikan rekomendasi rumusan strategi yang dapat membantu mendorong tingkat inklusi keuangan yang berkelanjutan pada UMK di wilayah DKI Jakarta.
Penelitian ini menggunakan kombinasi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pelaku UMK di wilayah DKI Jakarta dan narasumber ahli dengan menggunakan instrumen kuesioner baik secara online maupun offline, sedangkan data sekunder diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Dalam menjawab tujuan 1 (satu) digunakan analisis deskriptif untuk menunjukkan profil pelaku UMK di wilayah DKI Jakarta. Total responden pada penelitian ini adalah 361 responden, sementara hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku UMKM di wilayah DKI Jakarta adalah wanita, yaitu sebesar 61,77% atau 223 responden, sementara gender pria hanya sebesar 38,23%. Adapun pendidikan mayoritas pelaku UMK adalah tamatan SMA sebesar 57,34%, sehingga dapat diyakini bahwa pelaku UMK memiliki kemampuan dalam memahami informasi terkait inklusi keuangan. Sementara itu, dari sisi generasi, generasi mayoritas pelaku UMK dalam penelitian ini adalah generasi Y (generasi berusia antara 29-44 tahun) sebesar 41 %. Lokasi usaha pelaku UMK pada penelitian ini mayoritas berada di Jakarta Timur. Jenis usaha mayoritas pelaku UMK adalah usaha dagang yang disinyalir mudah dilakukan oleh pelaku usaha dengan modal terbatas. Sementara itu, sesuai dengan data BPS (2024), skala usaha para pelaku UMK dalam penelitian ini mayoritas adalah usaha skala mikro yang ditandai dengan jumlah tenaga kerja antara satu sampai dengan empat orang. Mayoritas pelaku UMK dalam penelitian ini menjalankan usahanya sendiri atau dibantu keluarga. Hal ini terjadi karena pelaku UMK memiliki keterbatasan modal untuk membayar gaji pegawai. Pelaku UMK pada penelitian ini, yaitu sebesar 84,49%, telah menggunakan produk dan layanan jasa keuangan. Namun, sebagian besar pelaku UMK tersebut, sebanyak 68,14%, menggunakannya terbatas hanya untuk transaksi keuangan seperti transfer, mobile banking, dan QRIS. Adapun lembaga jasa keuangan yang mayoritas digunakan oleh pelaku UMK adalah lembaga jasa keuangan konvensional sebesar 61,77%. Sementara pelaku UMK yang menggunakan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) Syariah sebesar 22,71%, dan sisanya sebesar 15,51% tidak menggunakan layanan jasa keuangan. Informasi menarik lain yang diperoleh dari responden adalah bahwa para pelaku UMK mayoritas tidak menggunakan produk pinjaman dari lembaga jasa keuangan dengan alasan utama, yaitu karena pelaku UMK tidak memerlukan pinjaman (38,89% ) serta ada sebagian dari pelaku UMK yang memiliki ketidaksesuaian pada keyakinan dan kepercayaan yang dianut sebesar 22,23%.
Hasil penelitian untuk tujuan 2 (dua) diperoleh dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda serta uji interaksi. Hasilnya mengungkapkan bahwa inklusi keuangan yang terdiri dari akses, ketersediaan dan penggunaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMK di wilayah DKI Jakarta. Inklusi keuangan yang baik akan membuka akses yang lebih luas bagi pelaku UMK di wilayah DKI Jakarta untuk mendapatkan modal dan layanan keuangan. Akses yang baik dapat mendorong pelaku UMK untuk menggunakan beragam produk pinjaman dana dan layanan digital sehingga dapat mendukung pertumbuhan UMK semakin baik dari waktu ke waktu dan meningkatkan skala usaha ke skala yang lebih tinggi.
Hasil lain untuk tujuan 2 (dua) menunjukkan bahwa variabel inklusi keuangan bersama-sama dengan variabel gender perempuan serta variabel lama/usia usaha memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMK di wilayah DKI Jakarta. Peranan gender wanita yang signifikan terhadap kinerja UMK memperjelas kedudukan wanita tidak hanya berada pada urusan domestik rumah tangga, tetapi juga pada urusan membangun usaha. Selain itu, faktor usia usaha yang masih baru memiliki kinerja yang positif dibandingkan dengan pelaku UMK yang usia usahanya lebih lama. Hal ini terjadi karena usia usaha yang masih baru cenderung masih berada pada siklus usaha yang bertumbuh dan belum memasuki tahap mature.
Selain itu, dalam penelitian ini juga terungkap bahwa seluruh generasi (generasi baby boomers, generasi X, generasi Y dan generasi Z) yang menggunakan lembaga jasa keuangan memiliki persepsi yang positif dan signifikan terhadap kinerja UMK sehingga peranan inklusi keuangan perlu selalu dijaga dan ditingkatkan agar memberikan dampak positif bagi seluruh pelaku UMK dari berbagai generasi untuk terus bertumbuh dan berkembang .
Adapun tujuan 3 (tiga) terjawab dengan menggunakan bantuan kuesioner dan pengolahan data menggunakan Analytic Network Process (ANP). Berikut adalah urutan strategi peningkatan inklusi keuangan yang perlu dilakukan agar dapat meningkatkan kinerja usaha mikro dan kecil di wilayah DKI Jakarta: (1) strategi penguatan kebijakan dengan persentase kepentingan sebesar 0,354008 (35,40%) ; (2) rencana aksi keuangan dengan persentase kepentingan sebesar 0,327578 (32,76%); dan (3) penguatan pemantauan dan evaluasi dengan persentase hasil sebesar 0,318414 (31,84%). Dari hasil tersebut terlihat bahwa perbedaan persentase kepentingan yang tidak terlalu besar menunjukkan bahwa ketiga strategi tersebut memiliki tingkat kepentingan yang hampir sama, sehingga ketiganya perlu dilakukan secara sinergis antara setiap pemangku kepentingan. | |
| dc.description.abstract | IRMA CITARAYANI. The Role of Financial Inclusion On the Performance of Micro and Small Enterprises (MSEs) in DKI Jakarta Region. Supervised by HERMANTO SIREGAR, IRFAN SYAUQI BEIK, and ALLA ASMARA.
This study aims to describe the financial inclusion conditions for Micro and Small Enterprises in the DKI Jakarta region and to analyze their impact on performance. The ultimate objective of this study is to provide recommendations for developing strategies to enhance financial inclusion in Micro and Small Enterprises in the DKI Jakarta Region.
The data used in this study comprises primary and secondary data. Primary data was obtained from micro and small enterprises in the Jakarta area using both online and offline questionnaires. Secondary data was obtained from the Financial Services Authority (OJK) and the Central Statistics Agency (BPS).
The research results for objective 1 (one) used descriptive analysis to show the profile of Micro and Small Business actors in the DKI Jakarta region. Based on respondent data, the majority of Micro and Small Enterprise actors in the DKI Jakarta area are women (61,77%), while men account for 38,23%. As for education, the majority of Micro and Small Enterprise actors are high school graduates (57,34%), which may help them understand information on inclusive finance. Meanwhile, on the generation side, the majority of Micro and Small Enterprise actors in this study are Generation Y (aged 29-44), accounting for 41% of respondents. The business locations of Micro and Small Enterprise actors in this research are predominantly in East Jakarta. The type of business in which the majority of Micro and Small Business actors engage is trade, which is easy for them to enter with limited capital. Meanwhile, according to BPS data (2024), the ease of access for Micro and Small Business actors in this study is primarily at the micro-scale, with an average of 1-4 employees. The majority of Micro and Small Business actors in this study operate their businesses alone or with their families, as limited capital makes it difficult to pay employees' wages. As many as 84,49% of Micro and Small Business actors in the research use financial services, but among Small and Micro Enterprises actors, 68,14% use them only for transaction finance, such as transfers, mobile banking, and QRIS. As for institutions, the majority of financial services used by Micro and Small Enterprises actors are institutional services from conventional finance, accounting for 61,77%. Meanwhile, Micro and Small Enterprises actors who use Sharia Financial Institutions are 22,71%. The rest, as many as 15,51% of Micro and Small Enterprise actors, do not use finance because they do not need to borrow large amounts of money for their business, and some feel that the financial products and services do not align with their principles.
The results for objective 2 (two) were obtained using multiple linear regression and interaction tests. The results revealed that financial inclusion comprises access, availability, and use of financial services, and these are positively and significantly associated with the performance of Micro and Small Enterprises (MSEs) in the DKI Jakarta Region. Good financial inclusion will provide broad access for Micro and Small Enterprises (MSEs) actors in the DKI Jakarta Region to capital and financial services through diverse loan products and digital services, thereby increasing MSE growth over time and improving business scale.
Other results for goal 2 (two) show that financial inclusion variables, along with female gender and age variables, significantly influence perceptions of MSE performance in DKI Jakarta. The significant role of women's gender in MSE performance clarifies women's position not only on the domestic housewife ladder but also on the business-building ladder. In addition, the age factor, which is still new, shows better performance than MSME actors with longer business ages. This indicates that young businesses are still in the growth cycle, while undeveloped businesses enter the mature stage.
Besides that, this study also revealed that all generations (baby boomers, Generation X, Y, and Z) who use institutional financial services achieve positive and significant performance, so inclusion finance needs to be maintained and continually improved to have a positive impact on all MSE actors across generations.
For objective 3 (three), the answers were obtained through a questionnaire and data processing using SuperDecisions software and Microsoft Excel. The following sequence of financial inclusion improvement strategies is needed to increase the performance of micro and small businesses in the DKI Jakarta area: (1) Strengthening Policy Strategy with a percentage of 0,354008 (35,40%); (2) Financial Action Plan with a percentage of 0,27578 (32,76%); and (3) Strengthening Monitoring and Evaluation with a percentage of 0,318414 (31,84%). The percentage differences are small, so the three strategies are almost identical and should be implemented with strong synergy among all stakeholders. | |
| dc.description.sponsorship | Universitas Darma Persada | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Peran Inklusi Keuangan terhadap Kinerja Keuangan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Wilayah DKI Jakarta | id |
| dc.title.alternative | The Role of Financial Inclusion on the Financial Performance of Micro and Small Enterprises (MSEs) in the DKI Jakarta Region | |
| dc.type | Disertasi | |
| dc.subject.keyword | Inklusi Keuangan | id |
| dc.subject.keyword | Kinerja Usaha | id |
| dc.subject.keyword | Usaha Mikro dan Kecil (UMK) | id |
| dc.subtype | Dissertations | |