Identifikasi Bakteri dan Kaitannya dengan Produksi dan Ekonomi pada Budidaya Ikan Lele Clarias sp. di Kota Bandung
Date
2026Author
Permata, Putri Ryanda
Diatin, Iis
Ramadhani, Dian Eka
Metadata
Show full item recordAbstract
Budidaya ikan lele merupakan salah satu usaha perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomi penting, namun keberadaan bakteri dapat memengaruhi aspek produksi dan ekonomi usaha. Penelitian terapan ini bertujuan mengidentifikasi bakteri pada budidaya ikan lele Clarias sp. di Kota Bandung, mendeskripsikan kualitas air dan gejala klinis ikan, serta mengkaji kaitannya dengan aspek produksi dan ekonomi. Kegiatan dilaksanakan pada empat wilayah budidaya, yaitu Bandung Selatan, Bandung Barat, Bandung Timur, dan Bandung Utara. Analisis bakteri dilakukan menggunakan metode Total Plate Count (TPC), uji Gram, dan uji biokimia. Hasil menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri berkisar 7,1–7,9 × 107 CFU/mL dengan genus yang teridentifikasi yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Nilai R/C ratio berkisar antara 1,2–3,0 dengan keuntungan tertinggi sebesar Rp141.788.786 di Bandung Utara dan terendah sebesar Rp9.194.357 di Bandung Selatan. Seluruh lokasi menunjukkan nilai R/C ratio >1, yang mengindikasikan bahwa usaha budidaya ikan lele layak secara ekonomi. Catfish farming is an important freshwater aquaculture business, but the presence of bacteria may affect its production and economic performance. This applied study aimed to identify bacteria in catfish Clarias sp. farming in Bandung City, describe water quality and fish clinical signs, and examine their relationship with production and economic aspects. The study was conducted in four farming areas: South Bandung, West Bandung, East Bandung, and North Bandung. Bacterial analysis was performed using the Total Plate Count (TPC) method, Gram staining, and biochemical tests. The results showed that bacterial abundance ranged from 7.1–7.9 × 107 CFU/mL, with the identified genera being Aeromonas sp. and Pseudomonas sp. The R/C ratio ranged from 1.2 to 3.0, with the highest profit of Rp141,788,786 in North Bandung and the lowest of Rp9,194,357 in South Bandung. All locations showed an R/C ratio of >1, indicating that catfish farming is economically viable.

