Model Pembangunan Desa Berwawasan Kesehatan
Date
2026Author
Alawi, Masykur
Fauzi, Akhmad
Rustiadi, Ernan
Rahma, Hania
Metadata
Show full item recordAbstract
Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Secara eksplisit, pembangunan menekankan pada pengembangan sumber daya manusia, baik secara fisik maupun mental, yang berarti meningkatkan kapasitas dasar Masyarakat. Menurut United Nations Development Programme (UNDP), pembangunan manusia diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang meliputi tiga dimensi utama: umur panjang dan sehat, pengetahuan, serta standar hidup yang layak. Data dari World Bank (2020) menunjukkan bahwa negara-negara dengan IPM tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil dan tingkat kemiskinan yang rendah, hal ini mengindikasikan bahwa investasi dalam pembangunan manusia memiliki korelasi positif dengan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai contoh, negara-negara Skandinavia yang menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama mampu menciptakan masyarakat yang produktif dan inovatif. Kesehatan merupakan salah satu dimensi utama pembangunan manusia sekaligus indikator penting keberhasilan pembangunan nasional (Faqihudin, 2010; Rustiadi et al., 2018; Yektiningsih, 2018). Dalam konteks ini, kesehatan tidak hanya dipahami sebagai ketiadaan penyakit, tetapi mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang holistic (Hadi et al., 2023).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten sukabumi menempati rangking 23 dari 27 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat (Kemenkes RI, 2019), Di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah dengan indikator kesehatan yang rendah (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2022), dalam Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) dalam Peringkat Kabupaten/Kota di ProviISG Jawa Barat pada tahun 2013 Kabupaten Sukabumi berada pada peringkat ke-21 dengan skor 0.5167, sementara pada tahun 2018 berada pada peringkat ke-24 dengan skor 0.6057, hal ini menunjukan ada masalah Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sukabumi.
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis Indeks Derajat Kesehatan Masyarakat Desa, 2) Menganalisis Faktor-Faktor yang dapat Menjelaskan Keragaman Derajat Kesehatan Masyarakat Desa, 3) Menganalisis Model Pembangunan Desa Berwawasan Kesehatan.
Penelitian ini menggunakan 3 (Tiga) metode yaitu pertama untuk menentukan Derajat Kesehatan Masyarakat disusun Indeks Komposit, Indeks kesehatan masyarakat ditentukan oleh 3 variabel, yaitu indeks non-mortalitas (kematian ibu, kematian bayi, dan kematian balita), indeks non-morbiditas (hipertensi, diabetes, penderita gangguan jiwa, pneumonia, HIV, diare, dan TBC) serta indeks status gizi (malnutrisi < -2 SD dan < -3 SD, stunting, gizi lebih, dan Kekurangan Energi Kronis). Kedua untuk menunjukkan adanya keragaman signifikan dalam Indeks Derajat Kesehatan Masyarakat (IDKM) antar kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Disparitas ini mencerminkan adanya perbedaan kombinasi faktor determinan kesehatan di tiap wilayah. Ketiga untuk menentukan Model Pembangunan Desa Berwawasan Kesehatan Berdasarkan integrasi Skenario 1 hingga 5 yang dianalisis
menggunakan pendekatan MULTIPOL, dapat disimpulkan bahwa pembangunan desa berwawasan kesehatan memerlukan pendekatan yang holistik, terstruktur, dan terintegrasi. Metode MULTIPOL memungkinkan identifikasi sistematis terhadap keterkaitan antara skenario, kebijakan, dan aksi, sehingga setiap intervensi dapat dipetakan dengan jelas dan saling mendukung.
Kecamatan dengan skor indeks derajat kesehatan masyarakat (IDKM) tertinggi adalah Kecamatan Curugkembar sebesar 85,29 dan terendah adalah Kecamatan Tegalbuleud sebesar 52,57. Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat, indeks non-mortalitas, indeks non-morbiditas, dan indeks status gizi dikategorikan ke dalam 5 kategori (sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah). Persentase terbesar INMO diklasifikasikan sebagai sedang sebesar 42,55%, persentase terbesar INMB diklasifikasikan sebagai sedang sebesar 44,68%, persentase terbesar ISG diklasifikasikan sebagai sedang sebesar 17%, dan persentase terbesar IDKM diklasifikasikan sebagai sedang sebesar 40,43%. Evaluasi Indeks Derajat Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Sukabumi bertujuan untuk menilai dan memetakan keberhasilan pembangunan kesehatan, serta memberikan wawasan berharga bagi pengambilan kebijakan daerah. Penelitian ini menggunakan empat dimensi indeks untuk evaluasi: Indeks Non-Mortalitas (INMO), Indeks Non-Morbiditas (INMB), Indeks Status Gizi (ISG), dan Indeks Derajat Kesehatan Masyarakat (IDKM). Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kecamatan di wilayah Sukabumi masuk dalam kategori menengah untuk kesehatan masyarakat, dengan skor antara 36,2 dan 44,7. Terdapat kesenjangan kesehatan masyarakat yang mencolok antara wilayah selatan dan utara, dengan wilayah selatan umumnya menunjukkan skor indeks yang lebih tinggi.
Analisis dengan Crisp-Set Qualitative Comparative Analysis (QCA) mengungkap bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta sanitasi merupakan determinan paling konsisten yang mendukung pencapaian IDKM tinggi. Sementara itu, fasilitas kesehatan dan anggaran hanya efektif apabila disertai dengan penguatan perilaku dan lingkungan sehat. Selain itu, variabel kemiskinan ekstrem tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam Indeks Derajat Kesehatan Masyarakat (IDKM) untuk kondisi wilayah yang memiliki faktor perilaku dan sanitasi dalam kondisi baik.
Upaya perubahan perilaku hidup sehat, penyehatan lingkungan, penguatan layanan kesehatan primer, serta tata kelola dan pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara sinergis. Seluruh proses ini diperkuat dengan keberpihakan pada kelompok rentan, memastikan bahwa pembangunan tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan tetapi juga menjamin pemerataan dan keadilan bagi seluruh masyarakat desa. Dengan demikian, melalui analisis MULTIPOL, model pembangunan desa berwawasan kesehatan dapat dirumuskan secara lebih komprehensif, terarah, dan berkelanjutan.
Kata kunci : QCA, Indeks Komposit, Multipol, Pembangunan Desa, Kesehatan

