Preferensi dan Kesediaan Konsumen dalam Membayar Bubuk Kaldu Jamur non-MSG
Abstract
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola konsumsi sehat telah mendorong perubahan preferensi konsumen ke arah produk pangan yang Lebih alami, aman, serta minim penggunaan bahan tambahan sintetis. Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah penggunaan monosodium glutamate (MSG) dalam produk pangan olahan, sehingga mendorong berkembangnya alternatif produk yang dianggap lebih sehat, seperti bubuk kaldu jamur non-MSG. Meskipun permintaan terhadap produk pangan sehat terus meningkat, informasi mengenai atribut produk bubuk kaldu jamur non-MSG yang paling diprioritaskan konsumen serta besarnya nilai ekonomi yang bersedia dibayarkan terhadap atribut tersebut masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan produsen belum memiliki dasar empiris yang kuat dalam mengembangkan produk maupun menetapkan strategi harga.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut bubuk kaldu jamur non-MSG, mengestimasi nilai WTP untuk setiap atribut, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan membayar tersebut. Penelitian dilaksanakan pada periode Januari - Maret 2026 dengan melibatkan dua ratus responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling di wilayah Jabodetabek. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring dengan pendekatan Discrete Choice Experiment. Pendekatan ini memungkinkan analisis trade-off konsumen antar atribut produk serta estimasi nilai ekonomi setiap atribut, yang kemudian dikombinasikan dengan analisis regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan membayar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan perempuan, berusia produktif, sudah menikah, berstatus sebagai pekerja, serta memiliki pendapatan rata-rata UMR atau lebih. Analisis preferensi mengindikasikan bahwa atribut jenis kaldu jamur merupakan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian, diikuti oleh atribut komposisi, cita rasa, dan desain kemasan. Konsumen cenderung memilih produk yang berlabel non-MSG, tidak mengandung bahan pengawet sintetis, memiliki cita rasa umami yang kuat dari ekstrak jamur, serta dikemas secara menarik dan informatif. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen lebih memprioritaskan atribut yang berkaitan dengan kesehatan dibandingkan atribut lainnya.
Hasil estimasi WTP menunjukkan bahwa atribut jenis kaldu jamur non-MSG memiliki nilai WTP tertinggi sebesar Rp17.136 per kemasan botol 40 gram, diikuti oleh atribut klaim kesehatan tanpa bahan pengawet sintetis sebesar Rp9.488, atribut cita rasa umami kuat sebesar Rp5.735, serta atribut desain kemasan cerah dan berklaim manfaat sebesar Rp2.587. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi terhadap atribut yang berkaitan dengan kesehatan dibandingkan atribut lainnya. Kemudian faktor yang memengaruhi kesediaan membayar konsumen dipengaruhi oleh status pernikahan yaitu oleh konsumen yang sudah menikah dan pengetahuan konsumen terhadap produk. Sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran konsumen akan adanya produk di pasar.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, produsen disarankan untuk memfokuskan pengembangan produk pada penguatan atribut kesehatan, khususnya melalui klaim non-MSG dan penggunaan bahan alami tanpa pengawet sintetis, tanpa mengabaikan kualitas cita rasa serta penyajian kemasan yang informatif. Selain itu, tingginya nilai WTP terhadap atribut kesehatan mengindikasikan adanya peluang untuk menerapkan strategi penetapan harga premium yang sejalan dengan nilai tambah yang dirasakan oleh konsumen. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian mengenai preferensi dan kesediaan membayar konsumen terhadap produk pangan sehat, khususnya bubuk kaldu jamur non-MSG di Indonesia.
Collections
- MF - Economic and Management [3352]

