Integrasi Ekologi Trenggiling (Manis javanica) pada Lanskap Restorasi Taman Nasional Way Kambas untuk Edukasi Konservasi
Abstract
Trenggiling (Manis javanica) merupakan satwa dilindungi yang terancam punah sehingga memerlukan pengelolaan konservasi berbasis data ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola distribusi, menganalisis tingkat kesesuaian habitat, menganalisis karakteristik ekologi perilaku, serta hubungan antara distribusi, kesesuaian habitat dan ekologi perilaku, dan menyusun konsep edukasi konservasi berbasis bukti. Data dikumpulkan melalui survei eksplorasi, camera trap, analisis open grid, wawancara, kuesioner, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan 457 tanda keberadaan Trenggiling, dengan 161 titik pengamatan yang termasuk ke dalam kategori habitat sesuai. Habitat yang paling sering dimanfaatkan berupa hutan rawa dengan vegetasi rapat, sumber pakan melimpah, dan gangguan manusia rendah. Aktivitas yang paling dominan adalah berjalan dan mencari makan pada malam hari. Temuan penelitian ini menjadi dasar penyusunan papan interpretasi dan website sebagai media edukasi konservasi berbasis bukti untuk mendukung pengelolaan kawasan restorasi. The Sunda Pangolin (Manis javanica) is a protected and critically endangered species that requires conservation management based on scientific evidence. This study aimed to analyze the species' distribution patterns, assess habitat suitability, examine its behavioral ecology, investigate the relationships among distribution, habitat suitability, and behavioral ecology, and develop an evidence-based conservation education concept. Data were collected through exploratory surveys, camera trap observations, open-grid analysis, interviews, questionnaires, and literature review. The results recorded 457 signs of Sunda Pangolin presence, with 161 observation points classified as suitable habitat. The habitat most frequently utilized by the species was swamp forest characterized by dense vegetation, abundant food resources, and low levels of human disturbance. The most dominant activities observed were locomotion and foraging during nighttime. These findings provide the scientific basis for the development of interpretive signage and a website as evidence-based conservation education media to support the management of the restoration area.
Collections
- UF - Ecotourism [359]

