Analisis Sikap dan Aksi Masyarakat Kuranji Hilir terhadap Konservasi Sagu di Kabupaten Padang Pariaman
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Hermanida, Syawalni
Amzu, Ervizal
Hikmat, Agus
Metadata
Show full item recordAbstract
Hilirisasi sagu merupakan proses pengolahan pati sagu menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah. Luas lahan sagu mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur, areal pemukiman, dan usaha pertanian lainnya. Bias pemahaman dan pengalaman masyarakat terhadap nilai-nilai alamiah, manfaat, dan rela menjadi penyebab gagalnya mewujudkan konservasi sagu. Penelitian bertujuan untuk menganalisis sikap dan aksi masyarakat terhadap konservasi sagu berdasarkan pendekatan tri-stimulus AMAR pro-konservasi, menganalisis hubungan karakteristik masyarakat dengan sikap dan aksi konservasi, serta merumuskan strategi konservasi sagu secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2025-Januari 2026 di Desa Kuranji Hilir, Kabupaten Padang Pariaman. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi literatur. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif meliputi karakteristik responden, sikap dan aksi masyarakat, hubungan karakteristik masyarakat dengan sikap dan aksi, serta strategi konservasi sagu.
Responden penelitian didominasi dari kelompok umur lansia awal (34,21%), sedangkan responden paling sedikit terdapat pada kelompok umur dewasa awal (10,53%). Rendahnya responden pada kelompok umur tersebut dikarenakan masyarakat beralih pekerjaan dan merantau ke luar daerah bahkan ke luar kota. Responden laki-laki sebagian besar bekerja sebagai petani sagu, sedangkan responden perempuan bekerja sebagai pengolah maupun pedagang pati sagu dan produk olahannya. Terdapat tiga agroindustri sagu yang terdiri atas dua agroindustri pati sagu (hulu-hilir) dan satu agroindustri sagu untuk pakan ternak. Permintaan sagu untuk pakan ternak berasal dari peternak sapi, peternak kuda bendi, serta pengelola pacuan kuda di beberapa daerah di Sumatera Barat diantaranya Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, dan Sawahlunto.
Konservasi sagu tidak terwujud secara nyata dilapangan. Ketiga kelompok stimulus sagu tidak mendorong terbentuknya sikap dan aksi konservasi petani, pengolah, dan pedagang. Stimulus sagu yang direspon kuat oleh masyarakat yaitu stimulus manfaat tentang nilai manfaat budaya. Masyarakat Kuranji Hilir tidak hanya memanfaatkan sagu sebagai sumber mata pencaharian, melainkan juga memanfaatkannya sebagai bagian dari budaya setempat. Pati sagu menjadi bahan utama untuk pembuatan makanan tradisional yaitu cindua ampiang sagu dan limpiang sagu. Namun, stimulus tersebut belum mendorong masyarakat untuk melakukan aksi konservasi sagu. Penyuluhan dan pendampingan oleh pihak terkait penting dilakukan untuk membangun sikap dan aksi konservasi masyarakat dengan pendekatan tri-stimulus AMAR pro-konservasi serta diperlukan strategi konservasi sagu secara berkelanjutan dan terpadu pada aspek ekonomi, ekologi, kesehatan, sosial-budaya, dan regulasi serta kelembagaan untuk mewujudkan pelestarian sagu dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Collections
- MF - Forestry [1611]

