Analisis Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Respons Hidrologi Sub DAS Cimanuk Hulu Menggunakan Model SWAT
Date
2026Author
Mayangsari, Latifah Dewi
Dasanto, Bambang Dwi
Ridwansyah, Iwan
Metadata
Show full item recordAbstract
Pertambahan jumlah penduduk yang mendorong perubahan penggunaan
lahan turut berdampak terhadap respons hidrologi DAS, termasuk Sub-DAS
Cimanuk Hulu yang berperan sebagai pemasok utama Waduk Jatigede. Penelitian
ini bertujuan menganalisis perubahan penggunaan lahan Sub-DAS Cimanuk Hulu
pada tahun 2006, 2011, 2016 dan 2021 serta dampaknya terhadap respons hidrologi.
Penggunaan lahan diklasifikasikan melalui klasifikasi terbimbing citra Landsat,
sedangkan simulasi neraca air dilakukan menggunakan model Soil and Water
Assessment Tool (SWAT). Model dikalibrasi dan divalidasi melalui SWAT-CUP
SUFI-2 menggunakan data debit observasi tahun 2011 dan 2012. Model
menunjukkan kinerja baik pada skala bulanan dengan nilai NSE sebesar 0,68
(kalibrasi) dan 0,71 (validasi). Penggunaan lahan ladang mendominasi dan
mengalami peningkatan selama periode 2006–2021 dengan persentase sebesar
36,22% menjadi 39,96%. lahan terbangun secara konsisten mengalami kenaikan
dari 4,80% menjadi 10,40%, sedangkan hutan dan sawah mengalami penurunan
berturut-turut dari 31,77% menjadi 27,75% dan dari 21,58% menjadi 16,73%.
Respons hidrologi di Sub-DAS Cimanuk Hulu akibat dampak perubahan
penggunaan lahan ditunjukkan oleh peningkatan surface runoff dan Curve Number
secara konsisten sepanjang periode simulasi, penurunan baseflow secara konsisten, serta lateral flow yang relatif stabil, sementara water yield atau hasil air relatif stabil
pada kisaran 967,81–973,77 mm/tahun. Population growth that drives land use change also affects the hydrological
response of watersheds, including the Upper Cimanuk Sub-Watershed, which
serves as the main water supplier for the Jatigede Reservoir. This study aims to
analyze land use change in the Upper Cimanuk Sub-Watershed in 2006, 2011, 2016,
and 2021 and its impact on hydrological response. Land use was classified through
supervised classification of Landsat imagery, while water balance simulation was
carried out using the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model. The model
was calibrated and validated using SWAT-CUP SUFI-2 based on observed
discharge data from 2011 and 2012. The model showed good performance at the
monthly scale, with NSE values of 0.68 (calibration) and 0.71 (validation). Dryland
farming (ladang) dominated the land use and increased during the 2006–2021
period, from 36.22% to 39.96%. Built-up land consistently increased from 4.80%
to 10.40%, while forest and paddy field (sawah) areas decreased from 31.77% to
27.75% and from 21.58% to 16.73%, respectively. The hydrological response in
the Upper Cimanuk Sub-Watershed resulting from land use change was reflected
in the consistent increase of surface runoff and Curve Number, the consistent
decrease of baseflow, and relatively stable lateral flow, while water yield remained
relatively stable, ranging from 967.81 to 973.77 mm/year.

