Pengembangan Zonasi Perikanan Gurita Biru (Octopus cyanea) di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu
Date
2025Author
Tarigan, Daniel Julianto
Simbolon, Domu
Taurusman, Am Azbas
Imron, Mohammad
Metadata
Show full item recordAbstract
Kabupaten Kaur merupakan salah satu daerah yang memiliki sumber daya gurita yang dominan di Provinsi Bengkulu. Namun demikian, nelayan semakin sulit menangkap gurita di perairan Kabupaten Kaur akibat penurunan hasil tangkapan. Kondisi ini mendorong penerapan sistem buka-tutup daerah penangkapan. Praktik penangkapan dilakukan secara intensif tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan, termasuk ketidaktahuan nelayan terhadap ukuran layak tangkap. Selain itu, keterbatasan informasi ilmiah mengenai siklus hidup gurita, serta kurangnya pengetahuan nelayan tentang lokasi penangkapan potensial semakin memperburuk kondisi. Di sisi lain, belum adanya kebijakan zonasi penangkapan yang efektif dari pemerintah turut berkontribusi terhadap permasalahan ini. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai indeks kesesuaian daerah penangkapan dan spawning area gurita sebagai dasar pengelolaan berkelanjutan.
Penelitian ini mengkaji secara komperehensif mengenai zonasi penangkapan gurita melalui tahapan analisis yang sistematis. 1) profil atau gambaran umum berdasarkan aspek teknologi penangkapan, biologi dan lingkungan perairan. Kemudian dilanjutkan dengan 2) Menyusun kriteria evaluasi perikanan gurita berkelanjutan berbasis teknologi, biologi dan lingkungan gurita. 3) menentukan indeks kesesuaian daerah penangkapan dan pemijahan gurita. Terakhir, menentukan zonasi wilayah untuk kawasan spawning area dan daerah penangkapan potensial gurita di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara nelayan, observasi lapangan, studi literatur, dan penginderaan jauh. Analisis profil perikanan gurita di Kabupaten Kaur dilakukan secara deskriptif berdasarkan tiga aspek, yaitu teknologi, biologi dan lingkungan perairan. Kriteria evaluasi keberlanjutan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan metode multi criteria analysis (MCA), literature review, dan pembobotan (scoring) pada aspek teknologi, biologi dan lingkungan perairan. Indeks kesesuaian daerah penangkapan dan pemijahan gurita dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan pembobotan (scoring). Penentuan zona penangkapan dan pemijahan gurita dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perikanan gurita di wilayah Kabupaten Kaur tergolong dalam kategori (small-scale fisheries). Perikanan gurita Kabupaten Kaur didominasi oleh armada perahu berukuran <5 GT, alat tangkap berupa pancing ulur dengan umpan buatan, dan tombak, serta pola operasi penangkapan one day fishing. Total hasil tangkapan selama 9 bulan mencapai 2.913 individu dengan dominasi gurita betina sebanyak 1.781 individu dibandingkan jantan sebanyak 1.132 individu. Tingkat kematangan gonad menunjukkan bahwa individu dewasa relatif sedikit, yaitu hanya 15 individu jantan pada TKG III dan 7 individu betina pada TKG III dan IV, sehingga mengindikasikan dominasi gurita yang belum matang gonad dalam hasil tangkapan. Nilai length at first maturity (Lm) diperoleh sebesar 11 cm untuk jantan dan 14 cm untuk betina, dengan bobot individu matang gonad masing-masing sebesar 510 g dan 710 g. Rata-rata panjang mantel gurita yang tertangkap adalah 10,2 cm, dengan kisaran panjang 3–23 cm, serta total biomassa tangkapan mencapai 2.000 kg (2 ton). Bobot individu berkisar antara 100 g hingga 3.350 g. Estimasi spawning potential ratio (SPR) sebesar 0,12 (12%) menunjukkan bahwa stok gurita berada dalam kondisi overexploited. Perairan Kabupaten Kaur memiliki kandungan klorofil-a sebesar 0,344 mg/m³, suhu berkisar antara 28–34°C, salinitas 31–32 psu, dan oksigen terlarut (DO) antara 6,2–7,6 mg/L. Habitat gurita umumnya ditemukan pada ekosistem terumbu karang (baik hidup maupun mati), substrat berpasir, karang patahan, lamun, dan dasar berbatuan, dengan kedalaman penangkapan berkisar antara 0,5 hingga 20,0 meter. Kondisi lingkungan perairan masih mendukung kehidupan gurita, namun tekanan penangkapan yang tinggi tercermin dari rendahnya proporsi individu matang gonad dan nilai SPR yang rendah.
Kajian ini menemukan bahwa kriteria evaluasi kebelanjutan gurita pada aspek teknologi terdiri dari 9 yaitu tingkat selektivitas alat tangkap, dampak terhadap habitat dan organisme lain, mutu hasil tangkapan, keselamatan nelayan, keamanan produk bagi konsumen, tingkat pembuangan hasil tangkapan, dampak terhadap keanekaragaman hayati, penangkapan spesies dilindungi atau terancam punah, serta penerimaan sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek teknologi tergolong sangat ramah lingkungan. Kriteria yang digunakan pada aspek meliputi bobot individu, length at first maturity (Lm), spawning potential ratio (SPR), tingkat kematangan gonad, dan nisbah kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan biologi berada pada kategori rendah dengan nilai keberlanjutan sebesar 1,20. Selanjutnya, kriteria evaluasi pada aspek lingkungan meliputi suhu perairan, klorofil-a, kedalaman, oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO), dan salinitas. Hasil penilaian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian lingkungan habitat gurita berada pada kategori baik dengan nilai keberlanjutan sebesar 3,00. Hal ini menunjukkan kondisi lingkungan perairan Kabupaten Kaur yang sesuai untuk habitat gurita.
Indeks kesesuaian daerah penangkapan gurita disusun berdasarkan tiga komponen utama, yaitu teknologi penangkapan, aspek biologi, dan kondisi lingkungan perairan. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks teknologi penangkapan mencapai nilai 105, indeks biologi sebesar 52, dan indeks lingkungan perairan sebesar 75, sehingga total indeks kesesuaian daerah penangkapan sebesar 232. Sementara itu, indeks kesesuaian daerah pemijahan dihitung berdasarkan dua komponen, yaitu biologi dan lingkungan perairan, dengan nilai masing-masing sebesar 58,5 dan 165, sehingga menghasilkan total indeks sebesar 223,5. Distribusi habitat Octopus cyanea menunjukkan pola sebaran yang tidak acak dan cenderung mengelompok (clustered), yang dipengaruhi oleh ketersediaan habitat bentik yang sesuai. Pola distribusi ini berimplikasi pada meningkatnya kerentanan terhadap tekanan penangkapan yang terfokus pada lokasi-lokasi tertentu. Area pemijahan teridentifikasi terkonsentrasi di perairan Benteng Harapan yang secara ekologis memiliki tingkat kesesuaian habitat yang tinggi, meskipun secara biologis masih menunjukkan indikasi tekanan terhadap keberlanjutan populasi. Daerah penangkapan gurita di Kabupaten Kaur tersebar di wilayah Linau, Dermaga, Pelabuhan, dan Muara Jaya, yang secara umum termasuk dalam kategori potensial hingga potensial sedang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah perairan tersebut masih mendukung aktivitas penangkapan gurita, namun perlu pengelolaan berbasis zonasi penangkapan dan pemijahan untuk menjamin keberlanjutan sumber daya dalam jangka panjang.
Collections
- DF - Fisheries [797]

