Show simple item record

dc.contributor.advisorRilus
dc.contributor.advisorLubis, Djuara P.
dc.contributor.advisorFirdanianty
dc.contributor.authorRosyiidiani, Thalitha Sacharissa
dc.date.accessioned2026-08-11T02:43:36Z
dc.date.available2026-08-11T02:43:36Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178134
dc.description.abstractDiaspora Indonesia di Qatar menghadapi tantangan mempertahankan identitas budaya di tengah sistem sosial Qatar yang terstruktur ketat dan kebijakan imigrasi yang tidak memungkinkan naturalisasi. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi elemen identitas budaya diaspora Indonesia melalui kerangka Communication Theory of Identity (CTI); (2) menjelaskan aspek komunikasi yang memengaruhi pembentukan identitas budaya diaspora; (3) menganalisis perilaku mindfulness komunikasi dalam interaksi antarbudaya; dan (4) menggambarkan pola ekspresi budaya diaspora Indonesia pada lingkup keluarga dan komunitas di Qatar. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan desain kualitatif dominan dan data survei deskriptif sebagai pelengkap kontekstual. Pendekatan kualitatif adalah metode utama yang menghasilkan seluruh temuan substantif, sementara survei kepada 75 responden diaspora Indonesia di Qatar berfungsi untuk memberikan gambaran demografis populasi, kecenderungan sikap mindfulness, dan pola ekspresi identitas budaya secara deskriptif. Survei dilakukan terlebih dahulu sebagai pemetaan konteks, dilanjutkan dengan wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 13 informan yang dipilih secara purposive berdasarkan keragaman profesi, gender, lama tinggal, dan keterlibatan komunitas. Analisis data mengikuti logika abduktif (Tavory & Timmermans, 2014) kerangka CTI dari Hecht (1993) digunakan sebagai sensitizing concepts yang memandu perhatian analitik, dengan SECI (Nonaka dan Takeuchi 1995) sebagai lensa analitik pelengkap yang digunakan secara parsial untuk mendeskripsikan mekanisme transmisi nilai budaya pada lapisan Personal identity dan relational identity. Penelitian dilaksanakan di Qatar pada periode September 2024 hingga Desember 2025. Hasil penelitian menjawab keempat pertanyaan penelitian sebagai berikut. Pertama, identitas budaya diaspora Indonesia di Qatar terbentuk secara berlapis melalui empat dimensi CTI. Pada lapisan personal identity, bahasa Indonesia dihayati sebagai rasa berbangsa yang mengikat afeksi dan diri secara mendalam bukan sekadar alat komunikasi. Pada lapisan relational identity, keluarga berfungsi sebagai arena transmisi nilai lintas generasi yang paling intens melalui mekanisme sosialisasi nilai yang bertahap dan berkelanjutan. Pada lapisan communal identity, komunitas diaspora bertransformasi menjadi imagined community transnasional yang justru memperkuat rasa kebangsaan melalui jarak geografis. Pada lapisan enacted identity, nilai-nilai budaya yang terinternalisasi diwujudkan secara aktif melalui penggunaan bahasa daerah, kuliner tradisional, seni pertunjukan, dan simbol ke-Indonesia-an dalam kehidupan sehari-hari di Qatar. Kedua, aspek komunikasi yang paling menentukan identitas budaya diaspora adalah komunikasi keluarga sebagai ruang transmisi nilai antargenerasi, infrastruktur komunitas sebagai ekosistem reproduksi budaya kolektif, dan kapasitas mindfulness sebagai meta-kapasitas yang memungkinkan identitas tetap kohesif di tengah tekanan budaya dominan. Ketiga, diaspora Indonesia di Qatar menunjukkan kapasitas mindfulness komunikasi yang terkonsolidasi melalui empat strategi adaptif: penerimaan reflektif terhadap realitas struktural, komunikasi demonstratif melalui kompetensi profesional, komunikasi edukatif dan humor taktis sebagai jembatan budaya, serta mindfulness kolektif yang diwujudkan melalui aksi komunal. Keempat, pola ekspresi identitas budaya berlangsung secara simultan di tiga arena keluarga, komunitas diaspora, dan interaksi dengan masyarakat non-Indonesia dengan intensitas dan strategi yang berbeda-beda namun saling menopang. Penelitian ini menghasilkan dua kontribusi konseptual. Pertama, MICRA (Mindful Imagined Communicated Resilience-Agency) sebuah mekanisme generatif yang menggambarkan bagaimana mindfulness tidak bekerja pada satu lapisan CTI saja melainkan melingkupi keempat lapisannya secara simultan, menghasilkan ketangguhan identitas budaya yang adaptif dan tidak defensif. MICRA dirumuskan sebagai sintesis dari keseluruhan temuan Bab V hingga IX dan diajukan sebagai kontribusi teoretis baru yang memperluas CTI dari kerangka deskriptif menjadi kerangka yang dapat menjelaskan mekanisme resilience identitas dalam kondisi diaspora. Kedua, Diplomasi Warga Partisipatoris (DWP) konsep yang lahir dari data empiris yang menggambarkan kapasitas diaspora Indonesia di Qatar sebagai aktor diplomasi budaya non-negara yang bersifat bottom-up. DWP dikonfirmasi melalui pernyataan institusional Duta Besar Indonesia untuk Qatar, apresiasi pemerintah Qatar terhadap kontribusi profesional diaspora, dan terpilihnya Indonesia sebagai mitra Qatar Years of Culture 2023. Temuan ini memperluas CTI dari kerangka analisis identitas menjadi kerangka yang mampu menjelaskan bagaimana praktik komunikasi sehari-hari diaspora menghasilkan kapasitas diplomatik kolektif yang berkontribusi pada pembangunan bangsa.
dc.description.sponsorshipLPDP
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePenguatan Ekspresi dan Identitas Budaya: Studi Communication Theory of Identity (CTI) pada Diaspora Indonesia di Qatarid
dc.title.alternativeStrengthening the Expression and Construction of Cultural Identity: A Communication Theory of Identity (CTI) Study of the Indonesian Diaspora in Qatar
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordcultural identity expressionid
dc.subject.keywordcommunication theory of identityid
dc.subject.keyworddiaspora Indonesiaid
dc.subject.keywordQatarid
dc.subject.keywordmindfulnessid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record